Saturday, January 30, 2021

Hal-hal yang Kupelajari dari Kulit Wajahku (Nov 2020 - Jan 2021)

Disclaimer: tulisan ini sepenuhnya dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, tanpa riset-riset soal kesehatan kulit yg serius. Jangan gunakan sebagai acuan. 

Oktober 2020 adalah bulan ketika saya merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan kulit wajah. Ini bukan karena penampakan kulit wajah yang tidak mulus, tapi lebih kepada rasa sakit dan gatal yang timbul bersama jerawat-jerawat yang tidak kunjung selesai. Sebenarnya kalau ditarik ke belakang, kulit saya tidak pernah rewel sepanjang masa sekolah dan kuliah. Saya baru mulai berurusan dengan setelah bekerja di Bekasi. Awalnya ya satu dua, eh merembet jadi urusan yang tidak selesai. Hilang satu, tumbuh lagi di tempat lain. Waktu itu sih merasa tidak terlalu mengganggu karena ya masih bearable. Jadi tidak terlalu ambil pusing. Pakai produk untuk wajah juga seadanya (sabun cuci muka, pelembab jarang jarang, tidak pernah pakai sunscreen). Tidak pernah mendedikasikan waktu untuk mencari tahu kenapa dan harus apa hehehe.

Entah karena sedang stress akibat quarantine berkepanjangan atau juga memang kulit sudah lelah sekali, di Oktober 2020 rasanya jerawat-jerawat ini mulai kelewatan. Akhirnya tidak tahan dan mulai mencari tahu (juga karena tidak banyak yang bisa dilakukan karena quarantine lol).

Di tulisan ini saya akan merangkum hal-hal yang saya pelajari dari cerita menghadapi jerawat dari Oktober kemarin.

1. Basic Skincare Routine (Cleanse - Moisture - Protect)

Fun fact: saya baru tahu basic skincare routine di usia 26 tahun! 

Ini juga karena seorang teman (Dey @deylupi on instagram) yang sangat passionate berbagi soal skincare di akun instagramnya. Awalnya ya saya cuma liat-liat saja, tidak ada keinginan untuk benar-benar cari tahu. Eh tapi karena dia selalu preaching soal cleanse-moisture-protect kok ya nyangkut di kepala. Alhasil waktu muka ini breakout gak kelar-kelar, satu yang saya yakin harus dilakukan adalah melakukan rutin dasar itu. Dey amat sangat menekankan kalau hidrasi adalah hal paling utama yang harus dikhatamkan sebelum hal lain. Singkat kata, kalau kulitnya lembab, kerewelannya bisa ditekan, terus kita bisa lebih fokus mengatasi masalah-masalah utamanya. Kalau mau penjelasan lebih rapih, cek instagram @deylupi aja ya.

Dari sana, saya mulai mengecek produk-produk (yang gak seberapa) yang saya pakai dan sadar kalau sepertinya cleasing step ala waktu itu ala kadarnya (cuci muka selalu buru buru), pelembab gak seberapa lembab (tanpa dibarengi produk lain yg melembabkan jg). Satu satunya yang bisa dibanggakan waktu itu ya cuma udah rajin pakai sunscreen. Sejujurnya, waktu itu sangat tergoda mau beli foreo karena berpikir kalau, "jangan jangan cuci mukanya kurang deep jadi banyak kotoran tidak terangkat. Mungkin kalau pakai bantuan alat bisa lebih bersih terus jerawatnya ilang". Untungnya karena Foreo mahal, saya urungkan niat dan meyakinkan diri untuk menghabiskan sedikit lebih banyak waktu untuk double cleasnsing.

 

Oh ya, beberapa tahun lalu saya sebenarnya pernah sudah pernah pakai micellar water (yang harganya agak mahal) untuk double cleansing tapi malah jerawatan. Dengan sok tau saat itu saya pikir kalau saya tidak cocok pakai micellar water. Ternyataaaaa, i did it wrong. lol. Micellar water ternyata harusnya dipakai sebelum cuci muka, bukan setelah. Haha. Kali kedua pakai micellar water dengan step yang benar, it does help!

 

Hasil dari basic routine ini tentu gak kelihatan dalam semalam (lihat foto Dokumentasi Fase Pertama). Harus konsisten, mau meluangkan waktu melakukan step yang benar dan meluangkan biaya untuk mengganti produk yang tidak cocok.

 

2. Exfoliate untuk meluruhkan kulit mati

Setelah yakin dengan rutinitas dasar di poin 1 sudah dilakukan dengan baik, akhirnya saya merasa perlu untuk step up ke exfo untuk mengikis kulit-kulit mati yang bisa menyumbat pori dan akhirnya bikin jerawat. 

 

Dari pengalaman sebelumnya, saya pernah pakai physical exfo dengan scrub yang berujung muka jadi breakout. Saya juga pernah pakai chemical exfo the bodyshop yang sebenarnya cukup berefek waktu rajin dilakukan. Pernah juga pakai exfo paula's choice BHA 2% tanpa benar benar tahu cara kerjanya dan ga ngefek sama sekali. Dari situ saya mulai cek cek lagi, produk exfo apa yang harus dipakai kali ini.

 

Lagi lagi ini soal top of mind. Beberapa tahun lalu, Melo pernah cerita kalau dia pakai serangkaian produk Paula's Choice dan hasilnya ampuh untuk masalah jerawatnya. Saya tertarik mau coba lagi, apalagi kali ini ceritanya sudah cukup yakin dengan basic skincare

 

Ternyataaaaaaa, it works!!!! (lihat foto Dokumentasi Fase Pertama)

Setelah beberapa minggu dengan basic routine, saya mulai pakai salicylic acid (exfo) dan benzoyl peroxide (spot treatment). Saya rasa sih ini karena kulitnya sudah cukup terhidrasi sehingga efek dari produk eksfoliasi jadi lebih keliatan. Ngga fail kayak dulu :')

Dokumentasi Fase Pertama: Oct-Nov 2020

3. Konsisten

Memasuki tanggal 20-an November, kulit saya mulai rewel lagi. Padahal step skincare yang saya lakukan masih sama. Saya curiga sih ini karena dua hal. Pertama pergantian musim ke summer dan lagi-lagi masalah hormon karena stress mau lulus hehe. Waktu itu saya tetap saja bertahan dengan rutinitas basic. Oh ya, penggunaan exfo juga saya lanjutkan tapi mengganti produknya ke jenis lain (BHA yang dulu pernah saya coba dan tidak ada efek) sekitar tanggal 20an Desember karena produk sebelumnya habis (travel size doang sih). Eh cocok juga dong ternyataaaaaaa. See the picture below!!!

