Friday, March 15, 2019

Pre-Departure Training Australia Awards Indonesia Okt 2018-Mar 2019

Jumat, 8 Maret 2019, saya resmi lulus program Pre-Departure Training (PDT) Australia Awards Indonesia setelah 4.5 bulan. 

Lama? 
Lumayan sih. Sebenarnya ada banyak drama dan hikmah di balik waktu PDT yang cukup panjang ini. Dramanya dimulai ketika H+13 IELTS di IALF Jakarta yang juga adalah rangkaian seleksi AAS, hasil IELTS saya tidak keluar. Awalnya masih berpikir kalau ada masalah teknis atau pada sistem saja. Jadi di hari itu saya masih bisa nonton alt-J dengan senang dan bahagia di WTF. Tapi setelah ditunggu hingga beberapa hari, hasil saya masih tidak bisa dilihat. Sampai akhirnya di hari ketiga saya menelfon IALF Jakarta sebagai test center untuk mendapatkan jawaban bahwa hasil test saya sedang dalam investigasi. Singkat cerita, di H+20 test, hasil saya masih belum keluar sampai akhirnya saya menelfon pihak Australia Awards Indonesia dan mengetahui kalau sebenarnya skornya sudah ada tapi sertifikatnya belum keluar karena investigasinya belum selesai juga.
Kelas 4.5M2 dengan poster masing masing setelah presentasi dan Paula
Rasanya setengah panik kerena ini kali pertama saya tes dan tidak melakukan hal-hal aneh. Saya tes dengan normal, tidak ada kejadian apapun di hari tes. Tapi di sisi lain saya merasa sudah merelakan ini karena tidak PD dengan jawaban saat JST dan menjadi yakin kalau sepertinya saya belum pantas menerima beasiswa di tahun itu. 

Kurang lebih begini:


Sebagian besar foto kami seperti ini....
Saya tidak pernah tahu skornya hingga di hari saya mendapatkan email yang isinya saya diterima AAS. Dan di hari saya tahu skor ini, saya masih tetap tidak tahu kalau skor IELTS inilah yang menjadi dasar penentuan lama PDT mulai dari 7 minggu, 9 minggu, 4.5 bulan, 6 bulan, dan 9 bulan.

Setelah menerima email ya saya senang senang saja dan fokus untuk mengurus resign (yang akhirnya jadi unpaid leave). 

Jadi kalau berdasarkan hasil test, seharusnya saya masuk kelas 7 atau 9 minggu, tapi karena hasil tes saya itu bermasalah, jadilah dilempar ke kelas 4.5 bulan. Oh ya, fakta ini baru saya konfirmasi di 2 minggu sebelum PDT berakhir. HEHEHE.

Sebenarnya, ada keuntungan tersendiri bagi saya berada di kelas 4.5 bulan. Pertama karena jika masuk kelas 7 atau 9 minggu, PDT dimulai beberapa minggu setelah pengumuman diterima dan saya tidak akan diizinkan pabrik karena bos saya masih cuti melahirkan saat itu. Kedua, karena selama 4.5 bulan saya jadi tahu lebih banyak soal pendidikan di Australia dan jadi punya kesempatan untuk memilih ulang kampus tujuan.

Menurutku kami kelas yang seru banget haha
Blessing in disguise, they say.

Nah, PDT ini adalah salah satu pengalaman yang menurut saya sangat berharga dalam hidup. Sama seperti ketika ikut Newmont Bootcamp yang meski hanya 8 hari tapi berefek sangat besar pada cara pandang saya terhadap banyak hal mulai dari cara berkomunikasi, membangun relasi, hingga mengenalkan saya pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya (full time blogger, fotografer, videografer, konsultan PR). Selama PDT, saya berada sekelas dengan orang orang dari latar belakang pekerjaan dan pendidikan yang beragam. Pegawai dan pejabat pemerintahan, pegawai BUMN, pekerja swasta seperti saya hingga orang yang bekerja di universitas. Lagi-lagi saya mendapat sangat panyak perspektif untuk melihat suatu masalah dan kali ini dengan intensitas yang cukup tinggi karena kami bertemu 5 hari seminggu dan berdiskusi di hampir setiap kelas.

