Saturday, November 12, 2022

Wika in Joyland 2022

The excitement was there even when it was just the start of W43.
I finally went to a festival again after the last one was in 2018: We The Fest.

Kenapa jaraknya jauh banget? Karena the timeline was sucks. 
Festivals biasanya mulai dari akhir Juli sampai akhir tahun while I left for Sydney just in the first week of Aug 2019. Arrived, adapting, watching only Rich Brian, then covid happened.

Long story short, sebenarnya banyak rencana nonton festival ini itu yang banyaknya di Jakarta, tentu saja. But I decided to stay in Bali for most of the time in this 2022. Yaudah, timelinenya ga masuk aja, semua festival-festival itu adanya pas saya lagi di Bali.

Awalnya sih udah diikhlasin aja, ya. Kayak, yaudah, mau gimana lagi, urusan pindahan ke Malaysia lebih penting.

Rencana awalnya, saya di Jakarta maksimal 2 minggu di akhir November untuk urus resign dan settling visa. Eh, ternyata visa saya sempat ketahan sampai 3 minggu. Jadilah extend sebulan di Jakarta, jadilah timelinenya masuk buat nonton satu festival: Joyland!

Tulisan ini adalah catatan kesan-kesan menghabiskan Jumat hingga Minggu lalu di lapangan Softball GBK. Catatan agar jika suatu hari nanti saya baca lagi, bisa saya rasakan lagi euphoria akhir pekan W43.

Hari Pertama: Jumat, 4 November 2022
Tepat seminggu lalu. I was so excited when we arrived at the venue. We arrived early and it was already dark because of the clouds~ Yes, it was about to rain. It rained a bit when we queued at the gate. 

The first day... i didn't expect it would went that way. 

The first performer was Years&Years in the main stage. They were killing it. I mean, with all those stage acts and choreography, who cant resist to not dance with them??? Walaupun cuma tau berapa biji lagunya, but I really enjoy watching them on stage. Oh, one thing that catch my attention was the bass. Duh, there was that one song with a bold bass yang enak banget haaahhh. I have the footage but too lazy to upload it here. 

Right after Years&Years, we went to Ali's stage. It was the smallest stage. Gak tinggi juga. Gak seberapa ramai juga waktu kita dateng. So I stand like in the second row. Awalnya belum hujan, terus tiba tiba deras. I put the raincoat on and standing there amazed with the sounds of the guitar. Beneran kayak bengong, keren banget whyyyy. At that point kepikiran apakah aku harus beli gitar mahal padahal ngga bisa main gitar :)

After that, it was rain cats and dogs. Nunggu ujan reda di satu tenda yang mereka pakai sebenarnya untuk kids activities. Untungnya sih Jumat itu gak seberapa ramai ya, meskipun padet dalem tenda tapi cukup-cukup aja gak sampe sesak berdesakan.

Hujan kelar, sepatu basah, ga boleh re-entry. Yaudah jam jam berikutnya diisi dengan sedikit mengocehi sepatu yang basah.

Panggung yang berikutnya ditonton adalah The Adams. Awalnya ya duduk duduk anteng karena mau keringin kaki aja, nonton dari jauh. Eh pas mereka main Pelantur, langsung ketriger semua memori di kereta ke Newcastle muter lagu ini berkali kali. I put my shoes on and run to the crowds, singing it out loud. Celebrating the memories. I went to their shows quite often actually but I never realised that I actually know their songs. I sang to so many songs and it was fun! That was when I understand why people like them a lot. Dalam bahasaku yang cetek ini, their music is not basic. They're singing generic topics but their music is not basic.

Eh ternyata The Adams was the end of the night. Before The Adams, it was Seringai on the same stage. To be honest, I didn't expect that I would enjoy them. Tapi ya ternyata kok bisa. Pertunjukan mereka semacam pakai headset terus kencengin volume maksimum dikali 50. Jedar jedur berasa sampe dada woy. Tapi seru banget. Dari panggung ini sih jadi agak paham ya kenapa orang bisa suka band ini. Kadang kan memang pengen sesuatu yang memekak kan telinga tapi enjoyable. Nilai tambah lainnya, mereka bawa topik topik yang menyentil sana sini, mendukung buat kalau lagi emosi. Oh ya, mereka juga welcoming those newbies to their show and which I really appreciate. 

Day one was epic. From the heavy rain, from my first time experiences. 

Hari Kedua: Sabtu, 5 November 2022
Hari ini ya another first time nonton ini itu. I started the afternoon watching Sajama Cut. 
Kalian tahu kan kalau energi yang ada di panggung tuh bisa berasa sampai penontonnya? That was what I felt. Watching the vocalist really into the songs sampai naik naik ke semacam speaker di ujung depan panggung and the combination with the songs itself, duh! Menyenangkan sekali untuk ditonton meskipun ga hafal lagu lagunya. Kali pertama menonton Sajama Cut and surely looking forward for the nexts.

Hari kedua sebenarnya ngga terlalu ambisius. Di list priority cuma ada 3 penampil. Ada 3 lagi di daftar "Good if can". Salah satu "Good if can"-nya adalah Scaller dan kebetulan can. Pertama kali nonton Scaller yang ternyata membawa banyak lagu dari album baru mereka. Satu kata: KAGUM. I didn't know that Reney Karamoy's guitar is that sick and Stella Gareth voice is that powerful. Bahkan sampai ada satu lagu baru mereka yang jadi earworm, sepulang konser sampai hari ini masih didengar terus. I think will come to their show again this weekend. 

Setelah menganga, kagum dengan riff riff gitar Scaller, kami pindah ke panggung band yg masuk list "Priority": Perunggu.
We were in the front row!!! Pertama kalinya saya ada di baris paling depan dan pertama kalinya menonton Perunggu setelah beberapa bulan ala ala karaoke menyanyikan lagu mereka di kamar. The feeling was surreal. Ya kayak karokean tapi sama bandnya langsung. They played all my favorite songs: Tarung Bebas, Biang Lara. Seneng banget sihhh, what an experience. Apakah akan front row lagi kali lain? Um, kayanya kalau mau ngoyo karokean aja hehehe.