 

Foto terakhir (26 Jan 21) diambil saat saya sudah sebulanan di Indonesia. Can u see the progress?? Jauh banget kaaaaaaan? I guess my hormone sudah agak tenang karena sekarang sudah lulus jg sih lol. Tapi perbaikan tekstur, bekas jerawat yang pudar??? All hail the hydration and some help from exfo sihhhhh.

 

Intinya ya mesti konsisten dengan si basic routine yg sudah baik itu. Usaha ngga akan mengkhianati. hehe.

Dokumentasi Fase Kedua: Nov 20 - Jan 21


4. Mencari produk yang sesuai

Tentu saja ini adalah step yang perlu usaha dan biaya karena cara paling gampang untuk tau produknya cocok atau engga adalah dengan dicoba. Sejujurnya saya gak belajar banyak soal kandungan-kandungan skincare, jadi keputusan beli produk ya banyakan dari liat klaim di kemasan mereka ._. Lagi lagi ini bukan untuk dicontoh ya. Akan sangat baik kalau mampu meluangkan waktu untuk belajar, membaca dulu apa yang sekenanya cocok untuk kebutuhan kita. Nah karena ketidakmampuan itu, saya mesti merelakan beberapa puluh dolar untuk produk-produk yang kurang cocok. Mulai dari pelembab yang kurang cukup menghidrasi hingga sheetmasks yang akhirnya tidak dipakai. Memang sih tidak sebanyak itu, tapi tetap saja sebal.

 

Dalam kasus saya, sangat gampang untuk membeli produk dari brand yang ada di top of mind saya. Dan biasanya ini adalah brand-brand yang pernah disebutkan cocok oleh teman terdekat yg saya percaya opininya dalam urusan per-skincare-an.

 

Satu hal yang sangat penting untuk dicatat: satu produk mungkin cukup lembab/efektif pada satu orang tapi mungkin tidak sama sekali pada orang lain. Kamu perlu mencari tahu sendiri produk mana yang cocok untukmu. 



Sebagai penutup, mengenali kulit sendiri memang bukan hal mudah. Ini bahkan lebih sulit dari mengenali anatomi vagina saat belajar menggunakan menstrual cup. Jadi perlu kesabaran ekstra untuk belajarnya. Kalau mau cepat ya berarti perlu mencari bantuan profesional, yaaa.



Ditulis di Kota S

Readmore → Hal-hal yang Kupelajari dari Kulit Wajahku (Nov 2020 - Jan 2021)

Tuesday, January 19, 2021

Bagaimana Membuat Proses Test Antigen di Balimed Buleleng Agar Lebih Efisien

Halo! Ini adalah post pertama saya di 2021 dan ini agak produktif sih, hehe. Ceritanya sekitar dua minggu lalu saya test COVID-19 jenis Antigen di salah satu rumah sakit di kota saya yaitu Balimed Buleleng. Sejujurnya, kalau dilihat dengan kacamata lokal (dibandingkan dengan layanan publik di Buleleng pada umumnya) prosesnya bisa dibilang cukup baik bahkan perlu diapresiasi karena keramahan dari personilnya. Tapi, berhubung kemarin saya mengambil kelas Business Process Management, jadinya merasa ada yang cukup mengganjal dengan proses tersebut. Dua masalah yang saya temukan adalah 'overservice' dan 'inefficiency'. Keduanya memang sangat berkaitan, tapi pada kasus ini akan saja jabarkan untuk dua hal berbeda.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang kedua masalah tersebut, mari kita lihat dahulu proses yang saat ini dijalankan (as-is).

Proses utama dari Tes Antigen di Balimed Buleleng bisa dipecah menjadi dua proses besar. Pertama adalah Registrasi dan kedua adalah proses Tes itu sendiri (Test Day). Kebetulan di hari saya mendaftar, saya datang sekitar pukul 10.30 siang sedangkan pendaftaran dan test mereka ditutup pukul 10 pagi dengan maksimum 15 test per hari. Sehingga di hari pertama saya hanya bisa mendaftarkan diri dan kemudian dilakukan test di hari berikutnya. 

Ilustrasi proses registrasi eksisting dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Salah satu masalah  proses ini dari sudut pandang pengguna layanan adalah tidak adanya petunjuk arah sehingga pengguna layanan sangat bergantung pada arahan dari personnel rumah sakit seperti security. Dari sudut pandang sumber daya pemilik proses, tidak adanya petunjuk arah ini menyebabkan perlunya mendedikasikan pekerja untuk melayani pengguna. Padahal, penggunaan sumber daya ini dapat diminimalisir (meminimalisir pergerakan security dalam escorting dan meminimalisir usaha dalam memberikan petunjuk arah). Selain itu, hal ini juga akan meminimalisir kontak antara pengguna layanan dan pekerja rumah sakit yang sangat penting di kondisi pandemi. Selanjutnya di area resepsionis terjadi pengulangan informasi yang disampaikan pengguna layanan. Dalam hal ini saya kembali mengucapkan keperluan untuk test. Lagi-lagi ini sebenarnya tidak efisien karena sebaiknya informasi ditangkap cukup satu kali saja. Setelah mengulangi hal tersebut barulah saya mendapatkan penjelasan secara mendetail tentang tes tersebut. Tidak banyak kompain di sini meskipun saya harus mengisi form secara manual dan kemudian (asumsi saya) petugasnya memasukan data saya ke dalam sistem. Tapi saya tidak akan membahas mengenai otomatisasi sistem karena sepertinya kurang feasible dari aspek jumlah tes harian dan biaya yang harus dikeluarkan untuk otomatisasi.
COVID-19 Antigen Test at Balimed Buleleng - Registration (as is)

Bagian kedua dari proses ini adalah bagian utamanya yaitu Test Day. Ilustrasi proses di Test Day dapat dilihat pada diagram di bawah ini. Proses ini menurut saya sangat tidak efisien karena banyak sekali waktu tunggunya. Lagi lagi salah satu penyebabnya adalah tidak adanya petunjuk yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan di setiap sub-prosesnya. Ketika saya datang, saya ditanyai nama, kemudian disuruh menunggu. Kemudian mereka memanggil saya, memberikan stiker nama (yang nantinya diberikan ke petugas tes) dan menunggu lagi, lihat diagram di bawah. Untungnya, para pegawai di sana sangat ramah, jadi ketidakpuasannya bisa diredam. Nah, masalah lain yang timbul akibat kurang terinformasinya pengguna layanan adalah petugas lagi lagi harus mengantarkan pengguna layanan dari satu titik ke titik lain. Misalkan dari area resepsionis ke area tes kemudian ke area kasir. Padahal, jika pelanggan diberikan informasi yang jelas (baik melalui visual maupun lembaran kertas berisi instruksi lengkap), mereka tidak perlu overservice. Saya sih merasa kasihan dengan petugas yang harus mengantar saya bolak balik dan saat itu dia terlihat menggunakan sepatu yang kurang nyaman untuk mobilitas semacam itu. Setelah itu, saya masih harus menunggu lagi sebelum akhirnya membayar dan menerima hasil tes.