Ada dua hal yang menjadi fokus utama PDT yaitu English for Academic Purpose (EAP) dan Cross Culture Study. Tapi EAP di sini tidak hanya soal meningkatkan kemampuan bahasa Inggris tapi juga study skill dan critical thinking. 

Bagi saya, kelas kelas selama PDT sangat membantu dalam megorganisasikan ide dan mepresentasikannya baik dalam bentuk presentasi verbal maupun tulisan yang dapat diterima secara akademis. Hal ini mungkin tidak terlalu kita sadari, tapi ketika dibiasakan untuk menulis paragraf dengan kalimat utama yang jelas dan kalimat pendukung yang nyambung, pikiran kita juga jadi terbiasa untuk menata ide ide dan elaborasinya. Bukan hanya itu, pengajarnya juga memberikan koreksi dan masukan untuk setiap lembar tulisan yang kita hasilkan. Feedback inipun dibuat dengan sangat detail. Berbeda sekali dengan apa yang saya rasakan selama sekolah dan kuliah dulu yang hasil evaluasinya selalu berupa angka-angka. Dengan feedback tersebut, saya jadi tahu bagian mana yang bisa saya banggakan dan di bagian mana saya masih harus bekerja keras untuk bisa memenuhi standar. 

4.5M2 di akhir bulan pertama PDT bersama Christina
Memang sih, di awal-awal rasanya malaaaaaas sekali menulis dan paling berat kalau Paula, guru kami, memberikan tugas ini. Beberapa kali juga saya harus menulis ulang beberapa essai singkat karena tulisan saya tidak relevan. Hahaha, iya, jadi kalau tulisanmu tidak relevan, mereka akan memintamu menulis ulang dan memberikan feedback kembali untuk revisinya. 

Oh ya, kalau kalimat kita sudah cukup bagus, Paula akan memberikan 1 centang dan kalau kalimat atau paragrafnya sudah sangat bagus dan padu, akan ada 2 centang di sana. Alhasil, saya terobsesi untuk mendapatkan 2 centang. Mencoba menulis sebaik mungkin sesuai dengan masukan dari tulisan sebelumnya. Kami juga biasanya saling membaca tulisan satu sama lain. Bertukar lembar essai yang sudah dikomentari Paula itu di satu sisi untuk melihat cara pandang orang lain terhadap topik itu dan di sisi lain untuk melihat tulisan teman yang mendapat 2 centang agar bisa kita jadikan bahan perbaikan di tulisan kita hahaha. 

Pencapaian menulis terbaik selama PDT tentu saja essai 2000 kata dengan topik sesuai bidang kita. Itu adalah pertama kalinya saya menulis dimana setiap kalimat dalam paragrafnya benar-benar dipikirkan, tidak nyampah, dan sebisa mungkin tidak membuat klaim kosong tanpa bukti pendukung. 

Jujur, selama masa penulisannya, tiap malam tidur rasanya tidak nyenyak. Kepikiran. Tapiiii, saya sangat terbantu dengan program PDT yang super terstruktur ini. Jadi di 2 minggu pertama kami harus membulatkan tema dan pertanyaan untuk essainya. Ada beberapa kali sesi konsultasi yang sangat konstruktif dengan Paula. Pertanyaan-pertanyaannya membuat saya memikirkan ulang tujuan penulisan dan sudut pandang essainya agar tetap menarik dan relevan secara akademis. Selanjutnya ada periode pengumpulan sumber bacaan yang harus dibuat dalam tabel untuk kemudian direview lagi oleh Paula. Paula juga tidak jarang memberikan tambahan sumber bagi saya dan teman teman yang lain baik berupa jurnal maupun kelas kelas online yang sedang membahas topik itu. Pada minggu berikutnya, kami harus membuat mind map untuk semua argumen beserta bukti dan sumber pendukungnya sebelum didiskusikan dengan kelas lain.
Binang sedang mepresentasikan postenya mengenai humanitarian law kalau tidak salah
Selesai dengan diskusi, maka terbitlah draft pertama yang harus dikumpulkan untuk direview Paula. Selama masa review itu, kami disibukkan dengan pembuatan poster untuk dipresentasikan di auditorium. Ini adalah bagian paling seru menurut saya karena ini juga adalah pengalaman pertama melakukan presentasi dengan poster A1. Ketika semua orang sibuk dengan desain poster, komputer di perpustakaan tiba-tiba penuh ahhaa. Banyak dari kami menghabiskan waktu sampai sore di sana. Oh ya, poster juga tidak lepas dari feedback Paula. Setelah poster, tenggat waktu pengumpulan essai final sudah di depan mata! Tapi lagi-lagi, kami tidak dibiarkan tenggelam sendiri. Hari-hari sebelum pengumpulan, kami diberikan waktu untuk mengoreksi draft satu sama lain mulai dari kohesi antar paragraf hingga grammar.
4.5M2 di University Day setelah mengunjungi satu per satu booth universitas
Kelas terakhir bersama Paula
Hari saat pengumpulan essai adalah hari paling melegakan selama PDT. Setelah itu rasanya tidak ada beban. Eh, tapi setelah itu kami masuk fase persiapan IELTS intensif selama 2 minggu.
Briefing¬
Selain belajar bahasa Inggris untuk akademik, ada 3 kelas lain yang wajib kami ikuti selama PDT, yaitu Cross Culture, kelas komputer, dan kelas literasi penulisan akademik. Kelas Cross Culture diadakan 2 kali seminggu, sedangkan 2 kelas lainnya diadakan selang seling karena materinya tidak terlalu banyak.

