Tuesday, July 2, 2019

Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan

Beberapa waktu lalu, 14 Juni 2019, Gubernur Bali mengeluarkan Instruksi Gubernur No 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali. Isinya adalah sebagai berikut:

Namun sayang sekali, file aslinya tidak tersedia di laman resmi pemerintah provinsi Bali (http://jdih.baliprov.go.id/produk-hukum/peraturan?cat=45). Mungkin adminnya sangat sibuk.

Gubernur Bali menginstruksikan pelaksanaan program KB Krama Bali yaitu keluarga dengan 4 anak atas dasar "untuk melestarikan warisan leluhur kita". Kata-kata dalam tanda petik tersebut dikutip langsung dari pernyataan Gubernur Bali yang dapat dibaca lebih lanjut pada laman berita ini. Saya membaca beberapa artikel di media berbeda tentang instruksi gubernur (ingub) ini namun tidak mendapatkan alasan kuat kenapa label nama 'Komang' dan 'Ketut' ini menjadi begitu penting bagi Pemda Bali sehingga ibu ibu dari keluarga bali sebaiknya melahirkan 4 orang anak dan bukannya 2 orang saja sesuai dengan program KB Nasional. Dalam artikel tersebut, hal yang diutarakan para pejabat pemda ini adalah sebagai berikut:
  1. Label nama 'Komang' dan 'Ketut' hampir punah.
  2. Jumlah krama Bali mengalami stagnasi --> mengkhawatirkan untuk pariwisata karena wisata Bali bergantung pada budaya krama Bali (Kepala Disdukcapil Bali)
  3. Akan ada bantuan modal untuk peserta program KB Krama Bali (Kabid Fasilitasi KB Dukcapil Bali)
Saya benar-benar tidak mengerti apa relevansi kepunahan label nama tersebut. Apakah Bali akan kehilangan esensi budayanya ketika dua label nama tersebut berkurang? Apakah urgensi pelestarian dua label nama tersebut?

Jika kita kembali pada penjelasan-penjelasan pejabat di atas, sama sekali tidak ada alasan yang mendasar. Alasan mengenai kebergantungan pariwisata Bali terhadap pelaku budanyanya memang betul bisa diterima akal, akan tetapi, apakah dengan melipatgandakan jumlah anak akan serta-merta melestarikan budaya tersebut? Terlebih lagi, apakah kepentingan program ini sebatas untuk mempertahankan agar Bali bisa tetap hidup dari jualan tiket untuk menonton upacara adat? 

Jikapun ini adalah lagi lagi produk kebijakan populis untuk mencuri perhatian rakyat, saya rasa ini menyebalkan sekali. Pemda akan mengalokasikan sejumlah anggaran biaya untuk pelaksanaan program yang tidak jelas arah manfaatnya untuk Bali. Ingub ini bisa jadi hanya digunakan sebagai pendongkrak popularitas awal masa jabatan saja. Sebagai pembayar pajak, saya sangat keberatan.

Di sisi lain, Bali sesungguhnya tidak dalam kondisi darurat tingkat kelahiran. Menurut data BPS dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, Angka Kelahiran Total (TFR) pada tahun 2010 yaitu 2.1 yang berarti ada sejumlah 2-3 anak lahir dari seorang perempuan usia 15-49 tahun selama masa suburnya. Angka ini diprakirakan akan menurun hingga 1.73 pada tahun 2035 atau kelahiran 1-2 orang anak. Dalam artikel tersebut, entah kenapa pejabat pemda itu malah menargetkan untuk menaikkan TFR ke angka 3 di tahun 2020. padahal panduan intepretasi BPS di laman Sirusa adalah sebagai berikut.
TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah, tingkat pendidikan rendah terutama wanitanya dan tingkat sosial ekonomi rendah (tingkat kemiskinan tinggi). - intepretasi dalam sirusa BPS 
Betul, saya memang bukan pakar ilmu statistik kependudukan, tapi melihat angka angka dan penjelasan tersebut, saya jadi bingung sendiri soal arah kebijakan ini.