COVID-19 Antigen Test at Balimed Buleleng - Test Day (as is)

Nah, dari ilustrasi di atas, sepertinya sudah cukup jelas, ya, tentang apa yang saya maksud sebagai overservice dan inefficiency.

Sekarang kita masuk ke bagian rekomendasi untuk meningkatkan peforma efisiensi prosesnya.
Menurut saya, adanya petunjuk arah dan informasi yang jelas dan memadai sangat penting dalam meningkatkan efisiensi proses ini. Misalnya saja, rumah sakit perlu menempatkan petunjuk arah menuju area pendaftaran di pintu masuk ataupun area area strategis kedatangan seperti parkir. Dengan demikian, calon pengguna layanan dapat langsung menuju resepsionis tanpa perlu membuang waktunya bertanya pada security. Hal ini juga akan mengurangi penggunaan resource security itu sendiri. Selain itu, informasi yang disampaikan calon pengguna layanan juga cukup satu kali saja di resepsionis. 

Begitu juga petunjuk arah untuk Test Day perlu dibuatkan sehingga petugas tidak perlu mengantarkan pengguna layanan ke area test. Petugas juga perlu memberi tahu pengguna layanan saat konfirmasi kedatang mengenai proses-proses selanjutnya sehingga mereka dapat langsung menuju kasir setelah melakukan tes. Atau, prosesnya dapat dibalik menjadi pembayaran test saat konfirmasi kehadiran di meja resepsionis dan dilanjutkan dengan test. Mengingat lokasi test, resepsionis, dan kasir bisa dibilang bikin bolak balik dengan proses awal, opsi ini akan mengurangi secara signifikan pergerakan pengguna layanan yang tidak perlu. 

Kemudian, untuk mengurangi waktu pergerakan tidak penting serta waktu tunggu saat konfirmasi kedatangan, perlu dibuat alur yang jelas. Dalam hal ini misalnya dibuat jalur antrian yang jelas sehingga pengguna layanan dapat langsung masuk jalur antrian, dan saat berada di depan resepsionis, seluruh informasi maupun stiker nama yang diperlukan langsung diberikan (jadi pengguna layanan tidak perlu bolak-balik). 

Pada intinya, perbaikan dalam visualisasi informasi dan penempatan serta penyampaiannya secara lengkap akan sangat membantu proses ini untuk menjadi lebih efisien. Dengan demikian diharapkan proses menjadi lebih cepat dan usaha yang dikeluarkan (resource, cost) yang tidak perlu bisa dihilangkan.

Seharusnya sih saya gambarkan juga model 'to-be' nya, tapi terlanjur mager di sini. Hehe. 

Tulisan ini benar-benar tidak ada maksud untuk menjatuhkan pihak manapun. Ini adalah murni pendapat saya tentang bagaimana suatu proses (yang saya alami sendiri) dapat ditingkatkan efisiensinya.

Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat untuk yang sedang membacanya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Salam hangat,
Dwika.
Readmore → Bagaimana Membuat Proses Test Antigen di Balimed Buleleng Agar Lebih Efisien

Thursday, December 31, 2020

2020

Halo! Sejujurnya bingung bagaimana harus memulai tulisan ini dengan baik (re: tidak canggung atau kaku) hehe. Tapi mari kita mulai saja...

Hari ini adalah 31 Desember 2020. Hari terakhir dari tahun yang bagi banyak orang adalah tahun yang kurang bersahabat. Saya lihat di berbagai post sosial media kalau rencana mereka banyak yang harus ditunda atau bahkan dibatalkan, padahal sudah disiapkan dari jauh jauh hari. Tahun ini sepertinya memang berat bagi sebagian besar orang di dunia.

Bukannya mau berbahagia di atas kesusahan orang lain, tapi tahun ini saya cukup beruntung. Boleh dibilang, hidup tidak terdampak sebegitu besar. 

Dan seperti biasa, ini adalah rekap cerita saya di tahun ini.

Pertama: Menyelesaikan kuliah untuk kali kedua.
Highlight ringkasan 2019 kemarin adalah momen saya masuk kuliah lagi dan highlight tahun ini adalah saya lulus. Ada hal yang cukup menarik dari perkuliahan 2020 ini, seperti yang juga dialami semua pelajar di dunia: kuliah online. 

Saya masih ingat, minggu kedua perkuliahan di gedung Business School, kami cuma 5 orang yang hadir. 4 pria dan satu wanita duduk menyebar di ruang kelas berkapasitas 50an orang. Hari itu ada temuan kasus kedua di kampus kami dan semua orang bersiap-siap untuk mengisolasi diri untuk menghindari virus. Jadilah hanya kami berlima yang datang ke kampus hahaha. Minggu berikutnya, kelas dijalankan dalam jaringan. Kuliah online berlanjut hingga saya lulus! Jadi dari 4 term saya kuliah di UNSW, hanya 1 term yang kuliahnya normal.

Kalau boleh jujur, masa isolasi/karantina/lockdown di Sydney adalah waktu yang biasa saja buat saya karena memang terbiasa apa apa sendiri dan tentu saja karena saya socially awkward. Jadi di masa itu, saya agak senang karena apa yang saya lakukan selama ini menjadi hal yang normal bagi semua orang sekarang hahahah~ Tapi selain itu juga karena kehidupan di saya tidak terlalu terdampak (masih bisa pergi pergi dalam radius tertentu untuk belanja/makan, pusat perbelanjaan tutup tidak terlalu lama). Masalah utama di masa itu ya soal semangat belajar yang boleh dibilang agak melempem. Terutama di Term 1 2020. 

Pada akhirnya, dengan semua drama drama kecil perkuliahan dan pergeseran prinsip dari yang biasanya "ambisius mengejar nilai paling bagus" ke "nilai optimal dengan usaha minimal", ternyata semuanya selesai juga. Di target tahun lalu ambisius sekali mau mengejar 4 HD dan pada akhirnya hanya kesampaian 2 :))) Tapi saya senang sekali kok! Dua mata kuliah yang nilainya HD adalah mata kuliah yang saya suka dan kerjakan dengan paling sepenuh hati.

Bonus: masuk tim sim game untuk kampus, ditawari jadi tutor untuk tahun depan. 