Hari kedua ditutup dengan nonton Tulus yang suaranya haduh ternyata live bagus berkali lipat.
Heartwarming~ ditonton sambil makan malam menu sisaan tenant yg masih buka, udah pada abis semua.

Hari Ketiga: Minggu, 6 November 2022
Highlight hari ketiga: capek. My body isnt made for 3 festivals. I only watched BAP yang juga pertama kali dan keren banget. He's like very humble on the stage terus pake acara turun nyanyi bareng sama penontonnya di akhir. Dia juga cerita sedikit soal beberapa lagunya, termasuk the one that I listen the most "Same Shoes, No Company".

Sisanya ya goleran di rumput, makan, ngobrol, terus ga lama pulang karena kecapean.

Overall, i do enjoy the festival except the capek part. Kayanya ga bisa deh nonton festival lagi. I'm more to single performer show gitu sepertinya. 

Sebenarnya ya sedih juga, I will miss lots of festivals in JKT bcs I'll be moving to MY next month!!!! Another country unlocked. Yaudah lah ya, we'll see. Mana tahu di sana juga seru seru.

See you on my next post!

Love,
Dwika
Readmore → Wika in Joyland 2022

Sunday, October 23, 2022

What Changed Her?

I don't know what's the trigger. All I know is that I act differently this time.

She used to be that person who stays in her comfortable room, get food delivered to her place, having the least conversation and rarely walk around to see the neighbourhood when she first moved to a new place. She was too reluctant or shy or scared to have an interaction with human. It took so long until she finally open up herself. I don't know why.

This time, on her first day, she surprised herself. 
She walked around comfortably, dragging herself to see what's around, where she might sit and sip coffee (or choc). 
She even met and talk to people everyday on her first week in this city. 
I don't know what changed her. 

Is that the repeating Batur hiking? Is that the conversation she had with that guy from Bumble?

Mungkin karena ia baru menyadari, waktu yang ia punya di setiap tempat yang ia kunjungi sekarang bukan tidak terbatas. I just don't want to waste my time by just staying in my room while there are so many interesting places, persons around me. I want to see them all before I die. I have to!

I still don't know what change her, but sure I am happy that she starts writing again.

Maybe it's the conversations with guy from bumble and that surprisingly long conversation with her friend's little sister.

Fuck it. I'll start writing my feelings again. 

I'll go to those places I've never visited here in this city. And as an assignment, I'll write anything including my feelings in those places.

Wait for it :)
Readmore → What Changed Her?

Friday, February 18, 2022

Karya-karya lain yang saya tahu dari lagu lagu alt-J

Let me take you back to my Monday, 15 Feb 2022. That morning post shower: earworm. 
It was from alt-J's new album that was played during shower. That wasn't my playlist.

10 minutes before the last station, i started listening to the album, from the beginning, orderly. 
2 songs and Kranji already. The loop paused. I had to take off the airpods.

So much work to do but i keep that on repeat with some pauses between calls and meetings.

My favorite song from the album already decided by the evening. 
I didn't know what was the song about. I just really like the string part, sounds familiar but i dont know that it is.

And as always, that's the beginning of the digging~
Lucky that today you got music app with lyric and a brief about the song in it!!! 
Yep, Spotify got it all.

So, I go through each song all over again. Checking the the storyline whenever i feel intense or heard something interesting.

There is this one song that hypnotized me with the lyrics and the guitar part following it:


I started thinking what is this song about? Is this about someone who is trying to move on?
Then the storyline reveals the surprise: 



Suddenly I remember how this band always introduce me to another piece of art. From children book, old movie, even a famous statue in Verona!

I promise myself to write the in one post. So here it is:

1. Breezeblock
This song went viral on tiktok couple months ago but i managed to not get annoyed hehe.
So they took a sentence from an award winning children book titled "Where The Wild Things Are" by Maurice Sendak. It's about a boy and his weird dream. There are monster like creatures in his dream say "Please don't go, we'll eat you up, we love you so!".
I even bought the book, tho. Well my sister did.

2. 3WW
aka Three worn words aka I love you.
Same story, i didn't know what this song was about so like what we all did, i google it. At that time, spotify hasn't got the lyric in it but genius was already reliable. And of course, wikipedia always there to help. I copy it here:
"The chorus refers to the statue of Shakespeare's Juliet at the Casa di Giulietta in Verona, which has been damaged by excessive rubbing by the hands of visitors eager for good luck in love."

I woudnt know there is a statue known for good luck in love in Verona! 


3. Matilda
Basically, they made as song based on main characters in a movie, capturing the relationship and a part of the storyline. The movie was "Leon", i think i also watched it in youtube long ago (or was it just the MV?). I cant remember the story but it's about Matilda (the girl) with Leon (the hitman). Oh i just re-read the wiki, Matilda was Natalie Portman!

Edit 20Feb22: I actually did watch the movie i even wrote a short review here.



4. Happier When You're Gone
I mentioned this earlier. And it is very clear from the story line.
I actually like the lyrics a lot and currently on repeat~
They're just soooo cool making a beautiful song in a form of response of a famous song. It blows my mind.

And just like the statue, I wouldn't know there is this "rock standard" song even Hendrix has his own version.
-----

There are more than these 4 songs inspired by pre-existing piece of arts but I like this 4 the most.

So that's it.

The first post of 2022 is about my favorite band.

Anyway i hope to write more this year. Wish me luck!






Readmore → Karya-karya lain yang saya tahu dari lagu lagu alt-J

Friday, December 31, 2021

2021

It's time of the year again to write that one post: 2021.

I finally admit that pandemic years are weird. Setahun ini isinya ya di kamar, ketemu teman jarang jarang banget. Ya paling mereka mereka lagi. Saya kehilangan kesempatan bertemu dan berteman dengan orang orang baru. Ya, ya, katanya sih itu semua bisa digantikan melalui online apapun itu. Truth is it isnt. Pada akhirnya, lingkaran baru (yang kadang rasanya kurang nyata itu) hanya bertambah dengan orang orang di tempat kerja baru. No offence, sama sekali bukan masalah dengan orang orangnya, they're all super nice, cuma mediumnya saja yang menyebalkan.