Selanjutnya, apa yang sedang diusahakan negara negara berkembang seperti Indonesia di seluruh dunia adalah menekan laju pertumbuhan penduduk untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. Salah satu pejabat tersebut mengemukakan bahwa hanya dengan berjualan canang (sesajen), sebuah keluarga dengan 4-6 anak dapat bertahan hidup. Namun, bagaimanakah kualitas hidup mereka saat itu? Dengan menekan laju pertumbuhan penduduk, keluarga dapat lebih fokus dalam membesarkan anak anak mereka. Kita tidak bisa tutup mata dengan kenyataan bahwa perubahan iklim dan ketahanan pangan menjadi isu besar dunia saat ini. Kenapa di pulau kecil ini kita begitu egois ingin menggandakan jumlah anak ketika seluruh dunia berusaha menekan lajunya?

Belum lagi kalau kita bicara soal penduduk Bali yang kini sudah sangat beragam suku pendatangnya. Ingub ini hanya menunjukan betapa inginnya kita menunjukan superioritas atas suku sendiri saja.

Sebagai penutup, paparan dalam video ini rasanya akan sangat membuka pikiran kita kenapa ingub ini tidak seharusnya diterbitkan.


Readmore → Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan

Saturday, June 29, 2019

Internship in Waste4Change: A Whole New Working (and Learning) Experience

I didn't have a proper short-term plan after I received my scholarship, I know. I will talk about this later in a separate post. Now, let's talk about my internship in a startup company which I did simply because I didn't know what to do after AAS Pre-Departure Training. It's my last 2 weeks now. Surprisingly, this internship has given me a lot, beyond my expectation. 

Waste4Change is a startup company focusing in waste management. They provide a range of services from company/office waste collection, event waste management, waste-related-CSR execution, to waste related studies. Some of their clients are The Body Shop (Bring Back Our Bottle program), Gojek, DBS, Bank Mandiri, BLP Beauty, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, and so many more.

I've known this company for quite long time but it was only some time ago that I followed their instagram from my online shop account. Yes! It is now related. My concern in plastic thingy was triggered by Natgeo magazine "Planet or Plastic?" edition which made me open my stainless straw online shop in instagram where I follow some eco-conscious accounts including Waste4Change. One day when I was looking for an internship, they posted the opening for some internship positions. I directly sent my application for Strategic Service Intern and here I am now.

My first day was a little bit confusing. I used to work in a manufacturing company which working time is very rigid. My previous plant, like most factories, has siren to indicate work, break and off time while in Waste4Change my working time is literally flexible. I only need to meet my bosses couple times a week only if they need to see me. 

Back to the first day, they took us (me and Dhani, the other intern) to Waste4Change facilities. Those are the Material Recovery Facility and Composting Facility. Adin and Adhit (my bosses) explained more detail about what the company do and how they do it. In that facility, Waste4Change re-sorted the materials from their client's offices. I noticed that the sorting was very detail, not only by type of the materials but also the color! I saw the cup of coffee for Nescafe Dolce Gusto was stacked based on their color. Some workers also sorting plastic waste from buckets of still-mixed-waste. Adin explained that sorting is crucial to ensure that only the residue goes to the landfill while other recoverable materials can go through further cycle such as recycling or composting.
Waste Sorting in W4C's Facility
After the tour, we started to work in a coffee shop. I didn't know that I can really work in a coffee shop because when I was in uni I always failed in doing my assignments in a coffee shop. Too many distraction. But now I CAN! Wow. At the end of the day, we met the almost full Strategic Service team. Here, once again I was very surprised that the team members can be so open in talking about the obstacles they faced on their projects and how each member response in helping the other. Really. This team is so fluid and dynamic. I am amazed. Maybe this is because most of the members are so young that they can be so open while in my previous team, it was only me and Mba Nidya. So, ya, different culture due to age difference. Hehe.

At the end of my first day, I questioned if the remote working could really work. Well, after two and half months experience, I think this method is a very convenient working method! Thanks to all those online editable documents in onedrive and google drive, whatsapp and skype. Currently I even working from my village in Bali because I no longer stayed in Jakarta. Yes! They allow me to do a fully remote job. Awesome!!
Andhani, Adin, Dwika, Adhit
During my internship, I have a full access to their project reports because my job includes making summary of the reports hehe. The good thing is that I gain a lot of new knowledge and information about waste management all around the country. From the report I just knew that a FMCG company has a real concern about their packaging waste so they conducted a values chain analysis. I also read the reports about efforts in building 3R Disposal Site all around Indonesia. I also ar noticed that some companies did the waste-management thingy just for ceremonial purposes. 