Oh ya, karena tadi saya sedikit menyinggung soal target tahun lalu, saya sekalian review ah~
Kemarin itu ada 3 target karir. Updatenya: on progress, tidak bisa bicara banyak. Harapannya sih awal tahun besok ada berita baik he he. 

Soal target senang senang, buyar semua. Blame it to the pandemic! HAHA. Kemarin ya cuma di Sydney, tidak kemana mana and I'm totally okay with that. Kalau dipikir-pikir, sih, I'm not that 'travel person'. Orang road trip dikit udah cape, long flight dikit kepikiran~

Tapi kabar baiknya adalah:

Kedua: menemukan teman teman baru.
Tidak banyak, bisa dihitung jari, tapi saya benar benar mengapresiasi hubungan yang dibangun. Mulai dari teman-teman Indonesia yang saya temui di kampus sampai orang lokal yang saya kenal di komunitas relawan kampus. Mereka membuat kehidupan perkuliahan dalam quarantine menjadi lebih seru dengan segala ritual jajan. 





Ketiga: membuka mata akan nilai-nilai yang penting bagi diri saya.
Personal value mulai saya kenal ketika mengambil mata kuliah Professional Skills & Ethics. Selama perkuliahan berjalan, saya semakin mengenal dan memahami nilai-nilai apa saja yang ternyata sangat penting bagi saya dan bagaimana memperjuangkan nilai tersebut. Saya merasa kalau membawa manfaat bagi orang banyak adalah salah satu hal yang sangat penting dan menjadi pertimbangan untuk membangun karir nanti. Ya, kurang lebih seperti itu. 

Keempat: belajar bahasa Prancis.
Ada dua pemicunya:
1. Nonton Emily in Paris
2. Merasa perlu belajar hal baru
Jadilah saya mendaftar kursus bahasa Prancis di IFI. Nah, salah satu sisi baik dari pandemi kali ini adalah berbagai hal jadi online, termasuk kursus bahasa Prancis ini! Baiknya lagi, jadwalnya pas sekali (pagi waktu Jakarta, siang waktu Sydney). Sebenarnya sih dari dulu saya ingin sekali belajar bahasa asing. Beberapa tahun lalu pernah sampai datang ke Goethe-Institut di Jakarta untuk daftar kursus bahasa Jerman tapi waktu itu slotnya sudah habis. huh. Eh ternyata kesampaiannya belajar bahasa Prancis.
Niatnya sih mau belajar lebih lanjut tahun ini. Mau benar-benar diseriusi. Semoga jadwalnya cocok dengan jadwal kerja nanti.

Ya, kurang lebih itu sih yang bisa saya bagi tentang 2020. 
Sekarang ke bagian menyenangkan berikutnya, membuat harapan-harapan untuk 2021!!

Saya memikirkan apa yang ingin saya lakukan tahun depan sembari menulisnya sekarang. Apa ya..
1. Mengajar. Belajar untuk mengajar, mungkin di kampus lama.
2. Coding. Setidaknya fasih menggunakan R atau Phyton, please. 
3. French. Lulus A1 (yang butuh 90 jam lagi).
4. Menabung dengan konsisten :)
5. Mulai fokus untuk navigasi karir, oke?
6. Nonton konser mooner/albert hammond jr/dualipa, pleaseeeeeeee. finger crossed.
7. Jualan lagi.
8. Membaca: 12 buku.

Oh ya, pengen juga sih nulis olahraga di daftar di atas cuma sepertinya saya belum siap aahahaha.

Oke, sepertinya daftar di atas cukup feasible. hehe. Semoga rencana-rencana 2021 kalian juga seru ya! Entah tercapai atau engga, ya yang penting diusahain dulu hehehehe. 

Selamat tahun baru! 
Readmore → 2020

Sunday, June 28, 2020

Beralih ke Menstrual Cup

Sudah lama sekali tidak menulis untuk blog ini! Banyak hal yang terjadi, termasuk perasaan rendah diri yang mengganggu sekali. Huh. 

Kali ini saya ingin bercerita saja tentang pengalaman berganti dari pembalut konvensional ke menstrual cup (menscup)!

Lunette Menstrual Cup


Sebenarnya sudah lama sekali ingin mencoba pakai menscup, mungkin sejak tahun 2018 setelah membaca Bumi atau Plastik. Tapi saat itu rasanya harga menscup mahal sekali, sekitar 700ribu sampai 1 juta rupiah lebih. Kalau dihitung-hitung dengan harga pembalut di Indonesia, harga setahunnya pun belum sebanding. Sebagai bayangan, harga pembalut yang biasa saya pakai (Laurier Super Slimguard) isi 20 pieces adalah 28.000, sepotongnya berarti 1.400 rupiah. Siklus haid saya berlangsung 4 hari dan dalam sehari ganti pembalut sekitar 3-4 kali. Jadi satu kali masa haid, saya rata-rata menghabiskan 15 x 1.400 = 21.000 atau sebanyak 252.000 setahun. Masih sekitar sepertiga dari harga menscup. Memang sih menscup ini bisa dipakai bertahun-tahun, tapi karena seluruh harganya dibayar di muka, saya jadi bolak-balik pikir-pikir dulu. Terlebih lagi saat itu penjualnya belum banyak di marketplace seperti shopee dan tokopedia. Mau cari toko resminya di Indonesia pun belum ada.

Laurier di situs klikindomaret
Singkat cerita, beberapa bulan setelah pindah ke Sydney, saya mulai melihat-lihat lagi soal menscup. Ada 2 hal yang menarik perhatian. Pertama, pilihan merk yang tersedia beragam sekali dan bisa didapatkan dengan mudah baik melalui situs resmi merknya dan juga lewat Amazon. Kedua, harganya hampir setengah harga di Indonesia! Akhirnya saya putuskan membeli Lunette yang saat itu sedang diskon dengan harga sekitar 400ribu rupiah. Senang sekali!! Oh ya, kalau di sini, harga pembalutnya cukup mahal. Untuk pembalut superslim seperti yang saya gunakan di Indonesia harga per kemasan isi 20 potong adalah AUD5.8 atau sekitar 56.000 rupiah. Jadi pengeluaran untuk pembalut di sini jadi 2 kali lipat! Makanya keputusan beralih ke menscup menjadi semakin bulat.

Libra di situs Coles
Jujur rasanya degdegan sekali ketika pertama kali mencoba. Saya membaca instruksi manualnya berulang kali begitu juga menonton video tutorialnya. Ceritanya juga sempat saya bagikan di instagram. Intinya sih, percobaan pertama tidak langsung lancar. Ada insiden menscup tidak masuk dan jatuh karena tangan terlalu gugup hahaha. Ada perasaan mengganjal karena tangkai menscup belum saya potong. Sampai akhirnya pada satu siklus itu, saya coba bandingkan dengan menggunakan pembalut biasa kembali di hari ke 3 dan 4. 