Cross Culture adalah kelas yang sangat menyenangkan sekaligus baru bagi saya. Di kelas ini, Barbara memberikan berbagai macam materi tentang kehidupan di australia melalui diskusi-diskusi santai. Pembahasannya bukan cuma soal kehidupan akademik, tapi juga kehidupan sosial termasuk berbagai life hacks. Melalui kelas ini saya bisa mendapatkan gambaran mengenai hidup sebagai international student di Australia.

Kelas Cross Culture terakhir dengan kuis ala Famili 100

Menteng Atas, 15.03.2019 21.53
Updated from Oman, 07.04.2018 19.25
Readmore → Pre-Departure Training Australia Awards Indonesia Okt 2018-Mar 2019

Friday, February 15, 2019

Tentang Aplikasi Beasiswa Australia Awards

Sebenarnya saat ini saya harus mengerjakan sisa essay yang belum selesai dan harus dikumpulkan hari Senin besok. Tapi belum ingin menulis soal essay. Jadi ya sudah, saya menulis soal aplikasi beasiswa Australia Awards 2018 saja. 

Australia Awards Logo (source: https://www.australiaawardsindonesia.org)


Oh ya, essay yang harus dikerjakan ini adalah salah satu tugas akhir dari program pre departure training (PDT) Australia Awards Scholarship (AAS). PDT kami sudah memasuki bulan keempat dan akan berakhir di awal Maret ini. Rasanya cepat sekali. 

Maaf paragraf sebelum ini keluar dari topik ya. 

Tahapan beasiswa AAS ini pasti sudah banyak kalian baca di blog awardee maupun di website Australia Awards Indonesia. Iya, infonya sudah bertebaran dimana-mana kok. Nah, tulisan saya ini tujuannya ya buat memperbanyak info yang sudah ada saja dan ditambahi dengan pengalaman pengalaman pribadi. Hehe.

Proses aplikasi AAS terdiri dari 2 tahap. Tahap pertama yaitu seleksi berkas online dan tahap kedua terbagi menjadi 2 sesi yang dijalankan paralel yaitu interview dan IELTS. Kedua tahapan tadi menggunakan sistem gugur ya teman teman. Jadi kalau tidak lolos seleksi berkas ya tidak akan ikut interview dan IELTS. Lalu apakah penentuan final hanya dari inverview dan IELTS atau gabungan dengan berkas juga? Enggak tahu. Saya bukan panitia seleksinya. Tapi logikanya sih semua aspek penilaian digabung.

Perlu dicatat bahwa rangkaian seleksi AAS ini tidak dipungut biaya apapun ya teman teman. Gratis. tis. tis. IELTS-nya mereka yang bayar. Kamu tinggal belajar dan bawa badan. Eh tapi kalau kamu beli buku buat belajar, itu yang kamu bayar sendiri. Terus syarat pedaftaran untuk membuktikan kemampuan bahasa Inggrismu boleh pakai TOEFL ITP yang harga testnya cuma 400ribuan itu. Bahkan, kalau kamu lulus seleksi berkas dan interview/IELTS-mu diadakan di luar daerah asalmu, mereka akan kasih penggantian biaya transportasi dan akomodasi. Kurang baik apa lagi?

Karena segala kemudahannya inilah pendaftar AAS tiap tahunnya banyak sampai bikin mikir dua kali buat daftar atau enggak dan ngerasa kalah saing duluan. Ini kejadian di saya kok. Sebanyak apa yang daftar? Tahun 2018 kemarin ada 5300 dan yang diambil hanya sekitar 250 orang. Ya, namanya juga dibayarin sekolah, siapa yang gak mau, kan?

Menurut saya sih, ada beberapa hal yang bikin kamu diterima atau tidak dan yang paling penting untuk diperhatikan adalah "apakah kamu memenuhi kriteria calon penerima beasiswanya?" Jadi bukan hanya soal nilai, prestasi, ataupun kemampuan bahasa Inggris saja. Menurutku ini soal karakter seseorang. Beberapa beasiswa menginginkan calon penerima yang memiliki kemampuan memimpin yang kuat dan visioner, beberapa beasiswa tidak masalah dengan kemampuan memimpin biasa saja asalkan si kandidat memiliki potensi untuk berkontribusi untuk bidangnya. Ya, semacam itu lah. Coba saja lihat teman atau kenalan kamu yang diterima beasiswa yang berbeda. Mereka tipikal, kan?
Catatan: saya belum pernah mendaftar beasiswa lain selain AAS dan KUB, jadi opini di paragraf ini agak sok tahu sih.

Dalam aplikasi AAS, karaktermu akan dilihat dari tulisanmu atas jawaban beberapa pertanyan soal kenapa kamu memilih jurusan A, apa gunanya jurusan A untukmu kelak, bagaimana pengalamanmu melakukan perubahan, dan bagaimana kamu mengenali kelemahan dirimu. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada jawaban benar atau salahnya kok. Sekali lagi, mereka akan mencari jawaban yang sesuai dengan kriteria mereka. Saranku, tulislah jawabanmu sejujur mungkin. Tidak usah mengada-ada. Cukup dibuat dengan jelas dan detil (bukan kalimat-kalimat mengambang yang tidak jelas indikatornya). Jadi mereka bisa menimbang dengan mudah dan bukannya bingung membaca aplikasimu kemudian dilewatkan karena apa yang kamu tulis susah mereka pahami. 

Buat apa memaksa masuk kalau ternyata memang tidak sesuai, kan? Tidak baik untuk kamu dan juga mereka. Kalau kamu memang benar-benar ingin masuk padahal tidak cocok, ya berarti kamu harus berubah sesuai dengan mau mereka. Atau menunggu sampai mereka akhirnya mengubah kriterianya menjadi seperti kamu.

Pada kasus saya, pertanyaan tentang melakukan perubahan saya isi dengan cerita soal mengajarkan excel untuk membantu rekan-rekan kerja dalam memudahkan pembuatan laporan rutin mereka. Iya, sesederhana itu karena saya tidak punya pengalaman menemukan hal hebat atau menyelesaikan masalah besar perusahaan. Lalu soal kontribusi studi yang diambil untuk diri dan karirmu kelak, tulis saja hal-hal nyata yang kamu tahu soal bidangmu. Kalau tidak tahu, baca banyak banyak soal apa yang sedang dibutuhkan Indonesia dan kaitkan dengan studi yang akan kamu ambil.
Duh, lagi lagi saya terdengar sok tahu sekali.

Ketika aplikasimu dinilai cocok untuk mengisi slot penerima beasiswa, mereka akan mengundangmu untuk interview dengan akademisi dari Indonesia dan Australia. Ini adalah tahap yang paling menegangkan menurut saya karena ya....tidak pede dengan bahasa Inggris saya dan juga lagi lagi karena pertanyaannya bukan soal benar atau salah. Tapi mereka ingin sekali lagi meliat karaktermu secara langsung dari jawaban-jawabanmu. Setelah interview kemarin saya rasanya ingin menciut dan lenyap saja saking tidak percaya dirinya.

Kalau sudah lulus semua tahap, awardee akan menjalani PDT sebelum keberangkatan. Durasinya berbeda-beda tergantung skor IELTS. PDT-nya menyenangkan sekali kok. Tunggu di post berikutnya yaa..

