Thursday, December 31, 2020

2020

Halo! Sejujurnya bingung bagaimana harus memulai tulisan ini dengan baik (re: tidak canggung atau kaku) hehe. Tapi mari kita mulai saja...

Hari ini adalah 31 Desember 2020. Hari terakhir dari tahun yang bagi banyak orang adalah tahun yang kurang bersahabat. Saya lihat di berbagai post sosial media kalau rencana mereka banyak yang harus ditunda atau bahkan dibatalkan, padahal sudah disiapkan dari jauh jauh hari. Tahun ini sepertinya memang berat bagi sebagian besar orang di dunia.

Bukannya mau berbahagia di atas kesusahan orang lain, tapi tahun ini saya cukup beruntung. Boleh dibilang, hidup tidak terdampak sebegitu besar. 

Dan seperti biasa, ini adalah rekap cerita saya di tahun ini.

Pertama: Menyelesaikan kuliah untuk kali kedua.
Highlight ringkasan 2019 kemarin adalah momen saya masuk kuliah lagi dan highlight tahun ini adalah saya lulus. Ada hal yang cukup menarik dari perkuliahan 2020 ini, seperti yang juga dialami semua pelajar di dunia: kuliah online. 

Saya masih ingat, minggu kedua perkuliahan di gedung Business School, kami cuma 5 orang yang hadir. 4 pria dan satu wanita duduk menyebar di ruang kelas berkapasitas 50an orang. Hari itu ada temuan kasus kedua di kampus kami dan semua orang bersiap-siap untuk mengisolasi diri untuk menghindari virus. Jadilah hanya kami berlima yang datang ke kampus hahaha. Minggu berikutnya, kelas dijalankan dalam jaringan. Kuliah online berlanjut hingga saya lulus! Jadi dari 4 term saya kuliah di UNSW, hanya 1 term yang kuliahnya normal.

Kalau boleh jujur, masa isolasi/karantina/lockdown di Sydney adalah waktu yang biasa saja buat saya karena memang terbiasa apa apa sendiri dan tentu saja karena saya socially awkward. Jadi di masa itu, saya agak senang karena apa yang saya lakukan selama ini menjadi hal yang normal bagi semua orang sekarang hahahah~ Tapi selain itu juga karena kehidupan di saya tidak terlalu terdampak (masih bisa pergi pergi dalam radius tertentu untuk belanja/makan, pusat perbelanjaan tutup tidak terlalu lama). Masalah utama di masa itu ya soal semangat belajar yang boleh dibilang agak melempem. Terutama di Term 1 2020. 

Pada akhirnya, dengan semua drama drama kecil perkuliahan dan pergeseran prinsip dari yang biasanya "ambisius mengejar nilai paling bagus" ke "nilai optimal dengan usaha minimal", ternyata semuanya selesai juga. Di target tahun lalu ambisius sekali mau mengejar 4 HD dan pada akhirnya hanya kesampaian 2 :))) Tapi saya senang sekali kok! Dua mata kuliah yang nilainya HD adalah mata kuliah yang saya suka dan kerjakan dengan paling sepenuh hati.

Bonus: masuk tim sim game untuk kampus, ditawari jadi tutor untuk tahun depan. 


Oh ya, karena tadi saya sedikit menyinggung soal target tahun lalu, saya sekalian review ah~
Kemarin itu ada 3 target karir. Updatenya: on progress, tidak bisa bicara banyak. Harapannya sih awal tahun besok ada berita baik he he. 

Soal target senang senang, buyar semua. Blame it to the pandemic! HAHA. Kemarin ya cuma di Sydney, tidak kemana mana and I'm totally okay with that. Kalau dipikir-pikir, sih, I'm not that 'travel person'. Orang road trip dikit udah cape, long flight dikit kepikiran~

Tapi kabar baiknya adalah:

Kedua: menemukan teman teman baru.
Tidak banyak, bisa dihitung jari, tapi saya benar benar mengapresiasi hubungan yang dibangun. Mulai dari teman-teman Indonesia yang saya temui di kampus sampai orang lokal yang saya kenal di komunitas relawan kampus. Mereka membuat kehidupan perkuliahan dalam quarantine menjadi lebih seru dengan segala ritual jajan. 





Ketiga: membuka mata akan nilai-nilai yang penting bagi diri saya.
Personal value mulai saya kenal ketika mengambil mata kuliah Professional Skills & Ethics. Selama perkuliahan berjalan, saya semakin mengenal dan memahami nilai-nilai apa saja yang ternyata sangat penting bagi saya dan bagaimana memperjuangkan nilai tersebut. Saya merasa kalau membawa manfaat bagi orang banyak adalah salah satu hal yang sangat penting dan menjadi pertimbangan untuk membangun karir nanti. Ya, kurang lebih seperti itu. 

Keempat: belajar bahasa Prancis.
Ada dua pemicunya:
1. Nonton Emily in Paris
2. Merasa perlu belajar hal baru
Jadilah saya mendaftar kursus bahasa Prancis di IFI. Nah, salah satu sisi baik dari pandemi kali ini adalah berbagai hal jadi online, termasuk kursus bahasa Prancis ini! Baiknya lagi, jadwalnya pas sekali (pagi waktu Jakarta, siang waktu Sydney). Sebenarnya sih dari dulu saya ingin sekali belajar bahasa asing. Beberapa tahun lalu pernah sampai datang ke Goethe-Institut di Jakarta untuk daftar kursus bahasa Jerman tapi waktu itu slotnya sudah habis. huh. Eh ternyata kesampaiannya belajar bahasa Prancis.
Niatnya sih mau belajar lebih lanjut tahun ini. Mau benar-benar diseriusi. Semoga jadwalnya cocok dengan jadwal kerja nanti.