Sebagian cerita di instagram story saya

Ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi dari pengalaman 2 siklus menggunakan menstrual cup:

1. Seperti tidak sedang menstruasi. It's a freedom!

Sejujurnya ini melampaui ekspektasi. Tidak pernah terbayang kalau menggunakan menscup bisa sebegitu mentransformasi pengalaman menstruasi dari yang awalnya riweh harus berganti pembalut tiap beberapa jam sekali dan menghadapi lembab serta bau menjadi sangat ringkas. 

Menghadapi masalah penggunaan pembalut konvensional yang sama setiap bulan selama belasan tahun ya jadinya terbiasa. Namun, ketika menggunakan menstrual cup, duh, benar deh, rasanya sampai lupa kalau sedang haid. Tidak ada keribetan-keribetan harus sering ganti. Tidak ada perasaan 'mengganjal' karena lembab dan bau di bawah. Rasanya tidak pernah sebebas ini!! Percayalah, ini tidak dilebih-lebihkan. Bagi saya, rasanya mirip seperti mendapatkan kebebasan karena dulu, setiap bulan, saya harus menambah beban pikiran atas siklus menstruasi semacam "duh belum ganti pembalut, lembab" atau "duh lagi deras banget ya flow darahnya" dan pikiran pikiran 'kecil' lain yang sebenarnya mengganggu tapi kita tidak sadari karena sudah 'terbiasa'. Ketika memakai menscup, awalnya saya heran, "eh ini sedang haid? kok tidak berasa?". Aktivitas mengosongkan cup pun cukup ringkas karena sekalian mandi. Atau kalau sedang banyak, saya mengosongkan maksimum 3 kali di hari pertama saja. 

Sampai sampai terpikir, kenapa ya baru tahu sekarang? Jadi tiba tiba terpikir juga, ratusan tahun peradaban manusia modern, kenapa ya inovasi produk menstruasi minim sekali? Dan ketika ada, kenapa mahal sekali? Seumur-umur, di rak toko-toko di Indonesia, pilihan produk menstruasi yang saya lihat ya cuma pembalut itu. (Ini secara umum, ya. Bukan toko-toko high-end di pusat perbelanjaan kota-kota besar). Mungkin ya karena itu yang paling terjangkau untuk pasar kita. Tapi...masa iya setega itu dibiarkan terus menerus? Masa iya tidak ada yang menyadari keribetan menstruasi ini? 

2. Skill baru, butuh latihan

Seperti yang disebutkan di atas, percobaan pertama menggunakan menscup tidak langsung lancar. Waktu itu sempat 2-3 kali percobaan sebelum benar benar terpasang dengan baik. Namun, seperti juga skill lain dalam hidup, setelah berlatih beberapa kali, di siklus mens kedua, saya mulai paham trik trik yang bisa diterapkan. Awalnya, saya mesti menarik nafas panjang dan mensugesti diri untuk rileks, kemudian sedikit bersandar agar bisa pasang dengan lancar. Saat siklus kedua, karena sudah tidak terlalu khawatir, 'ritual'-nya jadi jauh lebih cepat. Selain itu, teknik melipat menstrual cup yang paling cocok juga sudah diketahui dari beberapa percoban siklus sebelumnya. Jadi ya tinggal lipat, tarik napas, kemudian menuntun cup masuk dan terpasang dengan baik. Begitu juga saat melepaskan, awal-awal rasanya gugup sekali karena agak risih kontak langsung antara jari dan bagian dalam vagina. Tapi setelah itu ya ketemu sendiri cara termudahnya. Kalau saya sih dengan menarik batang menscup perlahan (back and forth) sampai dasar menscup bisa di-pinch dengan ibu jari dan telunjuk. Setelah itu tinggal ditarik pelan. Pesannya, sih, tidak apa kalau pengalaman pertamanya kurang menyenangkan, please try again until you master it :)

3. Mengenali vagina sendiri

Saya kira saya paham betul bagaimana vagina saya sampai ketika mencoba menscup, ternyata saya salah! Sedikit-banyak perasaan takut dan gugup muncul saat harus meletakan tangan di bagian bawah sana, meraba, memastikan apakah cup sudah terpasang baik. Perasaannya muncul mungkin karena saya mengira bagian itu 'fragile' dan takut akan bikin sakit atau semacamnya. Tapiiii, setelah semua percobaan-percobaan itu, saya baru benar-benar paham kalau vagina sama sekali tidak se-'fragile' itu. Hahaha. Ya buktinya saja perempuan melahirkan, dijahit, dan baik baik saja!! Nah setelah itu, karena sudah mengecek sendiri ya jadi tahu dan tidak canggung atau takut lagi.

4. Manfaat tambahan: lebih ramah untuk lingkungan

Banyak orang beralih ke menscup karena poin ini sebagai alasan utama. Mungkin banyak yang sudah tahu kalau pembalut konvensional tidak bisa didaur ulang sehingga menjadi sampah yang sangat susah terurai (baca: How tampons and pads became so unsustainable). Namun, bagi saya ini lebih seperti manfaat tambahan saja karena poin utama adalah kenyamanan saat digunakan. 


Sebagai penutup (yang lagi-lagi agak nanggung), saya bisa bilang kalau keribetan berlatih di awal sangat remeh kalau dibandingkan dengan kebebasan yang didapat dari pakai menscup. So, I think you should give it a try. Semoga tulisan ini bisa jadi tambahan untuk kalian yang sedang menimbang-nimbang untuk beralih :) 

Adios!

----------

Sebagian ditulis di kampus kemudian dilanjutkan di kamar kosan. 
Kingsford, 28 June 2020 23.22

Readmore → Beralih ke Menstrual Cup

Sunday, December 29, 2019

2019: Sekali Menjadi Mahasiswa

2019 adalah tahun yang unik karena beberapa hal baru yang cukup signifikan terjadi di tahun ini. Mulai dari jalan-jalan ke Oman, magang di start-up, dan akhirnya berangkat ke Sydney untuk kuliah S2. Oh ya, 2019 saya masih suka menang giveaway! Sekali di awal tahun, voucher belanja dari Sensatia Botanicals. Kemudian sekali lagi di akhir tahun, give away hari ibu dari The Body Shop Indonesia hahahahah. Keberuntungan saya masih berlaku!!
Quadrangle, taken during my first weeks of T3 in UNSW
Highlight utamanya tentu saja pada bagian sekali lagi menjadi mahasiswa dan kali ini di luar negeri. Bagi saya, hal ini kadang masih terasa tidak nyata. Tidak pernah terbayangkan kalau saya akan kuliah S2 secepat ini, di luar negeri pula. Ah, gila sekali. Tapi sejujurnya lebih gila lagi perjuangan bertahan melewati trimester akademik pertama saya di UNSW. Meskipun kami sudah dibekali dengan sangat cukup saat Pre-Departure Training, mengalami semuanya secara langsung tetap saja sensasinya berbeda. He he. Saya berencana menulis detail cara-cara bertahan melewati trimester akademik pertama sebagai mahasiswa S2 pada post terpisah nanti. 