Meskipun harus diakui juga, di sisi lain saya senang bekerja online. Tidak usah repot-repot bangun pagi dan berangkat kerja. Ah, hidup memang isinya paradoks.

Anyway, here's my 2021:

Kuartal pertama
Kembali ke Bekasi.
I think this is about accepting the reality that the path is not always smooth and straight. Ini adalah masa masa ujian bagi orang yang meyakini kalau "usaha tidak akan mengkhianati hasil". Ketika kembali ke Jakarta mengharapkan hasil yang diusahakan dengan sangat bersungguh-sungguh ternyata kenyataannya tidak seperti yang diproyeksikan. Saya sempat sangat tidak terima dan sedih, tentu saja.

Terima kasih kepada orang orang yang menemani saya melewati hari hari yang kurang saya sukai itu. 

Pada akhirnya, saya mencoba menerima kenyataan dan kembali pada hal hal yang saya punya.

Tapi. When i accept things. Menerima bahwa mungkin ini jalan lain yang harus diambil, the offer i wanted came! Sudah gila. Saya baru saja kembali bekerja di tempat lama beberapa minggu and they offer me the job i wanted???

Kemudian saya harus bimbang lagi, memikirkan bagaimana caranya resign.

Ya pada akhirnya resign juga dan bayar penalti lumayan juga.

Kuartal Kedua
Landed on the job i wanted.
On the 2020 (and also 2019) recap, i wrote something on getting to know my value and trying to work on a job that is align or at least not conflicting my personal value. Well, it happened! After all those dramas, i got the offer from that retail company which was the subject of many of study cases back at school last year. lol. Some might see it as coincidence, but i would say this is what happen when you *project* and *manifest* what you want. Bonus: i got a very supportive manager and team!

Anyway, I think my love language at work is word of affirmation. So when I received those words saying i did something useful from my boss and other coworker, i feel much more appreciated. They notice what i did despite we never met! And for most, saya bahkan ga pernah tahu rupa mereka. At this point i know I'm in the right place.

Kuartal Ketiga
Isinya cuma bekerja. Kasus covid sedang naik naiknya.
Tapi cukup senang tinggal di Bekasi akhir pekan leyeh leyeh nonton youtube dan balapan F1.

Kuarat Keempat
Kembali ke Bali.
Sepertinya ini adalah periode terlama saya berada di rumah setelah terakhir SMP.
Awalnya saya pun tidak berencana untuk pulang se-lama ini. Cuma setelah di rumah, main dengan blu dan bron, mengapresiasi asrinya pemandangan dan suasana di desa, saya memutuskan untuk tinggal sementara di sini. 

Tahun ini seperti panjang tapi singkat. Cerita saya tentang tahun ini singkat sekali.
Sepertinya ada masalah. Iya, masalah karena setahun tidak menulis. Jadinya ide hanya ditulis pada satu kalimat tanpa elaborasi. Saya juga kurang baca. Hanya 7 buku. 

Tahun ini isinya adaptasi dan semua tentang pekerjaan baru sampai sampai kurang mendedikasikan waktu dan sumber daya untuk hal hal yang saya suka. Masa iya hidup isinya cuma kerja? 

Tahun Depan
Tahun depan saya harus banget menulis. Tidak mau lagi bermalas malasan sampai tau tau tidak bisa menulis lagi. No.

Harus juga membaca. Tanpa referensi, mau menulis apa? Dangkal.

Harus belajar hal baru yang tangible.
Lanjut belajar bahasa Prancis kek atau lanjut digital marketing. 

Lanjut jualan juga penting, kamu sudah menulis ini sejak tahun kemarin.

Karir. I want to do more. Exploring more roles. Leaving tangible outcomes.

Menonton balapan formula 1 di Sirkuit.


Akhir kata, meskipun tahun ini aneh, semoga hal hal baik yang kita usahakan untuk 2022 bisa terwujud. Amin


Readmore → 2021

Saturday, January 30, 2021

Hal-hal yang Kupelajari dari Kulit Wajahku (Nov 2020 - Jan 2021)

Disclaimer: tulisan ini sepenuhnya dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, tanpa riset-riset soal kesehatan kulit yg serius. Jangan gunakan sebagai acuan. 

Oktober 2020 adalah bulan ketika saya merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan kulit wajah. Ini bukan karena penampakan kulit wajah yang tidak mulus, tapi lebih kepada rasa sakit dan gatal yang timbul bersama jerawat-jerawat yang tidak kunjung selesai. Sebenarnya kalau ditarik ke belakang, kulit saya tidak pernah rewel sepanjang masa sekolah dan kuliah. Saya baru mulai berurusan dengan setelah bekerja di Bekasi. Awalnya ya satu dua, eh merembet jadi urusan yang tidak selesai. Hilang satu, tumbuh lagi di tempat lain. Waktu itu sih merasa tidak terlalu mengganggu karena ya masih bearable. Jadi tidak terlalu ambil pusing. Pakai produk untuk wajah juga seadanya (sabun cuci muka, pelembab jarang jarang, tidak pernah pakai sunscreen). Tidak pernah mendedikasikan waktu untuk mencari tahu kenapa dan harus apa hehehe.

Entah karena sedang stress akibat quarantine berkepanjangan atau juga memang kulit sudah lelah sekali, di Oktober 2020 rasanya jerawat-jerawat ini mulai kelewatan. Akhirnya tidak tahan dan mulai mencari tahu (juga karena tidak banyak yang bisa dilakukan karena quarantine lol).

Di tulisan ini saya akan merangkum hal-hal yang saya pelajari dari cerita menghadapi jerawat dari Oktober kemarin.

1. Basic Skincare Routine (Cleanse - Moisture - Protect)

Fun fact: saya baru tahu basic skincare routine di usia 26 tahun! 

