Berkenalan dengan Jualan (Online)

7:51:00 PM

Pertengahan 2018 kemarin, National Geographic membuat sebuah kampanye tentang polusi plastik yang semakin mengancam. Kilas potongan gambar dan video insta story mereka benar benar membuat ingin tahu lebih banyak. Akhirnya sepulang kerja saya buru-buru ke Gramedia dekat kosan untuk membeli majalah Natgeo edisi Juni 2018: Bumi atau Plastik. Ohya, majalah ini adalah awal mula saya jualan sedotan stainless.

Jujur saja, kampanye mereka sangat sukses membuat saya berpikir ulang soal konsumsi plastik saya yang sangat tidak bijak selama ini. Soal kebiasaan-kebiasaan menggunakan plastik yang sebenarnya tidak perlu, misalnya kantong kresek dan sedotan plastik sekali pakai. Mereka punya satu artikel membahas hal-hal yang bisa dilakukan untuk mulai diet plastik; yang juga didahului dengan fakta betapa banyaknya sampah plastik yang sebenarnya perlu. 

Hari-hari sehabis membaca saya sibuk bolak-balik marketplace online lokal mencari sedotan stainless untuk dipakai sendiri. Ada beberapa akun yang menjual sedotan stainless saat itu, tapi mereka menjual dalam paket yang terdiri dari 4 atau lebih sedotan. Ada juga yang menjual satuan, tapi harganya malah jadi lebih mahal.

Sampai akhirnya saya menemukan penjual dari luar negeri di Shopee. Harga sepaket sedotan isi 4 lengkap dengan pembersihnya setara dengan harga satuan yang dijual oleh akun-akun Indonesia. Masih belum selesai di situ, saya mencoba mencari lagi di marketplace luar dan wahhhhh mereka menjual dengan harga yang jauh sekali dari harga di Indonesia. Hanya saja, pembeliannya dalam lot (1 lot = 100 pcs). Obviously, hahah!

Perlu beberapa minggu sampai akhirnya saya memutuskan untuk membeli 2 lot sedotan untuk coba dijual. Pertimbangannya: 
1. saya tidak berbakat jualan, semua orang tahu.
2. saya ingin mencoba hal baru, setidaknya saya ingin membuktikan apa iya kemampuan jualan saya seburuk itu.
3. THR! ada THR yang bisa dipakai hahahah! Jadi kalau rugi, tidak begitu sedih.

Yap. Saya beli dan menunggu dengan sabar. Kurang dari seminggu, 200 pcs sedotan sampai di tempat kerja. Huahahaha! 

Saya harus menunda hingga akhir pekan untuk mulai urusan jejualan dari mebuat akun instagram, mengambil gambar yang cukup layak untuk dipajang, membuat desain logo, desain post instagram dan beriklan lewat akun pribadi. 

Minggu-minggu awal akun dibuat, jualan saya lebih banyak pada orang-orang yang saya kenal. Teman, temannya teman, atau temannya keluarga. Tapi rasanya jualan seperti ini memakan waktu yang lama sekali. Then, i learned about instagram ads. Boom! Instagram ads benar benar berefek positif pada engagement, begitu juga dengan penjualannya. Well, it was not happen in a blink. Pemilihan audience pada iklan pertama saya agak kurang pas (which I realized later), waktu itu hanya followers yang naik, tapi penjualan tidak sebaik waktu-waktu berikutnya (tapi saya sudah senang sekali ada orang tidak dikenal yang belanja).

But again, i learned. Saya belajar memilih audience yang lebih cocok dan juga mengambil gambar yang lebih baik. Sepertinya kalau tidak kenal instagram ads saya benar-benar akan berpikir kalau saya tidak berbakat jualan sama sekali.

Rasanya menyenangkan sekali membuktikan pada diri sendiri saat berhasil melepas label tidak berbakat jualan itu. Bangga luar biasa ketika mulai restock! Pada titik ini saya tidak berpikir soal nominal keuntungan yang diterima sama sekali.

Sampailah pada waktu jualan sudah balik modal dan keuntungannya terkumpul. Saya cukup terkejut dengan saldo rekening. Sebagai orang dengan cashflow buruk, jejualan ini menyelamatkan saya dari hari-hari dompet tipis. Anehnya, saya jadi lebih disiplin soal uang. Setiap rupiah yang dipinjam dari rekening jualan untuk kebutuhan pribadi akan langsung saya kembalikan setelah gajian. Di titik ini, casflow saya membaik dan menjadi sangat sehat. I really appreciate myself! hahaha

Bukan cuma perbaikan cashflow, jualan ini juga yang akhirnya menjadi jalan untuk membeli hal-hal tersier seperti kamera polaroid yang sejak dulu ingin beli tapi tidak kunjung dibeli dan juga mensponsori acara jalan jalan jajan saya ke Semarang.

Saya masih terkesima hingga saat ini. Bagaimana mungkin jualan online hal kecil bisa membuat banyak perubahan. Hanya membalas chat sambil goleran atau sedang di kereta kemudian mengecek transfer masuk yang juga semudah mebalas chat pacar. Hanya membungkus dan menulis alamat paket sepulang kerja kemudian dikirim sekalian membeli makan malam. Punya kebebasan menentukan beli dimana, warna apa, berapa banyak, budget iklan, desain post, jualan jam berapa, diskon berapa. This is very exciting, to arrange everything by yourself and you get paid for it! 

Apa kabar mereka yang benar-benar menjadikan jualan sebagai profesi? Well, my mother does. Ibu jualan di kantin dari saya umur 4 tahun sampai sekarang. Ibu dan jualan kantinnya membiayai sekolah kami (saya, kakak, dan esa) hingga lulus kuliah. Kalau cuma dengan gaji Bapak, saya tidak mungkin kuliah dengan uang jajan yang masih cukup buat hal-hal tersier. Ibu contributes a lot. Dan saya baru sadar sekarang kalau jualan bisa se-powerful itu. 

Menteng Atas, 12.11.2018
-one day after the 11.11 bigsale-

You Might Also Like

0 comments