Akhirnya setelah semua drama personal dan akademis juga ketakutan berlebihan akan kegagalan akademis, saya berhasil melewati trimester akademik pertama sebagai mahasiswa Master of Commerce! Cukup senang, sih, meskipun tidak terlalu bangga juga karena pencapaiannya juga biasa saja. Terutama karena setelah menyelesaikan ujian akhir, saya merasa seharusnya bisa mengusahakan lebih banyak untuk hasil yang lebih memuaskan. Tapi seperti kata Bapak dan Ibu saya, ini cukup bagus sebagai permulaan dan saya pun berjanji untuk lebih bekerja lebih keras pada trimester-trimester berikutnya. 

Dengan alasan di atas, salah satu resolusi 2020 saya adalah: 
1.  Lulus dengan outstanding, mengejar High Distinction pada minimum 4 dari 6 sisa mata kuliah, untuk menantang batas diri. 
Ini cukup beralasan karena tahun 2019 saya cukup santai, memang sih hasilnya cukup baik saja, tapi rasanya ada yang kurang saat sampai di penghujung. Kurang bergelora he he.

Tidak heran sih, lihat saja resolusi 2019 kemarin, sangat...tidak seru, tidak menantang.

"Karena 2019 adalah chapter baru hidup, saya berharap 
1. Keberangkatan ke AU bisa berjalan lancar -- alhamdulillah lancar meskipun drama. tapi kenapa saya menulis ini sebagai resolusi ya? Aneh
2. Menjadi master students yang aktif dan outstanding (learn a lot of new skills in programming, to be a communicative student, get a cool internship) -- I did an internship in Waste4Change -- before I started my study -- and that's cool! Tapi no programming skills earned yet and still not that communicative although my group members said that I'm friendly :))
3. Membuat banyak koneksi baru!! -- i made some good connection, but still not as many as I expected. But then, i started to understand that I'm an introvert ._.
4. Strawsellate bisa jalan sendiri -- nah, i closed it down. this is the hardest part of 2019!! Ditutup karena Strawsellate terlalu kecil untuk diurus orang lain dan saya sayang sekali seperti anak sendiri. Jadi tidak mau sembarang titip.
5. Nonton banyak konser! --> Disiplin secara finansial: mulai menabung. (Update 13/1/2019) -- cuma nonton Rich Brian di Sydney, sudah mulai menabung meskipun masih sedikit.
6. Ke NZ -- pindah jadi akhir tahun ini.
7. Laptop baru -- sebenarnya bingung kenapa nulis ini di resolusi, padahal kan memang sudah jelas-jelas direncanakan dalam daftar belanja. 
8. Membuat program yang bermanfaat untuk kampung -- hehe, belum"
Selain soal akademis, di tahun 2020 saya mesti kembali memikirkan persiapan karir. Jika semuanya lancar, Desember 2020 akan menjadi akhir perkuliahan saya. Setelah itu saya akan kembali ke Indonesia untuk bekerja--setidaknya ini yang saya pikirkan saat ini. Meskipun tidak menutup diri juga untuk kemungkinan bekerja di negara lain (jika ada). Untuk saat ini, saya masih fokus pada tawaran kembali ke perusahaan lama dan juga untuk menjadi dosen. Saya berharap bisa melakukan keduanya secara bersamaan. Apakah mungkin? Tidak tahu juga sih, belum ada ancang-ancang resmi he he. 

Dengan ini, resolusi karir 2020 saya adalah:
2.  Mendapatkan pekerjaan baru
3. Bekerja untuk perusahan/organisasi yang menghargai -- atau setidaknya tidak bertentangan -- dengan nilai-nilai pribadi saya.
4. Mendapat tawaran mengajar di kampus secara resmi.

Selanjutnya urusan senang senang. Tidak muluk-muluk, resolusi jalan-jalan 2020:
5. Mengunjungi pantai-pantai cantik di Sydney dan mengambil foto setiap pantai yang saya kunjungi. Akan dibuat kolasenya di akhir tahun 2020.
6. Mengunjungi pulau Tasmania.
7. Menghadiahi diri dengan liburan ke New Zealand setelah kelulusan.

Sepertinya itu saja sih resolusi 2020 saya. Saya berusaha untuk membuatnya se-achievable-yet-still challenging mungkin. Oh ya, resolusi tahunan ini memang rutin saya post setiap tahun sedari 2016 dan rasanya ini sangat membantu mengingat apa yang dilakukan sepanjang tahun yang lalu dan apa yang ingin dicapai selanjutnya. Iya, sebagai pengingat untuk tahun tahun berikutnya juga. 

Oh ya, kali ini saya juga tidak bercerita banyak soal tahun ini karena memang sebagian besar isinya soal kuliah lagi (dan sudah saya tulis beberapa post soal itu).

Selamat tahun baru 2020! Semoga kamu juga bersemangat menyambut 2020 ya :)
Readmore → 2019: Sekali Menjadi Mahasiswa

Wednesday, August 7, 2019

Google Webmaster Conference Bali 2019

"Seberapa sering sih kalian buka Google?"


Pertanyaan ini dilontarkan oleh Aldrich saat membuka Google Webmaster Conference Bali di Hotel Grand Mega Resort, Selasa, 6 Agustus 2019 kemarin. Saya jadi berpikir kalau setiap hari begitu bergantung dengan Google sejak baru bangun hingga sebelum tidur. Dari mencari lokasi money changer terdekat hingga nomor telepon pemadam kebakaran terdekat saat gudang kayu tetangga kami hangus beberapa minggu lalu. 