Ya, kurang lebih itu sih yang bisa saya bagi tentang 2020. 
Sekarang ke bagian menyenangkan berikutnya, membuat harapan-harapan untuk 2021!!

Saya memikirkan apa yang ingin saya lakukan tahun depan sembari menulisnya sekarang. Apa ya..
1. Mengajar. Belajar untuk mengajar, mungkin di kampus lama.
2. Coding. Setidaknya fasih menggunakan R atau Phyton, please. 
3. French. Lulus A1 (yang butuh 90 jam lagi).
4. Menabung dengan konsisten :)
5. Mulai fokus untuk navigasi karir, oke?
6. Nonton konser mooner/albert hammond jr/dualipa, pleaseeeeeeee. finger crossed.
7. Jualan lagi.
8. Membaca: 12 buku.

Oh ya, pengen juga sih nulis olahraga di daftar di atas cuma sepertinya saya belum siap aahahaha.

Oke, sepertinya daftar di atas cukup feasible. hehe. Semoga rencana-rencana 2021 kalian juga seru ya! Entah tercapai atau engga, ya yang penting diusahain dulu hehehehe. 

Selamat tahun baru! 
Readmore → 2020

Sunday, June 28, 2020

Beralih ke Menstrual Cup

Sudah lama sekali tidak menulis untuk blog ini! Banyak hal yang terjadi, termasuk perasaan rendah diri yang mengganggu sekali. Huh. 

Kali ini saya ingin bercerita saja tentang pengalaman berganti dari pembalut konvensional ke menstrual cup (menscup)!

Lunette Menstrual Cup


Sebenarnya sudah lama sekali ingin mencoba pakai menscup, mungkin sejak tahun 2018 setelah membaca Bumi atau Plastik. Tapi saat itu rasanya harga menscup mahal sekali, sekitar 700ribu sampai 1 juta rupiah lebih. Kalau dihitung-hitung dengan harga pembalut di Indonesia, harga setahunnya pun belum sebanding. Sebagai bayangan, harga pembalut yang biasa saya pakai (Laurier Super Slimguard) isi 20 pieces adalah 28.000, sepotongnya berarti 1.400 rupiah. Siklus haid saya berlangsung 4 hari dan dalam sehari ganti pembalut sekitar 3-4 kali. Jadi satu kali masa haid, saya rata-rata menghabiskan 15 x 1.400 = 21.000 atau sebanyak 252.000 setahun. Masih sekitar sepertiga dari harga menscup. Memang sih menscup ini bisa dipakai bertahun-tahun, tapi karena seluruh harganya dibayar di muka, saya jadi bolak-balik pikir-pikir dulu. Terlebih lagi saat itu penjualnya belum banyak di marketplace seperti shopee dan tokopedia. Mau cari toko resminya di Indonesia pun belum ada.

Laurier di situs klikindomaret
Singkat cerita, beberapa bulan setelah pindah ke Sydney, saya mulai melihat-lihat lagi soal menscup. Ada 2 hal yang menarik perhatian. Pertama, pilihan merk yang tersedia beragam sekali dan bisa didapatkan dengan mudah baik melalui situs resmi merknya dan juga lewat Amazon. Kedua, harganya hampir setengah harga di Indonesia! Akhirnya saya putuskan membeli Lunette yang saat itu sedang diskon dengan harga sekitar 400ribu rupiah. Senang sekali!! Oh ya, kalau di sini, harga pembalutnya cukup mahal. Untuk pembalut superslim seperti yang saya gunakan di Indonesia harga per kemasan isi 20 potong adalah AUD5.8 atau sekitar 56.000 rupiah. Jadi pengeluaran untuk pembalut di sini jadi 2 kali lipat! Makanya keputusan beralih ke menscup menjadi semakin bulat.

Libra di situs Coles
Jujur rasanya degdegan sekali ketika pertama kali mencoba. Saya membaca instruksi manualnya berulang kali begitu juga menonton video tutorialnya. Ceritanya juga sempat saya bagikan di instagram. Intinya sih, percobaan pertama tidak langsung lancar. Ada insiden menscup tidak masuk dan jatuh karena tangan terlalu gugup hahaha. Ada perasaan mengganjal karena tangkai menscup belum saya potong. Sampai akhirnya pada satu siklus itu, saya coba bandingkan dengan menggunakan pembalut biasa kembali di hari ke 3 dan 4. 

Sebagian cerita di instagram story saya

Ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi dari pengalaman 2 siklus menggunakan menstrual cup:

1. Seperti tidak sedang menstruasi. It's a freedom!

Sejujurnya ini melampaui ekspektasi. Tidak pernah terbayang kalau menggunakan menscup bisa sebegitu mentransformasi pengalaman menstruasi dari yang awalnya riweh harus berganti pembalut tiap beberapa jam sekali dan menghadapi lembab serta bau menjadi sangat ringkas. 

