Sebongkah Cerita dari Batu Hijau

12:38:00 AM

Apa rasanya 8 hari mengikuti Newmont Bootcamp? 

Senang sekali! dan...lelah~ kegiatan kami di tambang padat sekali kakak.. Bangun pagi pulang malam :p tapi percayalah, semuanya terbayar bahkan melampaui ekspektasi saya. Kegiatan kami selalu dimulai sebelum pukul 6 pagi dan biasanya baru benar-benar bisa istirahat pukul 10 malam (bahkan ada hari-hari yang baru bisa tidurnya pukul 1 pagi).

Jadi bagian senangnya di mana?

Jelas banyak. Pertama, saya sangat senang bisa melihat langsung bagaimana operasi tambang dijalankan, melihat truk monster, dan terkagum-kagum dengan besarnya industri ini. Kedua, banyak fakta baru tentang pertambangan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya (misal: reklamasi bukanlah satu hal kecil, ada waktu, tenaga, dan yang tidak sedikit diinvestasikan untuk mewujudkannya; ada driver haul truck perempuan; etc). Ketiga, bisa melihat sendiri apakah yang mereka (PTNNT) sampaikan di media sosialnya tentang kesungguhan terhadap lingkungan dan sosial sekitar tambang hanya pencitraan atau tidak. Keempat, bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai latar belakang, saya banyak sekali belajar dari mereka. Kelima, bisa menikmati indahnya alam Sumbawa (yang walaupun panas sekali ternyata, hehe).

***

What did You See in Batu Hijau Mining Site?

1. Mulai dari bagaimana teraturnya hidup di dalam lingkungan tambang.
Semua orang yang berada di area tambang punya ID Card yang harus digunakan ke mana pun. Kalau mau makan, harus scan ID Card, mau keluar atau masuk area tambang pun harus scan ID Card. Jadi kalau ID Card-nya hilang, ya gak bisa makan, gak bisa kemana-mana. (Sayang sekali gak ada foto ID Card, habis nama saya salah sih ._.)

Wajib Sabuk Pengaman
Selain itu, tidak sembarang orang boleh mengendarai mobil di area ini (motor gak boleh masuk, ya). Mereka harus punya SIM yang di keluarkan oleh PTNNT sendiri. Bagian yang membuat saya kagum adalah setiap orang yang berkendara di sini sangat taat pada rambu lalu lintas. Mereka berhenti di setiap tanda stop, membunyikan klakson 2 kali saat akan maju, membunyikan klakson 3 kali saat akan mundur, memastikan penumpang bus memakai seatbelt, berkendara dengan kecepatan sesuai batas yang ditentukan (walaupun jalannya sepi, mereka tetap ada di dalam batas). Bahkan, ketika kami keluar area tambang, driver bus yang kami tumpangi tetap melakukan kebiasaan mereka dalam hal mengklakson. 

Wondering how did they do it? Well, kalau driver melanggar peraturan berkendara, SIM (issued by PTNNT) mereka akan dilubangi. Kalau lubangnya sudah 3, berarti mereka gak boleh bawa kendaraan lagi di sana yang juga berarti...they will lose their job (kalau pekerjaannya adalah sebagai driver). Mengingat operasi pertambangan memang penuh risiko dan harus dijalankan dengan menjunjung tinggi keselamatan kerja, keteraturan dalam berkendara memang sudah seharusnya menjadi suatu hal yang wajib. (Tapi tetap saja menurut saya ini keren sekali, apalagi dibandingkan dengan kelakuan pengendara di jalanan ibu kota...)
Jejer-jejer lucu

2. Huge haul truck and the big great hole.
Meskipun sudah jadi mahasiswa tahun terakhir (yang telat yudisium karena lebih memilih ikut Newmont Bootcamp), ada jiwa anak anak yang selalu senang melihat hal-hal imajinatif dari masa kecilnya di depan mata. Salah satunya adalah haul truck, truk berkapasitas 240 ton yang digunakan untuk mengangkut batuan yang mengandung mineral (tembaga, emas, perak) dari lubang tambang menuju mesin penghancur (crusher). When I saw it, i feel like "OMG! It's real! I see the monster!". Belum bisa membayangkan haul truck sebesar apa? Take a look at the pic. Bahkan kita bisa duduk duduk manis ngadem di kolong truk ini (jangan diikuti, kemarin kami kena marah :p haha). Tebak berapa harga ban truk monster ini! Clue: seharga city car yang bagus atau mungkin lebih. Satu haul truck punya 6 ban yang dipakainya cuma tahan sampai 6 bulan. Oya, melihat Ford Ranger putih diparkir berjejer rapih juga salah satu hal yang bikin saya senang. 

The Monster Truck
Monster Truck and Me
Monster Truck and Me (2)
Menuju Pit
Hal lain yang juga menakjubkan menurut saya adalah lubang tambang. Guede! Dalamnya sampai -240m, diameternya sampai 2,7 km. Dan kalau diintip dalamnya ada genangan air berwarna turquoise. Cantik. Fyi, genangan air itu ada akibat hujan haha. Kalau dilihat-lihat sih, lubang tambang ini mirip stadion bola. Ya kan?