Ada berapa banyak yang juga seperti saya? Dalam presentasi pagi itu disebutkan bahwa dari 143 juta pengguna internet di Indonesia, 74% menggunakan Google Search! Awalnya, saya yang awam ini berpikir bahwa angka tersebut ya hanya angka yang besar saja, titik. Namun dari #wmcbali ini saya baru sadar bahwa angka tersebut juga berarti peluang bisnis yang sangat besar sampai-sampai Google membuat acara ini.
Sesi Diskusi Panel Google Webmaster Conference Bali 2019
Sesi Diskusi Panel #wmcbali
Webmaster Conference adalah kumpulan pemilik situs web, webmaster, dan pengembang web di Indonesia. Berinteraksi dengan praktisi SEO dan mendengar update terbaru dan web optimasi praktik terbaik dari tim Google Search. - sumber
Too much information? Hold on a second.

Jadi kemarin saya ikut #wmcbali ya sesimpel karena melihat tweet Google Indonesia.


Jujur saya, saya tidak tahu apa itu webmaster apalagi SEO. Cuma ya, karena sedang senggang, jadi saya pikir tidak ada salahnya untuk mendaftar. Eh, ternyata pendaftarannya dikonfirmasi meskipun pada kolom isian saya menulis bahwa saya newbie dan hanya ingin datang untuk melihat-lihat.

Singkatnya, dalam acara ini tim Google Search memberikan informasi mengenai update terbaru Google seperti bagaimana cara kerja Google Search saat ini sehingga para pemilik/pengembang web dapat memaksimalkan eksistensi website mereka. Hal ini sangat berguna misalnya bagi para agensi online marketing atau pengelola situs web hotel/tour di Bali.

Lalu bagaimana untuk saya yang hanya menulis blog galau dan tidak tahu apa apa soal optimasi web ini?

Meskipun banyak sekali hal teknis yang tidak saya pahami, acara ini insightful sekali. Mereka menjelaskan bagaimana cara kerja mesin pencari Google yaitu dari crawling (merangkak dari satu laman/link ke laman/link lain), kemudian indexing (hal-hal yang ditemukan dan relevan dengan pencarian kita), hingga akhirnya menampilakan informasi yang berguna untuk kita. Saat melakukan pencarian, Google bot sangat bergantung pada text yang ada pada laman tersebut. Jika kita ingin berada di laman pertama hasil pencarian (yang berarti lebih besar kemungkinan di-klik oleh pengguna dan berarti pemasukan untuk adsense atau kemungkinan konversi menjadi transaksi dan sebagainya), banyak sekali hal yang harus diperhatikan!

1. Konten, Konten, dan Konten
Apa yang mau ditampilkan kalau tidak ada konten? Itu yang pertama sih. Tim Google Search juga menjelaskan bahwa sebaiknya konten dibuat se-berguna mungkin untuk pengguna. Untuk kata kunci yang digunakan juga tidak usah lebay karena sekarang google bot sudah dapat mengenali sinonim kata. Pasti pernah kan tidak sengaja masuk ke web dengan kata kata sinonimnya diulang berkali-kali? Nah, kata kunci tersebut juga tidak usah diulang sejuta kali. Sebaiknya tulisan/konten dibuat ya senatural mungkin. Selain itu, panjang/pendek artikel juga tidak berpengaruh. 

Kita juga bisa menganalisis kata kunci apa sih yang banyak digunakan sebelum masuk ke laman kita melalui Google Search Console. Jadi kita bisa mengembangkan tulisan dengan queries seperti contoh di bawah ini.

contoh tampilan queries google search console
Tampilan Queries Google Search Console
Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan yaitu deskripsi dari post kita karena itu akan mementukan apakah user akan meng-klik laman kita atau tidak dan juga memudahkan mesin pencari untuk mengetahui keberadaan laman kita. Ini yang saya belum paham, bagaimana menuliskan metadata deskripsi. Hehehehe.

2. Optimasi Gambar dan Video
Ternyata, gambar dan video bisa diberi tag/caption dan metadata deskripsi untuk memudahkan mesin pencari mengenalinya. Untuk kamu yang punya banyak gambar berguna dan ingin dimunculkan mesin pencari, ada baiknya memberikan 'penanda' pada gambar kamu mulai dari caption, metadata, hingga judul filenya dengan deskripsi yang detail namun ringkas. Misalnya kamu punya foto nasi goreng ati ampela, google search gak akan tahu itu nasi goreng ayam atau pete atau ati ampela kecuali kamu tulis. Hal yang sama juga berlaku untuk video.

3. Kecepatan Web
Berhubung ini cukup teknikal, yang saya tangkap agak terbatas. Intinya, google search akan merekomendasikan situs web dengan kecepatan yang tinggi (parameternya berapa? saya lupa angkanya). Pemilik web harus memastikan waktu yang diperlukan user untuk masuk ke laman webnya cukup singkat dengan memperhatikan berat html, javascript, css, font, gambar dan sejenisnya. Ada satu tools yang kemarin ditunjukan untuk mensimulasikan kecepatan web berdasarkan budget berat laman. Tapi lagi lagi saya lupa. Maaf yaaaa huhu

4. Keamanan Web
Keamanan web juga menjadi salah satu faktor rekomendasi google untuk laman web. Jadi diharapkan pemilik web mulai migrasi ke https untuk keamanan. Selain itu, untuk situs statis seperti company profil juga ada baiknya pindah ke https untuk meningkatkan citra. Jujur, saya juga belum paham gimana caranya migrate. Will do learn dan migrate this site soon!

Not Secure
5. Link
Sama seperti menulis essay, orang tidak akan percaya kalau kita tidak merujuk sumber dengan otoritas yang lebih tinggi. Jadi kalau kita menulis artikel ada baiknya juga menampilkan sumber yang dikutip atau dirujuk dengan menyertakan linknya. Google juga bekerja dengan menyururi satu link ke link lain. Jadi, kalau link kita tersambung ke otoritas link yang lebih tinggi makan kemungkinan untuk naik peringkat juga lebih besar.
Duh, waktu sesi ini saya sudah lumayan tidak konsentrasi jadi nangkepnya segini aja.

6. Knowledge Box
Jika namamu/bisnismu cukup sering dicari di google dan informasi yang tersedia cukup banyak, kamu akan punya knowledge panel seperti ini di laman pencarian google. Jika sudah punya, kita bisa claim dan mulai posting/edit isi dalam post. Ini akan berguna sekali terutama untuk bisnis karena bisa meningkatkan citra brand dan juga bisa lebih mengoptimalkan pencarian di google.
Knowledge Panel Baskara Putra
Kurang lebih sekian yang saya pelajari dari #wmcbali kemarin. Tapi di luar itu, karena melihat Ci Rika dan Aldrich (dan juga Pak Alex pada masa magang saya di W4C) yang merupakan penutur aktif bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, saya jadi berpikir kalau sebenarnya besar sekali potensi kita sebagai orang Indonesia. Indonesia adalah pasar yang sangat besar, kita sebagai orang Indonesia tahu persis pasar kita seperti apa. Akan menguntungkan sekali kalau kita bisa memanfaatkan ini dengan baik, dengan apa yang kita tahu dari dunia luar juga, seperti Google misalnya. Tiba tiba saya mengurungkan mimpi untuk tinggal di New York hahahah.