Menghadapi masalah penggunaan pembalut konvensional yang sama setiap bulan selama belasan tahun ya jadinya terbiasa. Namun, ketika menggunakan menstrual cup, duh, benar deh, rasanya sampai lupa kalau sedang haid. Tidak ada keribetan-keribetan harus sering ganti. Tidak ada perasaan 'mengganjal' karena lembab dan bau di bawah. Rasanya tidak pernah sebebas ini!! Percayalah, ini tidak dilebih-lebihkan. Bagi saya, rasanya mirip seperti mendapatkan kebebasan karena dulu, setiap bulan, saya harus menambah beban pikiran atas siklus menstruasi semacam "duh belum ganti pembalut, lembab" atau "duh lagi deras banget ya flow darahnya" dan pikiran pikiran 'kecil' lain yang sebenarnya mengganggu tapi kita tidak sadari karena sudah 'terbiasa'. Ketika memakai menscup, awalnya saya heran, "eh ini sedang haid? kok tidak berasa?". Aktivitas mengosongkan cup pun cukup ringkas karena sekalian mandi. Atau kalau sedang banyak, saya mengosongkan maksimum 3 kali di hari pertama saja. 

Sampai sampai terpikir, kenapa ya baru tahu sekarang? Jadi tiba tiba terpikir juga, ratusan tahun peradaban manusia modern, kenapa ya inovasi produk menstruasi minim sekali? Dan ketika ada, kenapa mahal sekali? Seumur-umur, di rak toko-toko di Indonesia, pilihan produk menstruasi yang saya lihat ya cuma pembalut itu. (Ini secara umum, ya. Bukan toko-toko high-end di pusat perbelanjaan kota-kota besar). Mungkin ya karena itu yang paling terjangkau untuk pasar kita. Tapi...masa iya setega itu dibiarkan terus menerus? Masa iya tidak ada yang menyadari keribetan menstruasi ini? 

2. Skill baru, butuh latihan

Seperti yang disebutkan di atas, percobaan pertama menggunakan menscup tidak langsung lancar. Waktu itu sempat 2-3 kali percobaan sebelum benar benar terpasang dengan baik. Namun, seperti juga skill lain dalam hidup, setelah berlatih beberapa kali, di siklus mens kedua, saya mulai paham trik trik yang bisa diterapkan. Awalnya, saya mesti menarik nafas panjang dan mensugesti diri untuk rileks, kemudian sedikit bersandar agar bisa pasang dengan lancar. Saat siklus kedua, karena sudah tidak terlalu khawatir, 'ritual'-nya jadi jauh lebih cepat. Selain itu, teknik melipat menstrual cup yang paling cocok juga sudah diketahui dari beberapa percoban siklus sebelumnya. Jadi ya tinggal lipat, tarik napas, kemudian menuntun cup masuk dan terpasang dengan baik. Begitu juga saat melepaskan, awal-awal rasanya gugup sekali karena agak risih kontak langsung antara jari dan bagian dalam vagina. Tapi setelah itu ya ketemu sendiri cara termudahnya. Kalau saya sih dengan menarik batang menscup perlahan (back and forth) sampai dasar menscup bisa di-pinch dengan ibu jari dan telunjuk. Setelah itu tinggal ditarik pelan. Pesannya, sih, tidak apa kalau pengalaman pertamanya kurang menyenangkan, please try again until you master it :)

3. Mengenali vagina sendiri

Saya kira saya paham betul bagaimana vagina saya sampai ketika mencoba menscup, ternyata saya salah! Sedikit-banyak perasaan takut dan gugup muncul saat harus meletakan tangan di bagian bawah sana, meraba, memastikan apakah cup sudah terpasang baik. Perasaannya muncul mungkin karena saya mengira bagian itu 'fragile' dan takut akan bikin sakit atau semacamnya. Tapiiii, setelah semua percobaan-percobaan itu, saya baru benar-benar paham kalau vagina sama sekali tidak se-'fragile' itu. Hahaha. Ya buktinya saja perempuan melahirkan, dijahit, dan baik baik saja!! Nah setelah itu, karena sudah mengecek sendiri ya jadi tahu dan tidak canggung atau takut lagi.

4. Manfaat tambahan: lebih ramah untuk lingkungan

Banyak orang beralih ke menscup karena poin ini sebagai alasan utama. Mungkin banyak yang sudah tahu kalau pembalut konvensional tidak bisa didaur ulang sehingga menjadi sampah yang sangat susah terurai (baca: How tampons and pads became so unsustainable). Namun, bagi saya ini lebih seperti manfaat tambahan saja karena poin utama adalah kenyamanan saat digunakan. 


Sebagai penutup (yang lagi-lagi agak nanggung), saya bisa bilang kalau keribetan berlatih di awal sangat remeh kalau dibandingkan dengan kebebasan yang didapat dari pakai menscup. So, I think you should give it a try. Semoga tulisan ini bisa jadi tambahan untuk kalian yang sedang menimbang-nimbang untuk beralih :) 

Adios!

----------

Sebagian ditulis di kampus kemudian dilanjutkan di kamar kosan. 
Kingsford, 28 June 2020 23.22

Readmore → Beralih ke Menstrual Cup

Sunday, December 29, 2019

2019: Sekali Menjadi Mahasiswa

2019 adalah tahun yang unik karena beberapa hal baru yang cukup signifikan terjadi di tahun ini. Mulai dari jalan-jalan ke Oman, magang di start-up, dan akhirnya berangkat ke Sydney untuk kuliah S2. Oh ya, 2019 saya masih suka menang giveaway! Sekali di awal tahun, voucher belanja dari Sensatia Botanicals. Kemudian sekali lagi di akhir tahun, give away hari ibu dari The Body Shop Indonesia hahahahah. Keberuntungan saya masih berlaku!!
Quadrangle, taken during my first weeks of T3 in UNSW
Highlight utamanya tentu saja pada bagian sekali lagi menjadi mahasiswa dan kali ini di luar negeri. Bagi saya, hal ini kadang masih terasa tidak nyata. Tidak pernah terbayangkan kalau saya akan kuliah S2 secepat ini, di luar negeri pula. Ah, gila sekali. Tapi sejujurnya lebih gila lagi perjuangan bertahan melewati trimester akademik pertama saya di UNSW. Meskipun kami sudah dibekali dengan sangat cukup saat Pre-Departure Training, mengalami semuanya secara langsung tetap saja sensasinya berbeda. He he. Saya berencana menulis detail cara-cara bertahan melewati trimester akademik pertama sebagai mahasiswa S2 pada post terpisah nanti. 

Akhirnya setelah semua drama personal dan akademis juga ketakutan berlebihan akan kegagalan akademis, saya berhasil melewati trimester akademik pertama sebagai mahasiswa Master of Commerce! Cukup senang, sih, meskipun tidak terlalu bangga juga karena pencapaiannya juga biasa saja. Terutama karena setelah menyelesaikan ujian akhir, saya merasa seharusnya bisa mengusahakan lebih banyak untuk hasil yang lebih memuaskan. Tapi seperti kata Bapak dan Ibu saya, ini cukup bagus sebagai permulaan dan saya pun berjanji untuk lebih bekerja lebih keras pada trimester-trimester berikutnya. 

Dengan alasan di atas, salah satu resolusi 2020 saya adalah: 
1.  Lulus dengan outstanding, mengejar High Distinction pada minimum 4 dari 6 sisa mata kuliah, untuk menantang batas diri. 
Ini cukup beralasan karena tahun 2019 saya cukup santai, memang sih hasilnya cukup baik saja, tapi rasanya ada yang kurang saat sampai di penghujung. Kurang bergelora he he.

Tidak heran sih, lihat saja resolusi 2019 kemarin, sangat...tidak seru, tidak menantang.

"Karena 2019 adalah chapter baru hidup, saya berharap 
1. Keberangkatan ke AU bisa berjalan lancar -- alhamdulillah lancar meskipun drama. tapi kenapa saya menulis ini sebagai resolusi ya? Aneh
2. Menjadi master students yang aktif dan outstanding (learn a lot of new skills in programming, to be a communicative student, get a cool internship) -- I did an internship in Waste4Change -- before I started my study -- and that's cool! Tapi no programming skills earned yet and still not that communicative although my group members said that I'm friendly :))
3. Membuat banyak koneksi baru!! -- i made some good connection, but still not as many as I expected. But then, i started to understand that I'm an introvert ._.
4. Strawsellate bisa jalan sendiri -- nah, i closed it down. this is the hardest part of 2019!! Ditutup karena Strawsellate terlalu kecil untuk diurus orang lain dan saya sayang sekali seperti anak sendiri. Jadi tidak mau sembarang titip.
5. Nonton banyak konser! --> Disiplin secara finansial: mulai menabung. (Update 13/1/2019) -- cuma nonton Rich Brian di Sydney, sudah mulai menabung meskipun masih sedikit.
6. Ke NZ -- pindah jadi akhir tahun ini.
7. Laptop baru -- sebenarnya bingung kenapa nulis ini di resolusi, padahal kan memang sudah jelas-jelas direncanakan dalam daftar belanja. 
8. Membuat program yang bermanfaat untuk kampung -- hehe, belum"
Me on UNSW 2019 T-Shirt
Selain soal akademis, di tahun 2020 saya mesti kembali memikirkan persiapan karir. Jika semuanya lancar, Desember 2020 akan menjadi akhir perkuliahan saya. Setelah itu saya akan kembali ke Indonesia untuk bekerja--setidaknya ini yang saya pikirkan saat ini. Meskipun tidak menutup diri juga untuk kemungkinan bekerja di negara lain (jika ada). Untuk saat ini, saya masih fokus pada tawaran kembali ke perusahaan lama dan juga untuk menjadi dosen. Saya berharap bisa melakukan keduanya secara bersamaan. Apakah mungkin? Tidak tahu juga sih, belum ada ancang-ancang resmi he he. 

Dengan ini, resolusi karir 2020 saya adalah:
2.  Mendapatkan pekerjaan yang gajinya cukup untuk KPR rumah (dengan periode KPR max 15 tahun).
3. Bekerja untuk perusahan/organisasi yang menghargai -- atau setidaknya tidak bertentangan -- dengan nilai-nilai pribadi saya.
4. Mendapat tawaran mengajar di kampus secara resmi.

Selanjutnya urusan senang senang. Tidak muluk-muluk, resolusi jalan-jalan 2020:
5. Mengunjungi pantai-pantai cantik di Sydney dan mengambil foto setiap pantai yang saya kunjungi. Akan dibuat kolasenya di akhir tahun 2020.
6. Mengunjungi pulau Tasmania.
7. Menghadiahi diri dengan liburan ke New Zealand setelah kelulusan.

Sepertinya itu saja sih resolusi 2020 saya. Saya berusaha untuk membuatnya se-achievable-yet-still challenging mungkin. Oh ya, resolusi tahunan ini memang rutin saya post setiap tahun sedari 2016 dan rasanya ini sangat membantu mengingat apa yang dilakukan sepanjang tahun yang lalu dan apa yang ingin dicapai selanjutnya. Iya, sebagai pengingat untuk tahun tahun berikutnya juga. 

Oh ya, kali ini saya juga tidak bercerita banyak soal tahun ini karena memang sebagian besar isinya soal kuliah lagi (dan sudah saya tulis beberapa post soal itu).

Selamat tahun baru 2020! Semoga kamu juga bersemangat menyambut 2020 ya :)
Readmore → 2019: Sekali Menjadi Mahasiswa

Wednesday, August 7, 2019

Google Webmaster Conference Bali 2019

"Seberapa sering sih kalian buka Google?"


Pertanyaan ini dilontarkan oleh Aldrich saat membuka Google Webmaster Conference Bali di Hotel Grand Mega Resort, Selasa, 6 Agustus 2019 kemarin. Saya jadi berpikir kalau setiap hari begitu bergantung dengan Google sejak baru bangun hingga sebelum tidur. Dari mencari lokasi money changer terdekat hingga nomor telepon pemadam kebakaran terdekat saat gudang kayu tetangga kami hangus beberapa minggu lalu. 

Ada berapa banyak yang juga seperti saya? Dalam presentasi pagi itu disebutkan bahwa dari 143 juta pengguna internet di Indonesia, 74% menggunakan Google Search! Awalnya, saya yang awam ini berpikir bahwa angka tersebut ya hanya angka yang besar saja, titik. Namun dari #wmcbali ini saya baru sadar bahwa angka tersebut juga berarti peluang bisnis yang sangat besar sampai-sampai Google membuat acara ini.
Sesi Diskusi Panel Google Webmaster Conference Bali 2019
Sesi Diskusi Panel #wmcbali
Webmaster Conference adalah kumpulan pemilik situs web, webmaster, dan pengembang web di Indonesia. Berinteraksi dengan praktisi SEO dan mendengar update terbaru dan web optimasi praktik terbaik dari tim Google Search. - sumber
Too much information? Hold on a second.

Jadi kemarin saya ikut #wmcbali ya sesimpel karena melihat tweet Google Indonesia.


Jujur saya, saya tidak tahu apa itu webmaster apalagi SEO. Cuma ya, karena sedang senggang, jadi saya pikir tidak ada salahnya untuk mendaftar. Eh, ternyata pendaftarannya dikonfirmasi meskipun pada kolom isian saya menulis bahwa saya newbie dan hanya ingin datang untuk melihat-lihat.

Singkatnya, dalam acara ini tim Google Search memberikan informasi mengenai update terbaru Google seperti bagaimana cara kerja Google Search saat ini sehingga para pemilik/pengembang web dapat memaksimalkan eksistensi website mereka. Hal ini sangat berguna misalnya bagi para agensi online marketing atau pengelola situs web hotel/tour di Bali.

Lalu bagaimana untuk saya yang hanya menulis blog galau dan tidak tahu apa apa soal optimasi web ini?

Meskipun banyak sekali hal teknis yang tidak saya pahami, acara ini insightful sekali. Mereka menjelaskan bagaimana cara kerja mesin pencari Google yaitu dari crawling (merangkak dari satu laman/link ke laman/link lain), kemudian indexing (hal-hal yang ditemukan dan relevan dengan pencarian kita), hingga akhirnya menampilakan informasi yang berguna untuk kita. Saat melakukan pencarian, Google bot sangat bergantung pada text yang ada pada laman tersebut. Jika kita ingin berada di laman pertama hasil pencarian (yang berarti lebih besar kemungkinan di-klik oleh pengguna dan berarti pemasukan untuk adsense atau kemungkinan konversi menjadi transaksi dan sebagainya), banyak sekali hal yang harus diperhatikan!

1. Konten, Konten, dan Konten
Apa yang mau ditampilkan kalau tidak ada konten? Itu yang pertama sih. Tim Google Search juga menjelaskan bahwa sebaiknya konten dibuat se-berguna mungkin untuk pengguna. Untuk kata kunci yang digunakan juga tidak usah lebay karena sekarang google bot sudah dapat mengenali sinonim kata. Pasti pernah kan tidak sengaja masuk ke web dengan kata kata sinonimnya diulang berkali-kali? Nah, kata kunci tersebut juga tidak usah diulang sejuta kali. Sebaiknya tulisan/konten dibuat ya senatural mungkin. Selain itu, panjang/pendek artikel juga tidak berpengaruh. 

Kita juga bisa menganalisis kata kunci apa sih yang banyak digunakan sebelum masuk ke laman kita melalui Google Search Console. Jadi kita bisa mengembangkan tulisan dengan queries seperti contoh di bawah ini.

contoh tampilan queries google search console
Tampilan Queries Google Search Console
Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan yaitu deskripsi dari post kita karena itu akan mementukan apakah user akan meng-klik laman kita atau tidak dan juga memudahkan mesin pencari untuk mengetahui keberadaan laman kita. Ini yang saya belum paham, bagaimana menuliskan metadata deskripsi. Hehehehe.

2. Optimasi Gambar dan Video
Ternyata, gambar dan video bisa diberi tag/caption dan metadata deskripsi untuk memudahkan mesin pencari mengenalinya. Untuk kamu yang punya banyak gambar berguna dan ingin dimunculkan mesin pencari, ada baiknya memberikan 'penanda' pada gambar kamu mulai dari caption, metadata, hingga judul filenya dengan deskripsi yang detail namun ringkas. Misalnya kamu punya foto nasi goreng ati ampela, google search gak akan tahu itu nasi goreng ayam atau pete atau ati ampela kecuali kamu tulis. Hal yang sama juga berlaku untuk video.

3. Kecepatan Web
Berhubung ini cukup teknikal, yang saya tangkap agak terbatas. Intinya, google search akan merekomendasikan situs web dengan kecepatan yang tinggi (parameternya berapa? saya lupa angkanya). Pemilik web harus memastikan waktu yang diperlukan user untuk masuk ke laman webnya cukup singkat dengan memperhatikan berat html, javascript, css, font, gambar dan sejenisnya. Ada satu tools yang kemarin ditunjukan untuk mensimulasikan kecepatan web berdasarkan budget berat laman. Tapi lagi lagi saya lupa. Maaf yaaaa huhu

4. Keamanan Web
Keamanan web juga menjadi salah satu faktor rekomendasi google untuk laman web. Jadi diharapkan pemilik web mulai migrasi ke https untuk keamanan. Selain itu, untuk situs statis seperti company profil juga ada baiknya pindah ke https untuk meningkatkan citra. Jujur, saya juga belum paham gimana caranya migrate. Will do learn dan migrate this site soon!

Not Secure
5. Link
Sama seperti menulis essay, orang tidak akan percaya kalau kita tidak merujuk sumber dengan otoritas yang lebih tinggi. Jadi kalau kita menulis artikel ada baiknya juga menampilkan sumber yang dikutip atau dirujuk dengan menyertakan linknya. Google juga bekerja dengan menyururi satu link ke link lain. Jadi, kalau link kita tersambung ke otoritas link yang lebih tinggi makan kemungkinan untuk naik peringkat juga lebih besar.
Duh, waktu sesi ini saya sudah lumayan tidak konsentrasi jadi nangkepnya segini aja.

6. Knowledge Box
Jika namamu/bisnismu cukup sering dicari di google dan informasi yang tersedia cukup banyak, kamu akan punya knowledge panel seperti ini di laman pencarian google. Jika sudah punya, kita bisa claim dan mulai posting/edit isi dalam post. Ini akan berguna sekali terutama untuk bisnis karena bisa meningkatkan citra brand dan juga bisa lebih mengoptimalkan pencarian di google.
Knowledge Panel Baskara Putra
Kurang lebih sekian yang saya pelajari dari #wmcbali kemarin. Tapi di luar itu, karena melihat Ci Rika dan Aldrich (dan juga Pak Alex pada masa magang saya di W4C) yang merupakan penutur aktif bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, saya jadi berpikir kalau sebenarnya besar sekali potensi kita sebagai orang Indonesia. Indonesia adalah pasar yang sangat besar, kita sebagai orang Indonesia tahu persis pasar kita seperti apa. Akan menguntungkan sekali kalau kita bisa memanfaatkan ini dengan baik, dengan apa yang kita tahu dari dunia luar juga, seperti Google misalnya. Tiba tiba saya mengurungkan mimpi untuk tinggal di New York hahahah.

Oh ya, untuk yang ingin juga datang ke Webmaster Conference Google di Jakarta bulan November nanti, bisa daftar di sini: https://events.withgoogle.com/wmcjakarta/

Semoga tulisan ini bermanfaat! :)

topi goodiebag google webmaster conference bali
Topi dari #wmcbali

Readmore → Google Webmaster Conference Bali 2019

Wednesday, July 24, 2019

Ular Tangga

Belakangan gue jadi mikir, hubungan sama seseorang itu mirip main ular tangga. Kita lempar dadu, maju, kadang nemu tangga yang ngebawa kita jadi jauhhhh lebih deket karena satu kesempatan. Kadang juga ketemu ularnya yang bikin hubungan merosot lagi padahal tadinya udah jauh banget.

Jadi gak bisa dilihat dari udah berapa lama pacarannya. Toh kita ngga pernah tahu, tahunan yang mereka lewati ternyata berkali kali juga ketemu ular yang bawa mereka ke awal terus. Sampai mungkin mereka cape, dan akhirnya berhenti main ular tangga.
Readmore → Ular Tangga

Tuesday, July 2, 2019

Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan

Beberapa waktu lalu, 14 Juni 2019, Gubernur Bali mengeluarkan Instruksi Gubernur No 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali. Isinya adalah sebagai berikut:

Namun sayang sekali, file aslinya tidak tersedia di laman resmi pemerintah provinsi Bali (http://jdih.baliprov.go.id/produk-hukum/peraturan?cat=45). Mungkin adminnya sangat sibuk.

Gubernur Bali menginstruksikan pelaksanaan program KB Krama Bali yaitu keluarga dengan 4 anak atas dasar "untuk melestarikan warisan leluhur kita". Kata-kata dalam tanda petik tersebut dikutip langsung dari pernyataan Gubernur Bali yang dapat dibaca lebih lanjut pada laman berita ini. Saya membaca beberapa artikel di media berbeda tentang instruksi gubernur (ingub) ini namun tidak mendapatkan alasan kuat kenapa label nama 'Komang' dan 'Ketut' ini menjadi begitu penting bagi Pemda Bali sehingga ibu ibu dari keluarga bali sebaiknya melahirkan 4 orang anak dan bukannya 2 orang saja sesuai dengan program KB Nasional. Dalam artikel tersebut, hal yang diutarakan para pejabat pemda ini adalah sebagai berikut:
  1. Label nama 'Komang' dan 'Ketut' hampir punah.
  2. Jumlah krama Bali mengalami stagnasi --> mengkhawatirkan untuk pariwisata karena wisata Bali bergantung pada budaya krama Bali (Kepala Disdukcapil Bali)
  3. Akan ada bantuan modal untuk peserta program KB Krama Bali (Kabid Fasilitasi KB Dukcapil Bali)
Saya benar-benar tidak mengerti apa relevansi kepunahan label nama tersebut. Apakah Bali akan kehilangan esensi budayanya ketika dua label nama tersebut berkurang? Apakah urgensi pelestarian dua label nama tersebut?

Jika kita kembali pada penjelasan-penjelasan pejabat di atas, sama sekali tidak ada alasan yang mendasar. Alasan mengenai kebergantungan pariwisata Bali terhadap pelaku budanyanya memang betul bisa diterima akal, akan tetapi, apakah dengan melipatgandakan jumlah anak akan serta-merta melestarikan budaya tersebut? Terlebih lagi, apakah kepentingan program ini sebatas untuk mempertahankan agar Bali bisa tetap hidup dari jualan tiket untuk menonton upacara adat? 

Jikapun ini adalah lagi lagi produk kebijakan populis untuk mencuri perhatian rakyat, saya rasa ini menyebalkan sekali. Pemda akan mengalokasikan sejumlah anggaran biaya untuk pelaksanaan program yang tidak jelas arah manfaatnya untuk Bali. Ingub ini bisa jadi hanya digunakan sebagai pendongkrak popularitas awal masa jabatan saja. Sebagai pembayar pajak, saya sangat keberatan.

Di sisi lain, Bali sesungguhnya tidak dalam kondisi darurat tingkat kelahiran. Menurut data BPS dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, Angka Kelahiran Total (TFR) pada tahun 2010 yaitu 2.1 yang berarti ada sejumlah 2-3 anak lahir dari seorang perempuan usia 15-49 tahun selama masa suburnya. Angka ini diprakirakan akan menurun hingga 1.73 pada tahun 2035 atau kelahiran 1-2 orang anak. Dalam artikel tersebut, entah kenapa pejabat pemda itu malah menargetkan untuk menaikkan TFR ke angka 3 di tahun 2020. padahal panduan intepretasi BPS di laman Sirusa adalah sebagai berikut.
TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah, tingkat pendidikan rendah terutama wanitanya dan tingkat sosial ekonomi rendah (tingkat kemiskinan tinggi). - intepretasi dalam sirusa BPS 
Betul, saya memang bukan pakar ilmu statistik kependudukan, tapi melihat angka angka dan penjelasan tersebut, saya jadi bingung sendiri soal arah kebijakan ini.

Selanjutnya, apa yang sedang diusahakan negara negara berkembang seperti Indonesia di seluruh dunia adalah menekan laju pertumbuhan penduduk untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. Salah satu pejabat tersebut mengemukakan bahwa hanya dengan berjualan canang (sesajen), sebuah keluarga dengan 4-6 anak dapat bertahan hidup. Namun, bagaimanakah kualitas hidup mereka saat itu? Dengan menekan laju pertumbuhan penduduk, keluarga dapat lebih fokus dalam membesarkan anak anak mereka. Kita tidak bisa tutup mata dengan kenyataan bahwa perubahan iklim dan ketahanan pangan menjadi isu besar dunia saat ini. Kenapa di pulau kecil ini kita begitu egois ingin menggandakan jumlah anak ketika seluruh dunia berusaha menekan lajunya?

Belum lagi kalau kita bicara soal penduduk Bali yang kini sudah sangat beragam suku pendatangnya. Ingub ini hanya menunjukan betapa inginnya kita menunjukan superioritas atas suku sendiri saja.

Sebagai penutup, paparan dalam video ini rasanya akan sangat membuka pikiran kita kenapa ingub ini tidak seharusnya diterbitkan.


Readmore → Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan

Saturday, June 29, 2019

Internship in Waste4Change: A Whole New Working (and Learning) Experience

I didn't have a proper short-term plan after I received my scholarship, I know. I will talk about this later in a separate post. Now, let's talk about my internship in a startup company which I did simply because I didn't know what to do after AAS Pre-Departure Training. It's my last 2 weeks now. Surprisingly, this internship has given me a lot, beyond my expectation. 

Waste4Change is a startup company focusing in waste management. They provide a range of services from company/office waste collection, event waste management, waste-related-CSR execution, to waste related studies. Some of their clients are The Body Shop (Bring Back Our Bottle program), Gojek, DBS, Bank Mandiri, BLP Beauty, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, and so many more.

I've known this company for quite long time but it was only some time ago that I followed their instagram from my online shop account. Yes! It is now related. My concern in plastic thingy was triggered by Natgeo magazine "Planet or Plastic?" edition which made me open my stainless straw online shop in instagram where I follow some eco-conscious accounts including Waste4Change. One day when I was looking for an internship, they posted the opening for some internship positions. I directly sent my application for Strategic Service Intern and here I am now.