This insights have shifted my perspective about waste. Waste is not always bad, waste is not always the one to blame. Let me tell you a story..

I was so lucky that Adin let me join her project about a feasibility study for a Pyrolysis plant development in one of the provinces in Indonesia. The owner of the project is an international packaging company, they hire a consultant which partnered with us. My job in this short phase of the project was to arrange meetings with the local government. I have to contacted several agencies and even the staff of the vice governor. At the beginning, based on the limited explanation and ppt of that consultant, I thought that this Pyrolisis technology is the key solution for all plastic waste thingy. But later, i read and read again while carefully listening to their presentation to the government agencies and the vice governor. I changed my mind. Yes, pyrolysis might seem promising in tackling the multilayer plastic issue (such as sachet which is usually leaked to the environment while plastic bottle and cup are already have their own recycling market), but based on what I read, it is not economically feasible now. However, the project owner seems to be very ambitious in putting this project into reality. I suddenly think that this might be just the strategy and ego of the project owner because they are the company that produce those packaging. If they can successfully deliver this project as a CSR, they will be able to sell the story to convince the market that actually their plastic is not a problem. That the plastic can be turned back into oil. However, in general, this is not economically feasible. The technology can be very expensive and the dream of solving plastic problem will be just a dream. Do you see what I mean? The project in that province MIGHT be successful because it is fully funded, but in the larger scale, will the other government able to afford that? At the end, the company will be benefited because they can put the image that the problem caused by their product can be tackled while actually the waste problem never really solved.

From the business perspective, I do aware that the company need to do efforts in order to sustain their products. Today, people are more concern about what they consume, therefore this company need to reshape their value that align with customers concern. They innovate using this CSR strategy which in one side is brilliant. They can show their concern of nature while maintaining production and profit. However, is this sustainable? This is the big question that WE must find the solutions.

This project made me really think. What is the ideal solution to this mess that can be beneficial for all parties? What do you think?
Readmore → Internship in Waste4Change: A Whole New Working (and Learning) Experience

Friday, June 14, 2019

A Note To Myself in The Past: Try More Things

Underestimating myself when I was in school and uni, then I found out that I can do beyond.

I wasn't confident for my ability in doing so many things like designing posters, winning a competition and so on. At the end, I didn't try any, I didn't know if I was good enough.

The thought of "I wouldn't win that or I'm not capable of producing that" is a real toxic back then. So, I stayed in my comfort zone. My productivity fell to the lowest point.

Until I was pushed to a position where I have to do those things. I did. I finished my essay with great feedback. I got a nice prize for my poster.

I also made several captions and visuals for my community's Instagram account. I know maybe it is not good enough if we're talking about real campaign/publication. But still, I let people see what I've made. I'm no longer ashamed of my work. I'm helping not only my community's campaign, but also myself in self acceptance and confidence.

If i could turn back time, i wish i could try more things during that time. I shouldn't be worried of those silly thoughts.

Why didn't I do it since uni? Sayang sekali. But it's not too late, right?


Readmore → A Note To Myself in The Past: Try More Things

Tuesday, June 4, 2019

Mengunjungi Kakak ke Jabal Akhdar (Bagian Pertama)

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan ke Timur Tengah, untuk alasan apapun. Timur Tengah, apalagi Oman, bagi saya adalah negeri di entah berantah, hanya ada pasir (dan minyak). Tahunya orang ke Timur Tengah ya ke Arab Saudi untuk Haji, atau Dubai tempat orang orang transit, atau negara-negara yang sering muncul di berita karena peperangan seperti Iran dan Irak.

Sampai akhirnya sekitar setahun lalu Kakak ditransfer ke Jabal Akhdar, Oman, yang kata dia sangat dingin. Bagian dari timur tengah yang dingin, adakah? Nyatanya saya sampai di sana dan merasakan sendiri.

Ada tiga hal yang paling menarik perhatian saya selama 10 hari berkunjug ke Oman, yaitu lansekap, makanan dan budaya makan, dan Alila Jabal Akhdar.