Oh ya, untuk yang ingin juga datang ke Webmaster Conference Google di Jakarta bulan November nanti, bisa daftar di sini: https://events.withgoogle.com/wmcjakarta/

Semoga tulisan ini bermanfaat! :)

topi goodiebag google webmaster conference bali
Topi dari #wmcbali

Readmore → Google Webmaster Conference Bali 2019

Wednesday, July 24, 2019

Ular Tangga

Belakangan gue jadi mikir, hubungan sama seseorang itu mirip main ular tangga. Kita lempar dadu, maju, kadang nemu tangga yang ngebawa kita jadi jauhhhh lebih deket karena satu kesempatan. Kadang juga ketemu ularnya yang bikin hubungan merosot lagi padahal tadinya udah jauh banget.

Jadi gak bisa dilihat dari udah berapa lama pacarannya. Toh kita ngga pernah tahu, tahunan yang mereka lewati ternyata berkali kali juga ketemu ular yang bawa mereka ke awal terus. Sampai mungkin mereka cape, dan akhirnya berhenti main ular tangga.
Readmore → Ular Tangga

Tuesday, July 2, 2019

Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan

Beberapa waktu lalu, 14 Juni 2019, Gubernur Bali mengeluarkan Instruksi Gubernur No 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali. Isinya adalah sebagai berikut:

Namun sayang sekali, file aslinya tidak tersedia di laman resmi pemerintah provinsi Bali (http://jdih.baliprov.go.id/produk-hukum/peraturan?cat=45). Mungkin adminnya sangat sibuk.

Gubernur Bali menginstruksikan pelaksanaan program KB Krama Bali yaitu keluarga dengan 4 anak atas dasar "untuk melestarikan warisan leluhur kita". Kata-kata dalam tanda petik tersebut dikutip langsung dari pernyataan Gubernur Bali yang dapat dibaca lebih lanjut pada laman berita ini. Saya membaca beberapa artikel di media berbeda tentang instruksi gubernur (ingub) ini namun tidak mendapatkan alasan kuat kenapa label nama 'Komang' dan 'Ketut' ini menjadi begitu penting bagi Pemda Bali sehingga ibu ibu dari keluarga bali sebaiknya melahirkan 4 orang anak dan bukannya 2 orang saja sesuai dengan program KB Nasional. Dalam artikel tersebut, hal yang diutarakan para pejabat pemda ini adalah sebagai berikut:
  1. Label nama 'Komang' dan 'Ketut' hampir punah.
  2. Jumlah krama Bali mengalami stagnasi --> mengkhawatirkan untuk pariwisata karena wisata Bali bergantung pada budaya krama Bali (Kepala Disdukcapil Bali)
  3. Akan ada bantuan modal untuk peserta program KB Krama Bali (Kabid Fasilitasi KB Dukcapil Bali)
Saya benar-benar tidak mengerti apa relevansi kepunahan label nama tersebut. Apakah Bali akan kehilangan esensi budayanya ketika dua label nama tersebut berkurang? Apakah urgensi pelestarian dua label nama tersebut?

Jika kita kembali pada penjelasan-penjelasan pejabat di atas, sama sekali tidak ada alasan yang mendasar. Alasan mengenai kebergantungan pariwisata Bali terhadap pelaku budanyanya memang betul bisa diterima akal, akan tetapi, apakah dengan melipatgandakan jumlah anak akan serta-merta melestarikan budaya tersebut? Terlebih lagi, apakah kepentingan program ini sebatas untuk mempertahankan agar Bali bisa tetap hidup dari jualan tiket untuk menonton upacara adat? 

Jikapun ini adalah lagi lagi produk kebijakan populis untuk mencuri perhatian rakyat, saya rasa ini menyebalkan sekali. Pemda akan mengalokasikan sejumlah anggaran biaya untuk pelaksanaan program yang tidak jelas arah manfaatnya untuk Bali. Ingub ini bisa jadi hanya digunakan sebagai pendongkrak popularitas awal masa jabatan saja. Sebagai pembayar pajak, saya sangat keberatan.

Di sisi lain, Bali sesungguhnya tidak dalam kondisi darurat tingkat kelahiran. Menurut data BPS dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, Angka Kelahiran Total (TFR) pada tahun 2010 yaitu 2.1 yang berarti ada sejumlah 2-3 anak lahir dari seorang perempuan usia 15-49 tahun selama masa suburnya. Angka ini diprakirakan akan menurun hingga 1.73 pada tahun 2035 atau kelahiran 1-2 orang anak. Dalam artikel tersebut, entah kenapa pejabat pemda itu malah menargetkan untuk menaikkan TFR ke angka 3 di tahun 2020. padahal panduan intepretasi BPS di laman Sirusa adalah sebagai berikut.
TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah, tingkat pendidikan rendah terutama wanitanya dan tingkat sosial ekonomi rendah (tingkat kemiskinan tinggi). - intepretasi dalam sirusa BPS 
Betul, saya memang bukan pakar ilmu statistik kependudukan, tapi melihat angka angka dan penjelasan tersebut, saya jadi bingung sendiri soal arah kebijakan ini.

Selanjutnya, apa yang sedang diusahakan negara negara berkembang seperti Indonesia di seluruh dunia adalah menekan laju pertumbuhan penduduk untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. Salah satu pejabat tersebut mengemukakan bahwa hanya dengan berjualan canang (sesajen), sebuah keluarga dengan 4-6 anak dapat bertahan hidup. Namun, bagaimanakah kualitas hidup mereka saat itu? Dengan menekan laju pertumbuhan penduduk, keluarga dapat lebih fokus dalam membesarkan anak anak mereka. Kita tidak bisa tutup mata dengan kenyataan bahwa perubahan iklim dan ketahanan pangan menjadi isu besar dunia saat ini. Kenapa di pulau kecil ini kita begitu egois ingin menggandakan jumlah anak ketika seluruh dunia berusaha menekan lajunya?

Belum lagi kalau kita bicara soal penduduk Bali yang kini sudah sangat beragam suku pendatangnya. Ingub ini hanya menunjukan betapa inginnya kita menunjukan superioritas atas suku sendiri saja.

Sebagai penutup, paparan dalam video ini rasanya akan sangat membuka pikiran kita kenapa ingub ini tidak seharusnya diterbitkan.


Readmore → Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan