Seleksi AAS - Bagian Satu

2:51:00 PM

Setelah tulisan galau ulang tahun kemarin. Here I am back with a good news!

Dwika lulus seleksi AAS 2018.

Agustus 2018.
- Sepanjang minggu ketiga Agustus sudah ketar-ketir menunggu email. Tidak ada email hingga akhir minggu.
- Senin, 27 Agustus 2018, masih sabar me-refresh email selang beberapa waktu sekali. Sorenya ada kabar kalau beberapa kandidat di grup WA (info dari teman yang menjadi anggota grup tersebut) kalau sudah ada yang mendapatkan email penerimaan. Jelang magrib saya pulang, lelah sekali hari itu. Sampai di kost pun saya hanya sanggup goleran tanpa ganti seragam saking malasnya. Malas, mengantuk, tapi belum bisa tidur.
- Senin, 27 Agustus 2018, hampir jam 11 malam, masih sibuk scrolling instagram. Teman saya kembali membawa berita kalau beberapa orang di grup WA baru saja menerima email lagi. Saya penasaran, kembali me-refresh email. Ada notifikasi visual angka (1) pada folder inbox yang diikuti dengan dering notifikasi. Hmm..
- Email dari Longterm Awards. Saya hanya bisa mencerna beberapa kata: delighted, successful. Dalam keadaan yang setengah mengantuk, saya tahu saya tidak boleh percaya begitu saja dengan yang saya baca. Pelan-pelan kantuk menguap. Bingung. Ini sungguhan?
- Email saya teruskan kepada kakak untuk ia baca dan memastikan saya tidak salah membaca. Kemudian kami bicara di telepon cukup lama. Tertawa. Menertawai keberuntungan saya yang sepertinya besar sekali.

Januari 2018.
Tidak sengaja saya ngobrol lewat pesan di line dengan seorang teman baik semasa kuliah, Idrus namanya. Dalam percakapan yang tak terlalu panjang itu, ia menyarankan saya untuk mencoba mendaftar beasiswa Australia Awards dengan intro bahwa persyaratannya tidak rumit.

Saya waktu itu memang sedang bosan bosannya dengan bangku dan komputer pabrik. Rasanya ingin sekali melakukan hal baru tapi masih terikat oleh ikatan dinas MT yang waktu itu masih 18 bulan lagi. Lama betul.

Setelah obrolan itu saya mulai browsing soal Australia Awards, mengecek persyaratan dan menakar apa-apa saja yang harus dilakukan dan tentu saja timelinenya. Ah, sok-sokan bikin timeline, ujung-ujungnya hanya jadi pajangan post-it di sebelah PC.

Februari - April 2018.
1 Februari 2018 pendaftaran online AAS dibuka. Saya langsung membuat akun untuk mendaftar, mengisi data diri, kemudian mentok. Banyak bagian dilewati karena banyak hal.
- Belum menerjemahkan dan melegalisir dokumen
- Belum punya hasil tes bahasa Inggris apapun
- Belum tahu mau ambil kuliah apa dan dimana
- Tidak ada ide menulis apapun di kolom-kolom essay.

Sepanjang Februari hingga April, saya mencoba menyiapkan apa yang gampang disiapkan seraya berpikir "Ah, masih lama kok." Pikiran yang menjebak sekali.

Dokumen-dokumen sebenarnya cukup mudah, tapi ya, tetap saja ada drama. Dalam cerita saya: dokumen terjemahan salah tanggal ijazah dan baru sadar beberapa hari sebelum batas waktu pendaftaran, sudah malas sekali mengurus ulang. Akhirnya ya sudah dikumpulkan saja.

Tes bahasa Inggris. AAS menerima baik hasil TOEFL maupun IELTS. Saking baik hatinya bahkan mereka menerima hasil TOEFL ITP. Tentu saya tidak langsung mendaftar untuk tes. Saya tes 10 hari sebelum pendaftaran AAS ditutup. Yap. Dwika adalah deadliner sejati. Bukan apa-apa, waktu itu sebenarnya mau test lebih awal tapi belum belajar sama sekali. Mau test di tanggal dengan waktu ideal, eh yang dalam jangkauan sudah penuh semua. Waktu yang saya punya untuk belajar dari hari saya mendaftar untuk test sekitar 1 minggu, tapi... yaa... tau sendiri lah. Deadliner...

Oh ya, satu lagi alasan memilih test TOEFL ITP: lebih murah, hanya sekitar 450 ribu rupiah. Mana sanggup saya bayar 2.3 juta untuk test semacam itu. Um, mungkin sanggup, tapi rasanya tidak rela. Ehe.

Selanjutnya soal jurusan kuliah dan dimana. Sebenarnya saya agak malu sih kalau cerita soal ini. Apalagi beberapa menit lalu habis membaca blog-blog pengalaman mendaftar beasiswa dengan usaha yang keren-keren sekali hingga mendapatkan LOA. Pada kasus saya, saya tidak tahu mau kuliah apa dan dimana. Saya hanya berpikir untuk kuliah supply chain. Saya sadar juga kalau supply chain saja terlalu biasa. Kenapa harus kuliah supply chain pula kan? Kenapa pula harus di Australia? Ah, beruntung sekali AAS tidak mewajibkan LOA sebagai syarat pendaftaran.

Saat dua pertanyaan itu belum saya dapat jawabannya, sejujurnya saya sempat mengacuhkan isi pendaftaran AAS dan berpikir, "Ah, sudah, daftarnya tahun depan saja kalau sudah lebih matang."

Sampai akhirnya di satu siang yang acak, saya bertemu Dea dan kawan-kawan seperjuangan program BFLDP dari unit berbeda. Ketika saya bilang sedang mendaftar AAS, Dea dengan cekatan mengenalkan saya satu jurusan yang kedengarannya menarik sekali. Jurusan itu juga yang akhirnya saya isi hingga dokumen dikumpulkan. HAHA! Terima kasih, De!

Dokumen, TOEFL, dan tujuan kuliah sudah dicentang. Kolom-kolom essay saya baru terisi sebagian bahkan di hari terkhir pengumpulan. HAHAHAHAHA. Sungguh, pertanyaan pertanyaanya seperti tidak sulit tapi setiap jawaban yang saya ketik kok rasanya tidak sesuai, kurang pantas, tidak keren.

Dengan semangat yang tidak lagi menggebu, saya mencoba melengkapi jawaban setidaknya agar tidak terlalu bikin malu karena jawabannya terlalu pendek.

And it was done. Saya buru-buru menekan tombol submit sebelum jam pulang. Pendaftarannya tutup di hari itu juga, jam delapan malam kalau tidak salah.

Saya tidak pernah lagi memikirkan AAS.

bersambung...

You Might Also Like

0 comments