Ini juga karena seorang teman (Dey @deylupi on instagram) yang sangat passionate berbagi soal skincare di akun instagramnya. Awalnya ya saya cuma liat-liat saja, tidak ada keinginan untuk benar-benar cari tahu. Eh tapi karena dia selalu preaching soal cleanse-moisture-protect kok ya nyangkut di kepala. Alhasil waktu muka ini breakout gak kelar-kelar, satu yang saya yakin harus dilakukan adalah melakukan rutin dasar itu. Dey amat sangat menekankan kalau hidrasi adalah hal paling utama yang harus dikhatamkan sebelum hal lain. Singkat kata, kalau kulitnya lembab, kerewelannya bisa ditekan, terus kita bisa lebih fokus mengatasi masalah-masalah utamanya. Kalau mau penjelasan lebih rapih, cek instagram @deylupi aja ya.

Dari sana, saya mulai mengecek produk-produk (yang gak seberapa) yang saya pakai dan sadar kalau sepertinya cleasing step ala waktu itu ala kadarnya (cuci muka selalu buru buru), pelembab gak seberapa lembab (tanpa dibarengi produk lain yg melembabkan jg). Satu satunya yang bisa dibanggakan waktu itu ya cuma udah rajin pakai sunscreen. Sejujurnya, waktu itu sangat tergoda mau beli foreo karena berpikir kalau, "jangan jangan cuci mukanya kurang deep jadi banyak kotoran tidak terangkat. Mungkin kalau pakai bantuan alat bisa lebih bersih terus jerawatnya ilang". Untungnya karena Foreo mahal, saya urungkan niat dan meyakinkan diri untuk menghabiskan sedikit lebih banyak waktu untuk double cleasnsing.

 

Oh ya, beberapa tahun lalu saya sebenarnya pernah sudah pernah pakai micellar water (yang harganya agak mahal) untuk double cleansing tapi malah jerawatan. Dengan sok tau saat itu saya pikir kalau saya tidak cocok pakai micellar water. Ternyataaaaa, i did it wrong. lol. Micellar water ternyata harusnya dipakai sebelum cuci muka, bukan setelah. Haha. Kali kedua pakai micellar water dengan step yang benar, it does help!

 

Hasil dari basic routine ini tentu gak kelihatan dalam semalam (lihat foto Dokumentasi Fase Pertama). Harus konsisten, mau meluangkan waktu melakukan step yang benar dan meluangkan biaya untuk mengganti produk yang tidak cocok.

 

2. Exfoliate untuk meluruhkan kulit mati

Setelah yakin dengan rutinitas dasar di poin 1 sudah dilakukan dengan baik, akhirnya saya merasa perlu untuk step up ke exfo untuk mengikis kulit-kulit mati yang bisa menyumbat pori dan akhirnya bikin jerawat. 

 

Dari pengalaman sebelumnya, saya pernah pakai physical exfo dengan scrub yang berujung muka jadi breakout. Saya juga pernah pakai chemical exfo the bodyshop yang sebenarnya cukup berefek waktu rajin dilakukan. Pernah juga pakai exfo paula's choice BHA 2% tanpa benar benar tahu cara kerjanya dan ga ngefek sama sekali. Dari situ saya mulai cek cek lagi, produk exfo apa yang harus dipakai kali ini.

 

Lagi lagi ini soal top of mind. Beberapa tahun lalu, Melo pernah cerita kalau dia pakai serangkaian produk Paula's Choice dan hasilnya ampuh untuk masalah jerawatnya. Saya tertarik mau coba lagi, apalagi kali ini ceritanya sudah cukup yakin dengan basic skincare

 

Ternyataaaaaaa, it works!!!! (lihat foto Dokumentasi Fase Pertama)

Setelah beberapa minggu dengan basic routine, saya mulai pakai salicylic acid (exfo) dan benzoyl peroxide (spot treatment). Saya rasa sih ini karena kulitnya sudah cukup terhidrasi sehingga efek dari produk eksfoliasi jadi lebih keliatan. Ngga fail kayak dulu :')

Dokumentasi Fase Pertama: Oct-Nov 2020

3. Konsisten

Memasuki tanggal 20-an November, kulit saya mulai rewel lagi. Padahal step skincare yang saya lakukan masih sama. Saya curiga sih ini karena dua hal. Pertama pergantian musim ke summer dan lagi-lagi masalah hormon karena stress mau lulus hehe. Waktu itu saya tetap saja bertahan dengan rutinitas basic. Oh ya, penggunaan exfo juga saya lanjutkan tapi mengganti produknya ke jenis lain (BHA yang dulu pernah saya coba dan tidak ada efek) sekitar tanggal 20an Desember karena produk sebelumnya habis (travel size doang sih). Eh cocok juga dong ternyataaaaaaa. See the picture below!!!

 

Foto terakhir (26 Jan 21) diambil saat saya sudah sebulanan di Indonesia. Can u see the progress?? Jauh banget kaaaaaaan? I guess my hormone sudah agak tenang karena sekarang sudah lulus jg sih lol. Tapi perbaikan tekstur, bekas jerawat yang pudar??? All hail the hydration and some help from exfo sihhhhh.

 

Intinya ya mesti konsisten dengan si basic routine yg sudah baik itu. Usaha ngga akan mengkhianati. hehe.

Dokumentasi Fase Kedua: Nov 20 - Jan 21


4. Mencari produk yang sesuai

Tentu saja ini adalah step yang perlu usaha dan biaya karena cara paling gampang untuk tau produknya cocok atau engga adalah dengan dicoba. Sejujurnya saya gak belajar banyak soal kandungan-kandungan skincare, jadi keputusan beli produk ya banyakan dari liat klaim di kemasan mereka ._. Lagi lagi ini bukan untuk dicontoh ya. Akan sangat baik kalau mampu meluangkan waktu untuk belajar, membaca dulu apa yang sekenanya cocok untuk kebutuhan kita. Nah karena ketidakmampuan itu, saya mesti merelakan beberapa puluh dolar untuk produk-produk yang kurang cocok. Mulai dari pelembab yang kurang cukup menghidrasi hingga sheetmasks yang akhirnya tidak dipakai. Memang sih tidak sebanyak itu, tapi tetap saja sebal.