Lansekap Oman

Menjelang waktu mendarat, saya sudah melihat oman dari pesawat. Jujur, saya sangat terkesima dengan apa yang dilihat mata secara langsung. Dataran dengan dominasi warna coklat muda dengan bangunan bangunan beratap rata, bukannya limas kebanyakan di Indonesia. Pemandangan ini benar-benar berbeda dengan apa yang biasa saya lihat. Takjub, menyaksikan langsung belahan dunia lain.
Pemandangan dari balkon hotel di Muscat
Kakak membawa saya ke kota Muscat untuk makan siang. Lagi-lagi saya terheran dengan mulus dan lengangnya jalan-jalan rasa di kota Muscat. Mobil-mobil melaju kencang sekali, 100-120 km/jam (walaupun sebenarnya bisa saja melaju di atas kecepatan itu, tapi batas kecepatannya adalah 120 km/jam. Selain itu, ada speed camera di sepanjang jalan dan mobil otomatis mengeluarkan suara bip menyebalkan jika berkendara melewati batas kecepatan).

Kotanya terlihat sepi, tidak ada orang lalu lalang di trotoar, tidak ada motot-motor menyerobot jalan. Jelas saja, kota Muscat dan kota kota lain di Oman pada umumnya sangat panas hingga 40-50 derajat Celcius jika sedang musim panas. Saya pun rasanya tidak akan keluar rumah kalau sepanas itu.

Jalan jalan mulus tidak hanya di dalam kota, loh. Di pinggir kota sampai jalan-jalan kecil menuju pantai, juga jalanan berliku menuju Jabal Akhdar, hingga jalanan pedesaan di Shabia. Semua jalannya mulus, tidak berlubang. Mau tidak mau saya membayangkan jalanan desa di daerah saya yang baru beberapa bulan diaspal, eh sudah berlubang lagi, rusak lagi. Ya, mungkin ini juga karena di Oman hujan adalah fenomena alam yang sangat langka, jadi jalan-jalannya bisa tahan lama. Tidak seperti di Indonesia yang punya musim hujan beberapa bulan setahun. Tapi saya kira memang pemerintah Oman sangat serius mengurusi jalanan, buktinya di setiap turunan jalur menuju Jabal Akhdar dibuatkan lajur untuk rem blonk itu (apa ya namanya?). Kemudian saya membayangkan lagi jalanan berkelok dari Wanagiri ke rumah.

Selain jalanan, Oman juga punya pantai! Kakak dan Issam mengajak saya memancing di Bimmah. Pantainya memang tidak secantik pantai pantai tropis, tapi lumayan kok untuk duduk duduk walaupun tidak ada penjual kelapa muda atau bakso di pinggir jalannya. Orang-orang biasa datang berpiknik ke sini, membawa makanan dan peralatan barbeque bahkan tenda. 
Bangunan berwarna coklat kekuningan di sebelah kanan adalah penginapan kami di Bimmah
Selanjutnya ada Bimmah sinkhole! Bimmah sinkhole ini cantik banget. Warna airnya dari atas turqoise, airnya seger bangettt. Banyak orang datang ke sini buat main air, berenang, dan ada juga orang lokal yang loncat dari tepian lubang di atas. Ohya, di sini (dalam lubang) enggak panas kayak di kota he he. Saya menyesal tidak bawa baju ganti ke sini, jadi tidak sempat nyemplung. 

Berpindah dari sinkhole, gurun pasir adalah dataran paling menarik yang pernah saya lihat! Luar biasa cantik dengan pasirnya yang sangat halus dan tidak berasa lengket seperti pasir pantai (iyalah! pasir pantai kan banyak air garamnya). Jujur saya bingung menggambarkan indahnya gurun pasir, biar foto saja yang bicara. Betah deh rasanya kalau disuruh berguling di sana sepanjang sore sampai matahari terbenam. Yessss! Ini pengalaman baru lagi, menikmati sunset dari puncak tumpukan pasir bukannya di pantai.
Menunggu sunset di gurun pasir
"Loh? Bukannya gurun pasir itu panas banget ya?!"

Iya, panas banget kalau siang. Jadi kemarin kami berangkat ke gurun dari Muscat, perjalanannya berjam-jam. Sepanjang jalan ya pemandangannya monoton, dari kota, kemudian gak ada apa apa hanya hamparan coklat. Tidur, bangun, makan, melongo ke jendela, tidur, bangun, nyemil hingga beberapa kali putaran haha. Kami sampai di sekitar jam 2 atau 3 siang kemudian langsung masuk kamar penginapan, tidur siang. 
Penginapan kami saat bermalam di Sharqiya
Kami baru keluar sekitar jam 5 sore, bersiap siap menjelajah gurun. Sebelum mendaki gunung-gunung pasir, ban-ban setiap mobil harus dikempeskan agar lebih stabil saat dikendarai. Setelah itu baru deh kami memilih-milih puncak mana yang akan dituju. Jujur, kalau saya sendirian ya pasti sudah nyasar di tengah gurun. Tidak ada petunjuk arah sama sekali. Hanya ada sisa jejak ban mobil yang sering kali tiba-tiba hilang jejak di ujung karena sudah terkikis angin.

Sebagai catatan, jika teman pengemudi kendaraanmu cukup cakap, berkendara di gurun itu sangat seru dan menyenangkan! Mulai dari mencoba slope tajam gunung pasir, mencari puncak yang tidak ada jejak ban, hingga berusaha lolos dari cekungan pasir yang bikin degdegan! Sering loh ada pengemudi yang kurang lihai hingga akhirnya mobil mereka terjebak dan harus menunggu bantuan mobil-mobil lain untuk menariknya.

Selain itu, di gurun juga ada unta kok. Kita juga bisa membayar untuk menunggang unta di gurun. Tapi saya tidak mau. Kasihan untanya!!!!! 
Orang-orang mencari spot untuk menikmati sunset dan bermain pasir

Mobil-mobil 4WD membawa turis ke puncak-puncak gurun

Saya di gurun pasir!

Makanan dan Budaya Makan

Satu hari, kakak mengajak saya dan 2 orang teman kerjanya untuk pergi berkunjung ke rumah salah satu rekan mereka. Saya berkunjung ke rumah Omani! 

Ketika memasuki majelis atau ruang untuk berkumpul, kami dijamu dengan sekeranjang kecil kurma dan peach kering lengkap dengan Kahwa, semacam kopi khas Oman yang bagi saya rasanya aneh sekali, tidak seperti kopi sama sekali. Satu hal yang menarik perhatian saya: AC dengan ukuran jumbo terpasang di ruang majelis yang tak seberapa besar ini. Saya bertanya pada kakak, kenapa di oman AC besar besar sekali (seperti juga di kamar kakak). Jawabannya saya dapat saat kami makan bersama, kata istri si pemilik rumah, kalau sedang musim panas suhunya bisa 40-50 derajat Celcius. Baik, saya paham.

Oh ya, tempat makan laki-laki dan perempuan juga dipisah loh! Kami (para tamu perempuan) makan di majelis bersama istri pemilik rumah, sedangkan driver kami (laki-laki) makan bersama si pemilik rumah dan anak-anak lelakinya di ruangan lain. 

Yang tak kalah mengejutkan bagi saya yaitu ketika isi piring saya mulai tinggal sedikit, tuan rumah akan menyendokkan nasi lagi beserta lauknya. Tuan rumah akan melakukan hal itu berkali kali! Walaupun kamu menolak, mereka akan tetap menaruh lebih banyak makanan di piringmu!! hahahah. Waktu itu saya jadi makan 3 piring sampai super begah.
Jamuan makan siang di rumah kerabat Kakak untuk 5 orang
Kemudian soal makanan, sepertinya orang oman cuma makan daging dan nasi deh. Lihat saja foto di atas, sayurnya cuma acar. Untuk menjamu 4 orang tamu, mereka masak Shuwa (daging domba yang dipanggang di dalam tanah), lamb chop, dan senampan penuh mandi rice dengan 1 ekor ayam.

Selain itu porsi makan di Oman juga memang besar besar. Pernah saya dan kakak membeli paha ayam goreng, kami pikir porsinya ya seperti lalapan. Tahu-tahu yang datang adalah 6 potong besar paha bawah. Pokoknya selama di sana, kalau kami makan pasti daging dan daging. Ya, wajar juga sih, kan di sana kering, kalau menanam sayur mau cari air dimana? Selama di Oman, saya rindu makan sayuran berlimpah. Untung kakak sempat masak sayur di apartemen, walaupun cuma 1 kali karena sisanya kami makan di luar.

Ohya, soal makan di luar, orang Oman cenderung memilih take away (untuk hampir semua jenis makanan). Bukan hanya McDonald's loh ya, tapi sampai toko kelontong yang jualan semacam teh tarik dan roti tipis itu. Di toko kecil ini, kami benar-benar hanya perlu mengklakson dari tempat parkir lalu pegawainya akan menghampiri, mencatat pesanan kemudian datang lagi dengan semua pesanan kami. Kalau di Indonesia mungkin rasanya sangat tidak sopan yaaa? Hahaha

Terakhir, saya ingin sekali membahas soal chinese food di Oman. Ketika saya mendarat, kakak mengajak saya makan di restoran cina di Muscat. Ekspektasi saya ya tidak jauh-jauh dari makanan Cina pada umumnya dong, banyak bawang putih dengan rasa yang aman di lidah. Eh tapi ternyata ekspektasi saya salah besar. Memang sih mereka sudah berusaha keras untuk memasang berbagai oranmen Cina dengan warna merah dimana-mana, tapi...makanan ini lebih kenapa rasanya mirip makanan India dengan segala rempah-rempahnya. Ya, kalau kata kakak sih, ini karena yang punya restoran orang India dan karyawannya pun orang Banglades.

Dari perjalanan saya kemarin, makanan asia yg rasanya paling benar ya cuma thai food baik yang di food court mall maupun di restoran. Mungkin karena lebih banyak imigran dari Asia Tenggara yang bekerja di sana. Eh tapi rasa bakso di restoran Indonesia kemarin aneh bangeeeettt. Lagi-lagi karena juru masaknya bukan orang Indonesia, tapi orang Banglades :)))))
----

Soal Alila Jabal Akhdar akan dibahas di post selanjutnya saja ya. Post ini sepertinya agak kepanjangan he he. Selamat berlibur Lebaran, semuanya!

Readmore → Mengunjungi Kakak ke Jabal Akhdar (Bagian Pertama)

Friday, March 15, 2019

Pre-Departure Training Australia Awards Indonesia Okt 2018-Mar 2019

Jumat, 8 Maret 2019, saya resmi lulus program Pre-Departure Training (PDT) Australia Awards Indonesia setelah 4.5 bulan. 

Lama? 
Lumayan sih. Sebenarnya ada banyak drama dan hikmah di balik waktu PDT yang cukup panjang ini. Dramanya dimulai ketika H+13 IELTS di IALF Jakarta yang juga adalah rangkaian seleksi AAS, hasil IELTS saya tidak keluar. Awalnya masih berpikir kalau ada masalah teknis atau pada sistem saja. Jadi di hari itu saya masih bisa nonton alt-J dengan senang dan bahagia di WTF. Tapi setelah ditunggu hingga beberapa hari, hasil saya masih tidak bisa dilihat. Sampai akhirnya di hari ketiga saya menelfon IALF Jakarta sebagai test center untuk mendapatkan jawaban bahwa hasil test saya sedang dalam investigasi. Singkat cerita, di H+20 test, hasil saya masih belum keluar sampai akhirnya saya menelfon pihak Australia Awards Indonesia dan mengetahui kalau sebenarnya skornya sudah ada tapi sertifikatnya belum keluar karena investigasinya belum selesai juga.
Kelas 4.5M2 dengan poster masing masing setelah presentasi dan Paula
Rasanya setengah panik kerena ini kali pertama saya tes dan tidak melakukan hal-hal aneh. Saya tes dengan normal, tidak ada kejadian apapun di hari tes. Tapi di sisi lain saya merasa sudah merelakan ini karena tidak PD dengan jawaban saat JST dan menjadi yakin kalau sepertinya saya belum pantas menerima beasiswa di tahun itu. 

Kurang lebih begini: 
Harusnya sih tadi telfon nanyain testnya, tapi ya namanya juga Jumat~ udah cukup bahagia dengan closing order setelah 6 bulan ga beres beres 😭😭😭🌈🌈🌈🌈

Sebagian besar foto kami seperti ini....
Saya tidak pernah tahu skornya hingga di hari saya mendapatkan email yang isinya saya diterima AAS. Dan di hari saya tahu skor ini, saya masih tetap tidak tahu kalau skor IELTS inilah yang menjadi dasar penentuan lama PDT mulai dari 7 minggu, 9 minggu, 4.5 bulan, 6 bulan, dan 9 bulan.