My first day was a little bit confusing. I used to work in a manufacturing company which working time is very rigid. My previous plant, like most factories, has siren to indicate work time, break and off time while in Waste4Change my working time is literally flexible. I only need to meet my bosses couple times a week only if they need to see me. 

Back to the first day, they took us (me and Dhani, the other intern) to Waste4Change facilities. Those are the Material Recovery Facility and Composting Facility. Adin and Adhit (my bosses) explained more detail about what the company do and how they do it. In that facility, Waste4Change re-sorted the materials from their clients' offices. I noticed that the sorting was very detail, not only they sort it based on type of the materials but they also group it based on its colour! I saw the cups of coffee for Nescafe Dolce Gusto were stacked based on their colour. Some workers also sorted plastic waste from buckets of still-mixed-waste. Adin explained that sorting is crucial to ensure that only the residue goes to the landfill while other recoverable materials can go through further cycle such as recycling or composting so they can achieve circular economy.
Waste Sorting in W4C's Facility
After the tour, we started to work in a coffee shop. I didn't know that I can really work in a coffee shop because when I was in uni I always failed in doing my assignments in a coffee shop. Too many distraction. But now I CAN! Wow. At the end of the day, we met the almost full Strategic Service team. Here, once again I was very surprised that the team members can be so open in talking about the obstacles they faced on their projects and how each member responses in helping the other. Really. This team is so fluid and dynamic. I am amazed. Maybe this is because most of the members are so young that they can be so open while in my previous team it was only me and Mba Nidya. So, ya, different culture due to age difference. Hehe.

At the end of my first day, I questioned if the remote working could really work. Well, after two and half months experience, I think this method is a very convenient working method! Thanks to all those online editable documents in onedrive and google drive, whatsapp and skype. Currently I even working from my village in Bali because I no longer stayed in Jakarta. Yes! They allow me to do a fully remote job. Awesome!!
Andhani, Adin, Dwika, Adhit
During my internship, I have a full access to their project reports because my job includes making summary of the reports hehe. The good thing is that I gain a lot of new knowledge and information about waste management all around the country. From the report I just knew that a FMCG company has a real concern about their packaging waste so they conducted a values chain analysis. I also read the reports about efforts in building 3R Disposal Site all around Indonesia. I also ar noticed that some companies did the waste-management thingy just for ceremonial purposes. 

This insights have shifted my perspective about waste. Waste is not always bad, waste is not always the one to blame. Let me tell you a story..

I was so lucky that Adin let me join her project about a feasibility study for a Pyrolysis plant development in one of the provinces in Indonesia. The owner of the project is an international packaging company, they hire a consultant which choose us as their local partner. My job in this short phase of the project was to arrange meetings with the local government. I have to contacted several agencies and even the staff of the vice governor. At the beginning, based on the limited explanation and ppt of that consultant, I thought that this Pyrolisis technology is the key solution for all plastic waste thingy. But later, i read and read again while carefully listening to their presentation to the government agencies and the vice governor. I changed my mind. Yes, pyrolysis might seem promising in tackling the multilayer plastic issue (such as sachet which is usually leaked to the environment while plastic bottle and cup are already have their own recycling market), but based on what I read, it is not economically feasible now. However, the project owner seems to be very ambitious in putting this project into reality. I suddenly think that this might be just the strategy and ego of the project owner because they are the company that produce those packaging. If they can successfully deliver this project as a CSR, they will be able to sell the story to convince the market that actually their plastic is not a problem. That the plastic can be turned back into oil. However, in general, this is not economically feasible. The technology can be very expensive and the dream of solving plastic problem will be just a dream. Do you see what I mean? The project in that province MIGHT be successful because it is fully funded, but in the larger scale, will the other government able to afford that? At the end, the company will be benefited because they can put the image that the problem caused by their product can be tackled while actually the waste problem never really solved.

From the business perspective, I do aware that the company need to do efforts in order to sustain their products. Today, people are more concern about what they consume, therefore this company need to reshape their value that align with customers concern. They innovate using this CSR strategy which in one side is brilliant. They can show their concern of nature while maintaining production and profit. However, is this sustainable? This is the big question that WE must find the solutions.

This project made me really think. What is the ideal solution to this mess that can be beneficial for all parties? What do you think?
Readmore → Internship in Waste4Change: A Whole New Working (and Learning) Experience

Friday, June 14, 2019

A Note To Myself in The Past: Try More Things

Underestimating myself when I was in school and uni, then I found out that I can do beyond.

I wasn't confident for my ability in doing so many things like designing posters, winning a competition and so on. At the end, I didn't try any, I didn't know if I was good enough.

The thought of "I wouldn't win that or I'm not capable of producing that" is a real toxic back then. So, I stayed in my comfort zone. My productivity fell to the lowest point.

Until I was pushed to a position where I have to do those things. I did. I finished my essay with great feedback. I got a nice prize for my poster.

I also made several captions and visuals for my community's Instagram account. I know maybe it is not good enough if we're talking about real campaign/publication. But still, I let people see what I've made. I'm no longer ashamed of my work. I'm helping not only my community's campaign, but also myself in self acceptance and confidence.

If i could turn back time, i wish i could try more things during that time. I shouldn't be worried of those silly thoughts.

Why didn't I do it since uni? Sayang sekali. But it's not too late, right?


Readmore → A Note To Myself in The Past: Try More Things