 

Dalam kasus saya, sangat gampang untuk membeli produk dari brand yang ada di top of mind saya. Dan biasanya ini adalah brand-brand yang pernah disebutkan cocok oleh teman terdekat yg saya percaya opininya dalam urusan per-skincare-an.

 

Satu hal yang sangat penting untuk dicatat: satu produk mungkin cukup lembab/efektif pada satu orang tapi mungkin tidak sama sekali pada orang lain. Kamu perlu mencari tahu sendiri produk mana yang cocok untukmu. 



Sebagai penutup, mengenali kulit sendiri memang bukan hal mudah. Ini bahkan lebih sulit dari mengenali anatomi vagina saat belajar menggunakan menstrual cup. Jadi perlu kesabaran ekstra untuk belajarnya. Kalau mau cepat ya berarti perlu mencari bantuan profesional, yaaa.



Ditulis di Kota S

Readmore → Hal-hal yang Kupelajari dari Kulit Wajahku (Nov 2020 - Jan 2021)

Tuesday, January 19, 2021

Bagaimana Membuat Proses Test Antigen di Balimed Buleleng Agar Lebih Efisien

Halo! Ini adalah post pertama saya di 2021 dan ini agak produktif sih, hehe. Ceritanya sekitar dua minggu lalu saya test COVID-19 jenis Antigen di salah satu rumah sakit di kota saya yaitu Balimed Buleleng. Sejujurnya, kalau dilihat dengan kacamata lokal (dibandingkan dengan layanan publik di Buleleng pada umumnya) prosesnya bisa dibilang cukup baik bahkan perlu diapresiasi karena keramahan dari personilnya. Tapi, berhubung kemarin saya mengambil kelas Business Process Management, jadinya merasa ada yang cukup mengganjal dengan proses tersebut. Dua masalah yang saya temukan adalah 'overservice' dan 'inefficiency'. Keduanya memang sangat berkaitan, tapi pada kasus ini akan saja jabarkan untuk dua hal berbeda.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang kedua masalah tersebut, mari kita lihat dahulu proses yang saat ini dijalankan (as-is).

Proses utama dari Tes Antigen di Balimed Buleleng bisa dipecah menjadi dua proses besar. Pertama adalah Registrasi dan kedua adalah proses Tes itu sendiri (Test Day). Kebetulan di hari saya mendaftar, saya datang sekitar pukul 10.30 siang sedangkan pendaftaran dan test mereka ditutup pukul 10 pagi dengan maksimum 15 test per hari. Sehingga di hari pertama saya hanya bisa mendaftarkan diri dan kemudian dilakukan test di hari berikutnya. 

Ilustrasi proses registrasi eksisting dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Salah satu masalah  proses ini dari sudut pandang pengguna layanan adalah tidak adanya petunjuk arah sehingga pengguna layanan sangat bergantung pada arahan dari personnel rumah sakit seperti security. Dari sudut pandang sumber daya pemilik proses, tidak adanya petunjuk arah ini menyebabkan perlunya mendedikasikan pekerja untuk melayani pengguna. Padahal, penggunaan sumber daya ini dapat diminimalisir (meminimalisir pergerakan security dalam escorting dan meminimalisir usaha dalam memberikan petunjuk arah). Selain itu, hal ini juga akan meminimalisir kontak antara pengguna layanan dan pekerja rumah sakit yang sangat penting di kondisi pandemi. Selanjutnya di area resepsionis terjadi pengulangan informasi yang disampaikan pengguna layanan. Dalam hal ini saya kembali mengucapkan keperluan untuk test. Lagi-lagi ini sebenarnya tidak efisien karena sebaiknya informasi ditangkap cukup satu kali saja. Setelah mengulangi hal tersebut barulah saya mendapatkan penjelasan secara mendetail tentang tes tersebut. Tidak banyak kompain di sini meskipun saya harus mengisi form secara manual dan kemudian (asumsi saya) petugasnya memasukan data saya ke dalam sistem. Tapi saya tidak akan membahas mengenai otomatisasi sistem karena sepertinya kurang feasible dari aspek jumlah tes harian dan biaya yang harus dikeluarkan untuk otomatisasi.
COVID-19 Antigen Test at Balimed Buleleng - Registration (as is)

Bagian kedua dari proses ini adalah bagian utamanya yaitu Test Day. Ilustrasi proses di Test Day dapat dilihat pada diagram di bawah ini. Proses ini menurut saya sangat tidak efisien karena banyak sekali waktu tunggunya. Lagi lagi salah satu penyebabnya adalah tidak adanya petunjuk yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan di setiap sub-prosesnya. Ketika saya datang, saya ditanyai nama, kemudian disuruh menunggu. Kemudian mereka memanggil saya, memberikan stiker nama (yang nantinya diberikan ke petugas tes) dan menunggu lagi, lihat diagram di bawah. Untungnya, para pegawai di sana sangat ramah, jadi ketidakpuasannya bisa diredam. Nah, masalah lain yang timbul akibat kurang terinformasinya pengguna layanan adalah petugas lagi lagi harus mengantarkan pengguna layanan dari satu titik ke titik lain. Misalkan dari area resepsionis ke area tes kemudian ke area kasir. Padahal, jika pelanggan diberikan informasi yang jelas (baik melalui visual maupun lembaran kertas berisi instruksi lengkap), mereka tidak perlu overservice. Saya sih merasa kasihan dengan petugas yang harus mengantar saya bolak balik dan saat itu dia terlihat menggunakan sepatu yang kurang nyaman untuk mobilitas semacam itu. Setelah itu, saya masih harus menunggu lagi sebelum akhirnya membayar dan menerima hasil tes.

COVID-19 Antigen Test at Balimed Buleleng - Test Day (as is)

Nah, dari ilustrasi di atas, sepertinya sudah cukup jelas, ya, tentang apa yang saya maksud sebagai overservice dan inefficiency.

Sekarang kita masuk ke bagian rekomendasi untuk meningkatkan peforma efisiensi prosesnya.
Menurut saya, adanya petunjuk arah dan informasi yang jelas dan memadai sangat penting dalam meningkatkan efisiensi proses ini. Misalnya saja, rumah sakit perlu menempatkan petunjuk arah menuju area pendaftaran di pintu masuk ataupun area area strategis kedatangan seperti parkir. Dengan demikian, calon pengguna layanan dapat langsung menuju resepsionis tanpa perlu membuang waktunya bertanya pada security. Hal ini juga akan mengurangi penggunaan resource security itu sendiri. Selain itu, informasi yang disampaikan calon pengguna layanan juga cukup satu kali saja di resepsionis. 

Begitu juga petunjuk arah untuk Test Day perlu dibuatkan sehingga petugas tidak perlu mengantarkan pengguna layanan ke area test. Petugas juga perlu memberi tahu pengguna layanan saat konfirmasi kedatang mengenai proses-proses selanjutnya sehingga mereka dapat langsung menuju kasir setelah melakukan tes. Atau, prosesnya dapat dibalik menjadi pembayaran test saat konfirmasi kehadiran di meja resepsionis dan dilanjutkan dengan test. Mengingat lokasi test, resepsionis, dan kasir bisa dibilang bikin bolak balik dengan proses awal, opsi ini akan mengurangi secara signifikan pergerakan pengguna layanan yang tidak perlu. 

Kemudian, untuk mengurangi waktu pergerakan tidak penting serta waktu tunggu saat konfirmasi kedatangan, perlu dibuat alur yang jelas. Dalam hal ini misalnya dibuat jalur antrian yang jelas sehingga pengguna layanan dapat langsung masuk jalur antrian, dan saat berada di depan resepsionis, seluruh informasi maupun stiker nama yang diperlukan langsung diberikan (jadi pengguna layanan tidak perlu bolak-balik). 

Pada intinya, perbaikan dalam visualisasi informasi dan penempatan serta penyampaiannya secara lengkap akan sangat membantu proses ini untuk menjadi lebih efisien. Dengan demikian diharapkan proses menjadi lebih cepat dan usaha yang dikeluarkan (resource, cost) yang tidak perlu bisa dihilangkan.

Seharusnya sih saya gambarkan juga model 'to-be' nya, tapi terlanjur mager di sini. Hehe. 

Tulisan ini benar-benar tidak ada maksud untuk menjatuhkan pihak manapun. Ini adalah murni pendapat saya tentang bagaimana suatu proses (yang saya alami sendiri) dapat ditingkatkan efisiensinya.

Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat untuk yang sedang membacanya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Salam hangat,
Dwika.
Readmore → Bagaimana Membuat Proses Test Antigen di Balimed Buleleng Agar Lebih Efisien

Thursday, December 31, 2020

2020

Halo! Sejujurnya bingung bagaimana harus memulai tulisan ini dengan baik (re: tidak canggung atau kaku) hehe. Tapi mari kita mulai saja...

Hari ini adalah 31 Desember 2020. Hari terakhir dari tahun yang bagi banyak orang adalah tahun yang kurang bersahabat. Saya lihat di berbagai post sosial media kalau rencana mereka banyak yang harus ditunda atau bahkan dibatalkan, padahal sudah disiapkan dari jauh jauh hari. Tahun ini sepertinya memang berat bagi sebagian besar orang di dunia.

Bukannya mau berbahagia di atas kesusahan orang lain, tapi tahun ini saya cukup beruntung. Boleh dibilang, hidup tidak terdampak sebegitu besar. 

Dan seperti biasa, ini adalah rekap cerita saya di tahun ini.

Pertama: Menyelesaikan kuliah untuk kali kedua.
Highlight ringkasan 2019 kemarin adalah momen saya masuk kuliah lagi dan highlight tahun ini adalah saya lulus. Ada hal yang cukup menarik dari perkuliahan 2020 ini, seperti yang juga dialami semua pelajar di dunia: kuliah online. 

Saya masih ingat, minggu kedua perkuliahan di gedung Business School, kami cuma 5 orang yang hadir. 4 pria dan satu wanita duduk menyebar di ruang kelas berkapasitas 50an orang. Hari itu ada temuan kasus kedua di kampus kami dan semua orang bersiap-siap untuk mengisolasi diri untuk menghindari virus. Jadilah hanya kami berlima yang datang ke kampus hahaha. Minggu berikutnya, kelas dijalankan dalam jaringan. Kuliah online berlanjut hingga saya lulus! Jadi dari 4 term saya kuliah di UNSW, hanya 1 term yang kuliahnya normal.

Kalau boleh jujur, masa isolasi/karantina/lockdown di Sydney adalah waktu yang biasa saja buat saya karena memang terbiasa apa apa sendiri dan tentu saja karena saya socially awkward. Jadi di masa itu, saya agak senang karena apa yang saya lakukan selama ini menjadi hal yang normal bagi semua orang sekarang hahahah~ Tapi selain itu juga karena kehidupan di saya tidak terlalu terdampak (masih bisa pergi pergi dalam radius tertentu untuk belanja/makan, pusat perbelanjaan tutup tidak terlalu lama). Masalah utama di masa itu ya soal semangat belajar yang boleh dibilang agak melempem. Terutama di Term 1 2020. 

Pada akhirnya, dengan semua drama drama kecil perkuliahan dan pergeseran prinsip dari yang biasanya "ambisius mengejar nilai paling bagus" ke "nilai optimal dengan usaha minimal", ternyata semuanya selesai juga. Di target tahun lalu ambisius sekali mau mengejar 4 HD dan pada akhirnya hanya kesampaian 2 :))) Tapi saya senang sekali kok! Dua mata kuliah yang nilainya HD adalah mata kuliah yang saya suka dan kerjakan dengan paling sepenuh hati.

Bonus: masuk tim sim game untuk kampus, ditawari jadi tutor untuk tahun depan. 


Oh ya, karena tadi saya sedikit menyinggung soal target tahun lalu, saya sekalian review ah~
Kemarin itu ada 3 target karir. Updatenya: on progress, tidak bisa bicara banyak. Harapannya sih awal tahun besok ada berita baik he he. 