Setelah menerima email ya saya senang senang saja dan fokus untuk mengurus resign (yang akhirnya jadi unpaid leave). 

Jadi kalau berdasarkan hasil test, seharusnya saya masuk kelas 7 atau 9 minggu, tapi karena hasil tes saya itu bermasalah, jadilah dilempar ke kelas 4.5 bulan. Oh ya, fakta ini baru saya konfirmasi di 2 minggu sebelum PDT berakhir. HEHEHE.

Sebenarnya, ada keuntungan tersendiri bagi saya berada di kelas 4.5 bulan. Pertama karena jika masuk kelas 7 atau 9 minggu, PDT dimulai beberapa minggu setelah pengumuman diterima dan saya tidak akan diizinkan pabrik karena bos saya masih cuti melahirkan saat itu. Kedua, karena selama 4.5 bulan saya jadi tahu lebih banyak soal pendidikan di Australia dan jadi punya kesempatan untuk memilih ulang kampus tujuan.

Menurutku kami kelas yang seru banget haha
Blessing in disguise, they say.

Nah, PDT ini adalah salah satu pengalaman yang menurut saya sangat berharga dalam hidup. Sama seperti ketika ikut Newmont Bootcamp yang meski hanya 8 hari tapi berefek sangat besar pada cara pandang saya terhadap banyak hal mulai dari cara berkomunikasi, membangun relasi, hingga mengenalkan saya pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya (full time blogger, fotografer, videografer, konsultan PR). Selama PDT, saya berada sekelas dengan orang orang dari latar belakang pekerjaan dan pendidikan yang beragam. Pegawai dan pejabat pemerintahan, pegawai BUMN, pekerja swasta seperti saya hingga orang yang bekerja di universitas. Lagi-lagi saya mendapat sangat panyak perspektif untuk melihat suatu masalah dan kali ini dengan intensitas yang cukup tinggi karena kami bertemu 5 hari seminggu dan berdiskusi di hampir setiap kelas.

Ada dua hal yang menjadi fokus utama PDT yaitu English for Academic Purpose (EAP) dan Cross Culture Study. Tapi EAP di sini tidak hanya soal meningkatkan kemampuan bahasa Inggris tapi juga study skill dan critical thinking. 

Bagi saya, kelas kelas selama PDT sangat membantu dalam megorganisasikan ide dan mepresentasikannya baik dalam bentuk presentasi verbal maupun tulisan yang dapat diterima secara akademis. Hal ini mungkin tidak terlalu kita sadari, tapi ketika dibiasakan untuk menulis paragraf dengan kalimat utama yang jelas dan kalimat pendukung yang nyambung, pikiran kita juga jadi terbiasa untuk menata ide ide dan elaborasinya. Bukan hanya itu, pengajarnya juga memberikan koreksi dan masukan untuk setiap lembar tulisan yang kita hasilkan. Feedback inipun dibuat dengan sangat detail. Berbeda sekali dengan apa yang saya rasakan selama sekolah dan kuliah dulu yang hasil evaluasinya selalu berupa angka-angka. Dengan feedback tersebut, saya jadi tahu bagian mana yang bisa saya banggakan dan di bagian mana saya masih harus bekerja keras untuk bisa memenuhi standar. 

4.5M2 di akhir bulan pertama PDT bersama Christina
Memang sih, di awal-awal rasanya malaaaaaas sekali menulis dan paling berat kalau Paula, guru kami, memberikan tugas ini. Beberapa kali juga saya harus menulis ulang beberapa essai singkat karena tulisan saya tidak relevan. Hahaha, iya, jadi kalau tulisanmu tidak relevan, mereka akan memintamu menulis ulang dan memberikan feedback kembali untuk revisinya. 

Oh ya, kalau kalimat kita sudah cukup bagus, Paula akan memberikan 1 centang dan kalau kalimat atau paragrafnya sudah sangat bagus dan padu, akan ada 2 centang di sana. Alhasil, saya terobsesi untuk mendapatkan 2 centang. Mencoba menulis sebaik mungkin sesuai dengan masukan dari tulisan sebelumnya. Kami juga biasanya saling membaca tulisan satu sama lain. Bertukar lembar essai yang sudah dikomentari Paula itu di satu sisi untuk melihat cara pandang orang lain terhadap topik itu dan di sisi lain untuk melihat tulisan teman yang mendapat 2 centang agar bisa kita jadikan bahan perbaikan di tulisan kita hahaha. 

Pencapaian menulis terbaik selama PDT tentu saja essai 2000 kata dengan topik sesuai bidang kita. Itu adalah pertama kalinya saya menulis dimana setiap kalimat dalam paragrafnya benar-benar dipikirkan, tidak nyampah, dan sebisa mungkin tidak membuat klaim kosong tanpa bukti pendukung. 

Jujur, selama masa penulisannya, tiap malam tidur rasanya tidak nyenyak. Kepikiran. Tapiiii, saya sangat terbantu dengan program PDT yang super terstruktur ini. Jadi di 2 minggu pertama kami harus membulatkan tema dan pertanyaan untuk essainya. Ada beberapa kali sesi konsultasi yang sangat konstruktif dengan Paula. Pertanyaan-pertanyaannya membuat saya memikirkan ulang tujuan penulisan dan sudut pandang essainya agar tetap menarik dan relevan secara akademis. Selanjutnya ada periode pengumpulan sumber bacaan yang harus dibuat dalam tabel untuk kemudian direview lagi oleh Paula. Paula juga tidak jarang memberikan tambahan sumber bagi saya dan teman teman yang lain baik berupa jurnal maupun kelas kelas online yang sedang membahas topik itu. Pada minggu berikutnya, kami harus membuat mind map untuk semua argumen beserta bukti dan sumber pendukungnya sebelum didiskusikan dengan kelas lain.
Binang sedang mepresentasikan postenya mengenai humanitarian law kalau tidak salah
Selesai dengan diskusi, maka terbitlah draft pertama yang harus dikumpulkan untuk direview Paula. Selama masa review itu, kami disibukkan dengan pembuatan poster untuk dipresentasikan di auditorium. Ini adalah bagian paling seru menurut saya karena ini juga adalah pengalaman pertama melakukan presentasi dengan poster A1. Ketika semua orang sibuk dengan desain poster, komputer di perpustakaan tiba-tiba penuh ahhaa. Banyak dari kami menghabiskan waktu sampai sore di sana. Oh ya, poster juga tidak lepas dari feedback Paula. Setelah poster, tenggat waktu pengumpulan essai final sudah di depan mata! Tapi lagi-lagi, kami tidak dibiarkan tenggelam sendiri. Hari-hari sebelum pengumpulan, kami diberikan waktu untuk mengoreksi draft satu sama lain mulai dari kohesi antar paragraf hingga grammar.
4.5M2 di University Day setelah mengunjungi satu per satu booth universitas
Kelas terakhir bersama Paula
Hari saat pengumpulan essai adalah hari paling melegakan selama PDT. Setelah itu rasanya tidak ada beban. Eh, tapi setelah itu kami masuk fase persiapan IELTS intensif selama 2 minggu.
Briefing¬
Selain belajar bahasa Inggris untuk akademik, ada 3 kelas lain yang wajib kami ikuti selama PDT, yaitu Cross Culture, kelas komputer, dan kelas literasi penulisan akademik. Kelas Cross Culture diadakan 2 kali seminggu, sedangkan 2 kelas lainnya diadakan selang seling karena materinya tidak terlalu banyak.

Cross Culture adalah kelas yang sangat menyenangkan sekaligus baru bagi saya. Di kelas ini, Barbara memberikan berbagai macam materi tentang kehidupan di australia melalui diskusi-diskusi santai. Pembahasannya bukan cuma soal kehidupan akademik, tapi juga kehidupan sosial termasuk berbagai life hacks. Melalui kelas ini saya bisa mendapatkan gambaran mengenai hidup sebagai international student di Australia.


Kelas Cross Culture terakhir dengan kuis ala Famili 100

Menteng Atas, 15.03.2019 21.53
Updated from Oman, 07.04.2018 19.25
Readmore → Pre-Departure Training Australia Awards Indonesia Okt 2018-Mar 2019