Menteng Atas, 15.02.2019 13.57
Readmore → Tentang Aplikasi Beasiswa Australia Awards

Sunday, December 30, 2018

2018: Hip Hip Hurray!

Halo! 

Sebentar lagi ganti kalender, waktunya membuka kembali sesi kilas balik tahunan Dwika! kyaa kyaa kaaaa!!

Saya sangat bersemangat sekali bicara tentang 2018. Wuuhuuu. Banyak hal hal seru dan menyenangkan. Banyak yang ternyata berhasil dicentang dari daftar hal yang belum dilakukan di 2017 berikut:

Apa yang belum?
1. Belum IELTS -- done!!! dan gratis pula dibayarin AAS huhu terharu :')
2. Belum implementasi program yang berdampak signifikan di kerjaan -- sepertinya belum, tapi bisa diganti dengan kerja tanpa tandem karena bu bos cuti melahirkan selama 3 bulan gak sih?
3. Belum jalan-jalan jauh. -- Semarang kurang jauh, tapi mau ke AU tahun ini! lumayan kaaan hehe
4. Belum Level 5 Google Local Guide (iyalah, orang baru daftar kemarin) -- berhenti di level 4 terus gak pernah review lagi, payah. ((Update 13//1/2019: Ternyata sudah level 5 tapi ku gak sadar huhu))
5. Belum nonton Alt-J/Tame Impala padahal mereka manggung di Bali semua tahun ini. Sedih gak? -- hey! saya sudah nonton ALT-J di barisan depan WTF Juli kemarin!!!!
6. Belum punya pacar -- :)

Cerita tentang 2018 saya bagi ke 3 kelompok, yaitu fisik, karir, dan senang-senang.

  1. Fisik: Menjadi gendut dan berjerawat.
  2. Karir: Naik gaji, berhenti bekerja, beasiswa master, dan berjualan sedotan.
  3. Senang-senang: ALT-J.
1. Fisik
Setelah pindah ke Bekasi dengan menu makan malam yang tidak sehat, sarapan nasi kucing dan nyemil gorengan tembok maha legendaris di pabrik, jadilah Dwika menggendats dengan muka gampang berjerawat bahkan sampai sekarang. Huhuhu lemak-lemak jahat sudah menguasai tubuh saya. Tapi sekarang sudah pindah ke Mentas lagi dan berusaha makan sayur sebanyak di rumah lagi, semoga dengan ini muka mulus tanpa jerawat segera kembali T_T 

2. Karir
2018 adalah kali pertama saya naik gaji! Senang sekali uangnya banyak, eh tapi pengeluarannya makin banyak juga. Jadi ya, sama saja tidak pernah menabung syalalala baka ¬¬
Awal tahun dimulai dengan kebosanan yang dilanjutkan dengan mendaftar beasiswa dan pekerjaan. 

Kuartal ketiga, ditinggal cuti melahirkan!!! Menurut saya, sih, ini pencapaian paling membanggakan dari 2 tahun bekerja. Bangga karena tidak menyangka bisa melewatinya dengan cukup baik huhuhu. Sebagai gambaran, Mba Nidya dan saya adalah tandem dengan kerja sama tim yang (menurut saya) sangat baik, saling mengandalkan satu sama lain. Mba Nidya adalah bos baik hati yang selalu mem-back up saya, si anak baru yang masih sering salah dan kemampuan komunikasi yang kurang oke. Jadi biasanya kalau saya mentok, Mba Nidya selalu punya opsi lain yang bisa dicoba. Dia juga galak ke orang-orang yang perlu digalaki, sedangkan saya belum bisa galak sama sekali. Hahaha. Sejujurnya, sebelum Mba Nidya cuti, rasanya degdegan, takut sekali akan mengacaukan banyak hal. Tapi ternyata saya tidak seburuk itu! 3 bulan kemarin berjalan cukup baik walapun beberapa project harus diselesaikan dalam waktu mepet, walaupun drama diomeli sana sini, walaupun ada masalah-masalah karena kelupaan banyak hal, walaupun jadi sering pulang telat, tapi pada akhirnya saya jadi lebih percaya diri. Saya beruntung sekali, manajer kami memberikan keleluasaan untuk belajar mengambil keputusan sendiri. Rekan-rekan se-PPIC juga sangat kooperatif! Terutama Pak Saimun, pasti saya sudah gila kalau tidak ada beliau. Dan tentunya Bu Haji cintaku!
Oh ya, di akhir Juli, saya mulai jualan sedotan! Daaan jejualan ini lah yang melancarkan arus kas saya sampai hari ini. Menyenangkan sekali. Cerita lengkapnya ada disini.