Soal target senang senang, buyar semua. Blame it to the pandemic! HAHA. Kemarin ya cuma di Sydney, tidak kemana mana and I'm totally okay with that. Kalau dipikir-pikir, sih, I'm not that 'travel person'. Orang road trip dikit udah cape, long flight dikit kepikiran~

Tapi kabar baiknya adalah:

Kedua: menemukan teman teman baru.
Tidak banyak, bisa dihitung jari, tapi saya benar benar mengapresiasi hubungan yang dibangun. Mulai dari teman-teman Indonesia yang saya temui di kampus sampai orang lokal yang saya kenal di komunitas relawan kampus. Mereka membuat kehidupan perkuliahan dalam quarantine menjadi lebih seru dengan segala ritual jajan. 





Ketiga: membuka mata akan nilai-nilai yang penting bagi diri saya.
Personal value mulai saya kenal ketika mengambil mata kuliah Professional Skills & Ethics. Selama perkuliahan berjalan, saya semakin mengenal dan memahami nilai-nilai apa saja yang ternyata sangat penting bagi saya dan bagaimana memperjuangkan nilai tersebut. Saya merasa kalau membawa manfaat bagi orang banyak adalah salah satu hal yang sangat penting dan menjadi pertimbangan untuk membangun karir nanti. Ya, kurang lebih seperti itu. 

Keempat: belajar bahasa Prancis.
Ada dua pemicunya:
1. Nonton Emily in Paris
2. Merasa perlu belajar hal baru
Jadilah saya mendaftar kursus bahasa Prancis di IFI. Nah, salah satu sisi baik dari pandemi kali ini adalah berbagai hal jadi online, termasuk kursus bahasa Prancis ini! Baiknya lagi, jadwalnya pas sekali (pagi waktu Jakarta, siang waktu Sydney). Sebenarnya sih dari dulu saya ingin sekali belajar bahasa asing. Beberapa tahun lalu pernah sampai datang ke Goethe-Institut di Jakarta untuk daftar kursus bahasa Jerman tapi waktu itu slotnya sudah habis. huh. Eh ternyata kesampaiannya belajar bahasa Prancis.
Niatnya sih mau belajar lebih lanjut tahun ini. Mau benar-benar diseriusi. Semoga jadwalnya cocok dengan jadwal kerja nanti.

Ya, kurang lebih itu sih yang bisa saya bagi tentang 2020. 
Sekarang ke bagian menyenangkan berikutnya, membuat harapan-harapan untuk 2021!!

Saya memikirkan apa yang ingin saya lakukan tahun depan sembari menulisnya sekarang. Apa ya..
1. Mengajar. Belajar untuk mengajar, mungkin di kampus lama.
2. Coding. Setidaknya fasih menggunakan R atau Phyton, please. 
3. French. Lulus A1 (yang butuh 90 jam lagi).
4. Menabung dengan konsisten :)
5. Mulai fokus untuk navigasi karir, oke?
6. Nonton konser mooner/albert hammond jr/dualipa, pleaseeeeeeee. finger crossed.
7. Jualan lagi.
8. Membaca: 12 buku.

Oh ya, pengen juga sih nulis olahraga di daftar di atas cuma sepertinya saya belum siap aahahaha.

Oke, sepertinya daftar di atas cukup feasible. hehe. Semoga rencana-rencana 2021 kalian juga seru ya! Entah tercapai atau engga, ya yang penting diusahain dulu hehehehe. 

Selamat tahun baru! 
Readmore → 2020

Sunday, June 28, 2020

Beralih ke Menstrual Cup

Sudah lama sekali tidak menulis untuk blog ini! Banyak hal yang terjadi, termasuk perasaan rendah diri yang mengganggu sekali. Huh. 

Kali ini saya ingin bercerita saja tentang pengalaman berganti dari pembalut konvensional ke menstrual cup (menscup)!

Lunette Menstrual Cup


Sebenarnya sudah lama sekali ingin mencoba pakai menscup, mungkin sejak tahun 2018 setelah membaca Bumi atau Plastik. Tapi saat itu rasanya harga menscup mahal sekali, sekitar 700ribu sampai 1 juta rupiah lebih. Kalau dihitung-hitung dengan harga pembalut di Indonesia, harga setahunnya pun belum sebanding. Sebagai bayangan, harga pembalut yang biasa saya pakai (Laurier Super Slimguard) isi 20 pieces adalah 28.000, sepotongnya berarti 1.400 rupiah. Siklus haid saya berlangsung 4 hari dan dalam sehari ganti pembalut sekitar 3-4 kali. Jadi satu kali masa haid, saya rata-rata menghabiskan 15 x 1.400 = 21.000 atau sebanyak 252.000 setahun. Masih sekitar sepertiga dari harga menscup. Memang sih menscup ini bisa dipakai bertahun-tahun, tapi karena seluruh harganya dibayar di muka, saya jadi bolak-balik pikir-pikir dulu. Terlebih lagi saat itu penjualnya belum banyak di marketplace seperti shopee dan tokopedia. Mau cari toko resminya di Indonesia pun belum ada.

Laurier di situs klikindomaret
Singkat cerita, beberapa bulan setelah pindah ke Sydney, saya mulai melihat-lihat lagi soal menscup. Ada 2 hal yang menarik perhatian. Pertama, pilihan merk yang tersedia beragam sekali dan bisa didapatkan dengan mudah baik melalui situs resmi merknya dan juga lewat Amazon. Kedua, harganya hampir setengah harga di Indonesia! Akhirnya saya putuskan membeli Lunette yang saat itu sedang diskon dengan harga sekitar 400ribu rupiah. Senang sekali!! Oh ya, kalau di sini, harga pembalutnya cukup mahal. Untuk pembalut superslim seperti yang saya gunakan di Indonesia harga per kemasan isi 20 potong adalah AUD5.8 atau sekitar 56.000 rupiah. Jadi pengeluaran untuk pembalut di sini jadi 2 kali lipat! Makanya keputusan beralih ke menscup menjadi semakin bulat.