Mine Pit
3. Long way to produce concentrate.
Sebelum datang ke Batu Hijau, pernah sih saya baca tentang bagaimana proses penambangan yang dilakukan PTNNT di websitenya. Tapi karena belum pernah melihat tambang secara langsung, pemahaman saya masih parsial. Terbayang sih, tapi setelah dilihat langsung, ternyata prosesnya lebih menarik daripada penjelasan booklet yang saya download. Dari yang saya baca, saya tahu PTNNT menghasilkan konsentrat, bukan emas batangan, tapi sejujurnya saya tidak pernah terbayang bentuk konsentrat seperti apa, bagaimana disimpannya, dan sebanyak apa yang disimpan.

Untuk menghasilkan konsentrat, proses awalnya adalah proses penambangan yang dimulai dengan kegiatan pengeboran dan peledakan. Kegiatan itu menyebabkan terlepasnya batu-batuan berukuran relatif besar (diameter sekitar 25 cm). Batuan tersebut kemudian diangkut oleh haul truck menuju mesin penghancur sehingga batuannya jadi makin kecil (diameter kurang dari 15 cm). Bijih batuan ini selanjutnya diangkut ke pabrik pengolahan dengan bantuan ban berjalan (conveyor). Di sini, bijih digerus menjadi partikel halus. Untuk memisahkan mineral berharga dari pengotornya, dilakukanlah proses flotasi secara fisika yang tidak menggunakan zat kimia berbahaya dan hanya dalam jumlah terbatas. Pada proses ini akan terbentuk gelembung-gelembung udara yang mengambang ke atas wadah flotasi. Gelembung tadi adalah tempat menempelnya mineral berharga. Nah, mineral berharga yang menempel pada permukaan gelembung inilah yang disebut konsentrat. Tapi sebelum siap dikirim ke berbagai tempat untuk menjalani proses pemisahan dan pengambilan logam berharga, konsentrat ini harus dikeringkan terlebih dahulu sehinga bentuknya menjadi seperti pasir yang sangat halus dengan kilau-kilau jika terkena cahaya.
Batuan (diameter < 15 cm) sampai di Concentrator Plant
Mill untuk menggerus batuan menjadi partikel halus
Walking around Concentrator plant

Proses Flotasi, Gelembung Berselimut Konsentrat

Konsentrat mengandung sekitar 25-30% tembaga, 10-15 ppm emas. Atau sederhananya dalam 1 ton konsentrat ada 250-300 kg tembaga, 10-15 gram emas.

Eh tapi belum selesai di sana. Ada hal lain yang tak kalah penting untuk diurus selain tembaga, emas, dan perak yang tadi didapat: tailing. Tailing adalah lumpur yang tersisa dari proses flotasi. Tailing ditempatkan di bawah wilayah laut yang produktif secara biologis melalui pipa sepanjang 6 km di darat dan 3.4 km dari garis pantai hingga tepi palung laut di Teluk Senunu. Tailing akan turun dengan sendirinya ke palung laut karena kepadatan dan berat jenisnya. Tailing tidak dibiarkan begitu saja. Penempatannya di dasar laut selalu dipantau secara berkala untuk memastikan dampak potensial yang minimal bagi lingkungan (terumbu karang, biota laut, mutu air).
Tailing, wujudnya seperti lumpur
Sistem Pipa Tailing
Jadi, terbayang kan sekarang, kenapa harga logam-logam itu mahal? Harga jualnya harus menutup selain biaya proses penambangan dan pengolahan, tetapi juga biaya untuk penempatan dan pemantauan tailing, serta biaya yang harus mereka keluarkan untuk mereklamasi area tambang. Belum lagi biaya untuk CSR...
Gunung Konsentrat di Benete, Ready to Ship
4. Reklamasi bukan perkara ringan
Reklamasi adalah salah satu topik yang menurut saya sangat menarik untuk dibahas. Intinya sih, reklamasi merupakan upaya untuk mengembalikan lahan yang dibuka untuk pertambangan sehingga risiko rusaknya lingkungan bisa diminimalkan. Hinggal tahun 2013, PTNNT telah mereklamasi 725 hektar lahan dari total 2,532 hektar lahan yang dibuka. 
Karena saya sangat excited menceritakan apa yang saya lihat tentang reklamasi di Batu Hijau, selengkapnya akan dibahas dalam satu artikel tersendiri (which will be posted soon!).

Lahan yang baru direklamasi akhir 2015
5. Transparansi
Selama di Batu Hijau, peserta Newmont Bootcamp bisa bertanya apa saja tentang seluk beluk tambang. Semua pertanyaan tersebut dijawab oleh pakarnya dengan sejelas mungkin. Kami pun diberikan kesempatan berkunjung ke kantor-kantor mereka, melihat langsung apa yang mereka kerjakan. 
Ruang kontrol concentrator

Peserta selalu sangat bersemangat untuk bertanya di setiap bagian yang kami datangi. Bagaimana tidak? Tambang bukanlah hal yang umum dijamah. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk benar-benar mengenal tambang. Banyak diantaranya membawa buku catatan kecil, ada juga yang ketik-ketik di note smartphone-nya, bahkan ada yang lebih niat lagi, Ibu Evi (mungkin karena sudah begitu berpengalaman urusan menggali informasi) sampai punya semacam voice recorder kecil yang beliau gantungkan di leher. I wish I had one, hehe. 

Tulisan ini hanya sebongkah dari apa yang saya temukan di Batu Hijau. Akan ada lebih banyak banyak lagi hal yang akan saya ceritakan tentang Newmont Sustainable Mining Bootcamp kemarin.  I labelled it #NewmontBootcamp.

See you on the next post!

Menteng Atas, 24/02/2016

Kadek Dwika

You Might Also Like

10 comments