Kuartal keempat, resign. Setelah melewati 3 bulan sendirian dan mba Nidya masuk kerja sebulan, saya berhenti bekerja. Ini juga bukan tanpa drama. Ada dua minggu penuh yang isinya kegalauan syarat dan ketentuan resign dengan HRD dan manajemen--karena saya masih terikat ikatan dinas dari program MT. Tapi akhirnya manis, kok. Mereka menawarkan cuti tanpa tanggungan atau unpaid leave yang baru berhasil deal sehabis dua minggu itu ahaha. Ah, ini adalah momen paling haru 2018. Saya bahkan menangis terisak-isak di acara makan siang perpisahan bersama teman-teman PPIC.


Sama Mba Nidya
Sama Pak Saimun
Sama Bu Haji
Akhir Oktober selepas resign, saya memulai pre-departure training AAS hingga awal Maret 2019 mendatang. Ini juga salah satu bagian yang menyenangkan di 2018 karena bisa bertemu dengan orang orang baru yang tentunya sangat keren huhu saya berasa cuma remah remah gorengan tembok. Selain itu juga progamnya memang sangat komperensif, sekarang kami sedang belajar untuk menjadi master students sebelum benar-benar menjadi master students. Belajar caranya belajar. Mengerti, kan?

3. Senang-senang
Menonton band favorit di barisan depan panggung. Rasanya mau menangis. Bernyayi sepanjang konser, rasanya tidak nyata. Keren sekali!!!!!!! Rasanya susah digambarkan, sepertinya ini bisa disebut sebagai pengalaman paling menyenangkan sepanjang hidup. Seperti ingin terbang!


2018 ini terlihat sempurna, kan? Hey, saya juga melewati masa-masa meragukan tujuan hidup kok!! Masa-masa hidup yang rasanya hambar dan tidak tahu mau apa. Dan yaaa, seperti kata orang, masa-masa itu akan terlewati juga. Lagipula, lebih seru mensyukuri hal-hal baik daripada meringis untuk kemalangan kok. 

Lalu bagaimana dengan 2019? Saya menaruh banyak harapan! Terlebih lagi setelah melihat resolusi tahun baru ala google haha! Saya percaya, keinginan yang ditulis punya kemungkinan lebih besar untuk bisa terwujud dibandingkan dengan keinginan yang hanya dibiar sekadar terlintas saja. 

Karena 2019 adalah chapter baru hidup, saya berharap
1. Keberangkatan ke AU bisa berjalan lancar
2. Menjadi master students yang aktif dan outstanding (learn a lot of new skills in programming, to be a communicative student, get a cool internship)
3. Membuat banyak koneksi baru!!
4. Strawsellate bisa jalan sendiri
5. Nonton banyak konser! --> Disiplin secara finansial: mulai menabung. (Update 13/1/2019)
6. Ke NZ
7. Laptop baru
8. Membuat program yang bermanfaat untuk kampung
9. As seen on picture below:


Selamat tahun baru! Semoga tahunmu menyenangkan :)
Readmore → 2018: Hip Hip Hurray!

Monday, November 12, 2018

Berkenalan dengan Jualan (Online)

Pertengahan 2018 kemarin, National Geographic membuat sebuah kampanye tentang polusi plastik yang semakin mengancam. Kilas potongan gambar dan video insta story mereka benar benar membuat ingin tahu lebih banyak. Akhirnya sepulang kerja saya buru-buru ke Gramedia dekat kosan untuk membeli majalah Natgeo edisi Juni 2018: Bumi atau Plastik. Ohya, majalah ini adalah awal mula saya jualan sedotan stainless.

Jujur saja, kampanye mereka sangat sukses membuat saya berpikir ulang soal konsumsi plastik saya yang sangat tidak bijak selama ini. Soal kebiasaan-kebiasaan menggunakan plastik yang sebenarnya tidak perlu, misalnya kantong kresek dan sedotan plastik sekali pakai. Mereka punya satu artikel membahas hal-hal yang bisa dilakukan untuk mulai diet plastik; yang juga didahului dengan fakta betapa banyaknya sampah plastik yang sebenarnya perlu. 

Hari-hari sehabis membaca saya sibuk bolak-balik marketplace online lokal mencari sedotan stainless untuk dipakai sendiri. Ada beberapa akun yang menjual sedotan stainless saat itu, tapi mereka menjual dalam paket yang terdiri dari 4 atau lebih sedotan. Ada juga yang menjual satuan, tapi harganya malah jadi lebih mahal.

Sampai akhirnya saya menemukan penjual dari luar negeri di Shopee. Harga sepaket sedotan isi 4 lengkap dengan pembersihnya setara dengan harga satuan yang dijual oleh akun-akun Indonesia. Masih belum selesai di situ, saya mencoba mencari lagi di marketplace luar dan wahhhhh mereka menjual dengan harga yang jauh sekali dari harga di Indonesia. Hanya saja, pembeliannya dalam lot (1 lot = 100 pcs). Obviously, hahah!

Perlu beberapa minggu sampai akhirnya saya memutuskan untuk membeli 2 lot sedotan untuk coba dijual. Pertimbangannya: 
1. saya tidak berbakat jualan, semua orang tahu.
2. saya ingin mencoba hal baru, setidaknya saya ingin membuktikan apa iya kemampuan jualan saya seburuk itu.
3. THR! ada THR yang bisa dipakai hahahah! Jadi kalau rugi, tidak begitu sedih.

Yap. Saya beli dan menunggu dengan sabar. Kurang dari seminggu, 200 pcs sedotan sampai di tempat kerja. Huahahaha! 

Saya harus menunda hingga akhir pekan untuk mulai urusan jejualan dari mebuat akun instagram, mengambil gambar yang cukup layak untuk dipajang, membuat desain logo, desain post instagram dan beriklan lewat akun pribadi. 

Minggu-minggu awal akun dibuat, jualan saya lebih banyak pada orang-orang yang saya kenal. Teman, temannya teman, atau temannya keluarga. Tapi rasanya jualan seperti ini memakan waktu yang lama sekali. Then, i learned about instagram ads. Boom! Instagram ads benar benar berefek positif pada engagement, begitu juga dengan penjualannya. Well, it was not happen in a blink. Pemilihan audience pada iklan pertama saya agak kurang pas (which I realized later), waktu itu hanya followers yang naik, tapi penjualan tidak sebaik waktu-waktu berikutnya (tapi saya sudah senang sekali ada orang tidak dikenal yang belanja).

But again, i learned. Saya belajar memilih audience yang lebih cocok dan juga mengambil gambar yang lebih baik. Sepertinya kalau tidak kenal instagram ads saya benar-benar akan berpikir kalau saya tidak berbakat jualan sama sekali.

Rasanya menyenangkan sekali membuktikan pada diri sendiri saat berhasil melepas label tidak berbakat jualan itu. Bangga luar biasa ketika mulai restock! Pada titik ini saya tidak berpikir soal nominal keuntungan yang diterima sama sekali.

Sampailah pada waktu jualan sudah balik modal dan keuntungannya terkumpul. Saya cukup terkejut dengan saldo rekening. Sebagai orang dengan cashflow buruk, jejualan ini menyelamatkan saya dari hari-hari dompet tipis. Anehnya, saya jadi lebih disiplin soal uang. Setiap rupiah yang dipinjam dari rekening jualan untuk kebutuhan pribadi akan langsung saya kembalikan setelah gajian. Di titik ini, casflow saya membaik dan menjadi sangat sehat. I really appreciate myself! hahaha

Bukan cuma perbaikan cashflow, jualan ini juga yang akhirnya menjadi jalan untuk membeli hal-hal tersier seperti kamera polaroid yang sejak dulu ingin beli tapi tidak kunjung dibeli dan juga mensponsori acara jalan jalan jajan saya ke Semarang.

Saya masih terkesima hingga saat ini. Bagaimana mungkin jualan online hal kecil bisa membuat banyak perubahan. Hanya membalas chat sambil goleran atau sedang di kereta kemudian mengecek transfer masuk yang juga semudah mebalas chat pacar. Hanya membungkus dan menulis alamat paket sepulang kerja kemudian dikirim sekalian membeli makan malam. Punya kebebasan menentukan beli dimana, warna apa, berapa banyak, budget iklan, desain post, jualan jam berapa, diskon berapa. This is very exciting, to arrange everything by yourself and you get paid for it! 

Apa kabar mereka yang benar-benar menjadikan jualan sebagai profesi? Well, my mother does. Ibu jualan di kantin dari saya umur 4 tahun sampai sekarang. Ibu dan jualan kantinnya membiayai sekolah kami (saya, kakak, dan esa) hingga lulus kuliah. Kalau cuma dengan gaji Bapak, saya tidak mungkin kuliah dengan uang jajan yang masih cukup buat hal-hal tersier. Ibu contributes a lot. Dan saya baru sadar sekarang kalau jualan bisa se-powerful itu. 

Menteng Atas, 12.11.2018
-one day after the 11.11 bigsale-
Readmore → Berkenalan dengan Jualan (Online)

Wednesday, August 22, 2018

Dua Puluh Empat

Dua puluh empat. Sudah dua tahun lalu lulus kuliah, sudah bekerja, bahkan sudah bosan bekerja di pabrik. Lebih banyak diam.

Saya sangat menyukai diam dan sepi belakangan, jauh berbeda dari dulu-dulu--sedikit-sedikit mencuit, sedikit-sedikit menelfon untuk mengeluh. Belakangan saya lebih suka diam saja. Rasanya lebih nyaman karena tidak harus menjelaskan apapun kepada siapapun. Entah ini dirasakan juga oleh semua yang berada pada usia saya. Di fase ini saya merasa bahwa lebih banyak orang tidak ingin mendengarkan ucapan ataupun cerita kita. Keluh kesah tidak bisa lagi sembarang ke teman-teman yang dulu dengan mudah kita ajak bicara. Beberapa kali saya mengalami tekanan yang cukup mengganggu belakangan ini, biasanya saya pasti akan menelfon beberapa orang untuk diajak bercerita. Tapi sekarang tidak begitu, saya hanya diam sampai akhirnya meledak pada satu teman lama. Menangis sejadinya karena akumulasi tekanan-tekanan menyebalkan. Menangis dan kemudian melanjutkan hidup seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi.

Dua puluh empat. Beberapa waktu sebelum saya sampai di umur ini, bisa dilihat pada tulisan sebelumnnya, saya sudah mengalami yang mereka bilang sebagai quarter life crisis. Fase saat saya merasa begitu penting menentukan arah hidup tapi tetap tidak tahu mau dibawa kemana. Sejujurnya sekarang sudah tidak terlalu ambil pusing lagi. Saya berpikir sesederhana, "yasudah dijalani saja, mari lihat kemana angin akan membawa". Hahahaha. Dramanya kurang lebih begitu. Tapi sungguh, saya tidak sekhawatir dulu.

Meskipun sudah mencoba berpikir sederhana soal hidup, kadang saya masih tetap sedih hahaha. Urusan pekerjaan belakangan cukup runyam, sering rasanya ingin menyumpah serapah. Hanya saja sepulang kerja saya terlalu lelah, jadi hanya terkapar dan tidur. Diam, kemudian tidur. Kalaupun saya cerita, paling hanya sempat kulitnya saja. Saya tahu yang mendengarkan juga tak terlalu tertarik dan ia pun punya masalahnya sendiri.

Oh ya, kemarin ketika saya sakit, pertama kali saya tidak bilang ibu atau bapak. Hanya diam, di kosan, menangis seperti biasa. Hehe. Saya memang suka menangis kalau sakit.

Bukan, bukan saya tidak bahagia dengan hidup saat ini. Saya bahagia. Cuma heran saja, kenapa usia dua puluh empat ini rasanya semuanya sangat individualistis ya.

Orang dan kepentingannya masing-masing.

Apakah menjadi orang dewasa berarti hal-hal semacam ini adalah kewajaran?

Masa dimana empati orang sekitar ada di level yang mencemaskan.

So here I am. Writing my first post after my 24th birthday dengan satu-dua tetes air di ujung pelipis.

Siapa pula yang peduli kalau umur saya kini dua puluh empat?
Readmore → Dua Puluh Empat