Libra di situs Coles
Jujur rasanya degdegan sekali ketika pertama kali mencoba. Saya membaca instruksi manualnya berulang kali begitu juga menonton video tutorialnya. Ceritanya juga sempat saya bagikan di instagram. Intinya sih, percobaan pertama tidak langsung lancar. Ada insiden menscup tidak masuk dan jatuh karena tangan terlalu gugup hahaha. Ada perasaan mengganjal karena tangkai menscup belum saya potong. Sampai akhirnya pada satu siklus itu, saya coba bandingkan dengan menggunakan pembalut biasa kembali di hari ke 3 dan 4. 

Sebagian cerita di instagram story saya

Ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi dari pengalaman 2 siklus menggunakan menstrual cup:

1. Seperti tidak sedang menstruasi. It's a freedom!

Sejujurnya ini melampaui ekspektasi. Tidak pernah terbayang kalau menggunakan menscup bisa sebegitu mentransformasi pengalaman menstruasi dari yang awalnya riweh harus berganti pembalut tiap beberapa jam sekali dan menghadapi lembab serta bau menjadi sangat ringkas. 

Menghadapi masalah penggunaan pembalut konvensional yang sama setiap bulan selama belasan tahun ya jadinya terbiasa. Namun, ketika menggunakan menstrual cup, duh, benar deh, rasanya sampai lupa kalau sedang haid. Tidak ada keribetan-keribetan harus sering ganti. Tidak ada perasaan 'mengganjal' karena lembab dan bau di bawah. Rasanya tidak pernah sebebas ini!! Percayalah, ini tidak dilebih-lebihkan. Bagi saya, rasanya mirip seperti mendapatkan kebebasan karena dulu, setiap bulan, saya harus menambah beban pikiran atas siklus menstruasi semacam "duh belum ganti pembalut, lembab" atau "duh lagi deras banget ya flow darahnya" dan pikiran pikiran 'kecil' lain yang sebenarnya mengganggu tapi kita tidak sadari karena sudah 'terbiasa'. Ketika memakai menscup, awalnya saya heran, "eh ini sedang haid? kok tidak berasa?". Aktivitas mengosongkan cup pun cukup ringkas karena sekalian mandi. Atau kalau sedang banyak, saya mengosongkan maksimum 3 kali di hari pertama saja. 

Sampai sampai terpikir, kenapa ya baru tahu sekarang? Jadi tiba tiba terpikir juga, ratusan tahun peradaban manusia modern, kenapa ya inovasi produk menstruasi minim sekali? Dan ketika ada, kenapa mahal sekali? Seumur-umur, di rak toko-toko di Indonesia, pilihan produk menstruasi yang saya lihat ya cuma pembalut itu. (Ini secara umum, ya. Bukan toko-toko high-end di pusat perbelanjaan kota-kota besar). Mungkin ya karena itu yang paling terjangkau untuk pasar kita. Tapi...masa iya setega itu dibiarkan terus menerus? Masa iya tidak ada yang menyadari keribetan menstruasi ini? 

2. Skill baru, butuh latihan

Seperti yang disebutkan di atas, percobaan pertama menggunakan menscup tidak langsung lancar. Waktu itu sempat 2-3 kali percobaan sebelum benar benar terpasang dengan baik. Namun, seperti juga skill lain dalam hidup, setelah berlatih beberapa kali, di siklus mens kedua, saya mulai paham trik trik yang bisa diterapkan. Awalnya, saya mesti menarik nafas panjang dan mensugesti diri untuk rileks, kemudian sedikit bersandar agar bisa pasang dengan lancar. Saat siklus kedua, karena sudah tidak terlalu khawatir, 'ritual'-nya jadi jauh lebih cepat. Selain itu, teknik melipat menstrual cup yang paling cocok juga sudah diketahui dari beberapa percoban siklus sebelumnya. Jadi ya tinggal lipat, tarik napas, kemudian menuntun cup masuk dan terpasang dengan baik. Begitu juga saat melepaskan, awal-awal rasanya gugup sekali karena agak risih kontak langsung antara jari dan bagian dalam vagina. Tapi setelah itu ya ketemu sendiri cara termudahnya. Kalau saya sih dengan menarik batang menscup perlahan (back and forth) sampai dasar menscup bisa di-pinch dengan ibu jari dan telunjuk. Setelah itu tinggal ditarik pelan. Pesannya, sih, tidak apa kalau pengalaman pertamanya kurang menyenangkan, please try again until you master it :)

3. Mengenali vagina sendiri

Saya kira saya paham betul bagaimana vagina saya sampai ketika mencoba menscup, ternyata saya salah! Sedikit-banyak perasaan takut dan gugup muncul saat harus meletakan tangan di bagian bawah sana, meraba, memastikan apakah cup sudah terpasang baik. Perasaannya muncul mungkin karena saya mengira bagian itu 'fragile' dan takut akan bikin sakit atau semacamnya. Tapiiii, setelah semua percobaan-percobaan itu, saya baru benar-benar paham kalau vagina sama sekali tidak se-'fragile' itu. Hahaha. Ya buktinya saja perempuan melahirkan, dijahit, dan baik baik saja!! Nah setelah itu, karena sudah mengecek sendiri ya jadi tahu dan tidak canggung atau takut lagi.

4. Manfaat tambahan: lebih ramah untuk lingkungan

Banyak orang beralih ke menscup karena poin ini sebagai alasan utama. Mungkin banyak yang sudah tahu kalau pembalut konvensional tidak bisa didaur ulang sehingga menjadi sampah yang sangat susah terurai (baca: How tampons and pads became so unsustainable). Namun, bagi saya ini lebih seperti manfaat tambahan saja karena poin utama adalah kenyamanan saat digunakan. 


Sebagai penutup (yang lagi-lagi agak nanggung), saya bisa bilang kalau keribetan berlatih di awal sangat remeh kalau dibandingkan dengan kebebasan yang didapat dari pakai menscup. So, I think you should give it a try. Semoga tulisan ini bisa jadi tambahan untuk kalian yang sedang menimbang-nimbang untuk beralih :) 

Adios!

----------

Sebagian ditulis di kampus kemudian dilanjutkan di kamar kosan. 
Kingsford, 28 June 2020 23.22

Readmore → Beralih ke Menstrual Cup