Back in Days: Kindness and Happiness

1:00:00 AM

Dua hari yang lalu, hujan yang cukup deras baru saja reda di selatan Jakarta. Saya pergi ke warung dekat kosan tanpa payung. Pulangnya, saya berjalan kaki tepat di belakang dua bocah kecil dan payung-payung lebar mereka yang sudah terlipat. Kemudian mereka berhenti di depan warung makan. Kurang lebih yang mereka bicarakan adalah menu apa yang enak dan akan mereka pesan. Saya pun berlalu, tersenyum, bahagia. 

I dont have the picture of that two little boys, here is two little turtle facing the wild world for the first time :)

Potongan cerita dua bocah kecil sore itu membawa saya pada ingatan tentang bagaimana hal-hal kecil bisa dengan sangat mudah membuat kita bersyukur dan bahkan merasa bahagia. 

Melihat dua bocah itu memilih makanan enak yang mereka inginkan dengan uang hasil dari berkah hujan, buat saya itu membahagiakan. It makes me smile till i went sleeping.

Ada juga cerita hujan lain yang membawa saya pada rasa syukur yang amat sangat. Cerita hujan di penghujung tahun 2015 ketika kami merayakan tahun baru di sebuah mall di Serpong dan hampir tidak bisa pulang karena jalanan macet, tanpa taxi atau angkutan apapun yang bisa kami tumpangi. Beruntung, amat sangat beruntung, seorang security membantu mencarikan kami tumpangan, meminjamkan password wifi--sinyal provider saya jelek banget disana--agar kami bisa pesan taxi/ojek online, tapi tetap tidak berhasil hingga akhirnya beliau sendiri (dan beberapa temannya) yang mengantarkan kami langsung. Meminjami saya jaket karena hujan yang semakin deras. Tanpa dibayar. Mengantarkan kami selamat sampai tujuan tanpa kurang satu apapun. Tanpa mencoba menggoda kami sedikitpun. I felt so grateful that night, gak ngerti lagi apa jadinya kalau gak ada mereka.

Kebaikan bukan cuma tentang apa yang kita dapat, tapi juga apa yang kita lakukan. Keduanya bisa membuat saya tersenyum dan senang. Ada euphoria tersendiri yang entah apa namanya.

Waktu itu saya sedang duduk di student lounge kampus. Dua orang perempuan di sebelah saya--sepertinya angkatan bawah--berbicara dengan suara direndahkan, dia butuh pembalut. Saya tergelitik, rasanya ingin saja memberikan apa yang ia butuhkan dan kebetulan saya punya. Awalnya ragu, I was thinking like what if they think I am weird, silently listening to their conversation. Pada akhirnya I asked her to reconfirm if she need it and i gave one for her. She said thanks. And that made me happy. My first simple action of helping to stranger in campus. 

Back in days, I was waiting for a bus but no bus is coming. Then I asked a security why I can't find the bus there. Beliau bilang rute bus yang menuju arah tujuan saya tidak lewat jalan itu, saya harus jalan cukup jauh kalau mau dapat busnya. Beliau juga tidak lupa menunjukan arah yang harus saya lalui. Setelah berjalan beberapa menit, seorang petugas dari kantor itu ada yang kebetulan searah dengan saya, mengendarai motor, menghampiri dan menawari saya tumpangan ke tempat menunggu bus. I didn't know him. He didn't know me. But he kindly offered me a little yet meaningful help. That kindness I got that day has encouraged me to do the action in paragraph before.

We don't need to know each other to help each other.

Doing kindness is not only about helping others, it is also about helping ourselves. 

Helping ourselves to feel the compassion, to achieve happiness.

Everyone wants to be happy, no?

Well, although each of us might defined happiness differently, I think there is an universal definition of happiness beside the one we defined: the feeling we got after doing, getting, or watching kindness. No, I don't feel like it's the right definition. Just conclude it yourself :)


Menteng Atas, 02/03/2016

Kadek Dwika 

You Might Also Like

4 comments