Sunday, October 6, 2019

Belum Tidur

Saya belum bisa tidur. Sudah pukul 01.53 pagi waktu Sydney. Harusnya sudah tidur dari tadi karena besok ada banyak rencana. Pergi ke pusat kota, pekerjaan pekerjaan rumah, hingga tugas tugas kuliah.

Ini minggu kesepuluh saya di Kingsford. Sudah selesai Introductory Academic Program, sudah masuk minggu ke-4 perkuliahan, sudah submit tugas pertama yang diketik dengan susah payah karena motivasinya susah sekali terkumpul, sudah tidak dingin lagi di sini, sudah ke Auburn jadi ralawan konservasi, tapi masih kadang sedih karena beberapa hal yang sama. hehe.

Setiap kali orang bilang,"udahlah, banyak yang lain, kok." Jawaban saya masih konsisten, "waktu kalian dulu selesai memangnya langsung bisa lupa? kan saya baru dua bulan." Begitu kira-kira pembelaan saya. hehe.

Hari ini memutuskan menulis karena rasanya butuh bercerita tapi harus diakui kalau umur 25 itu teman teman di sekitar kita juga sedang susah susahnya dengan masalah masing masing. Jadi rasanya tidak adil saja kalau saya merengek minta didengarkan dan di-"puk-puk"

Oh ya, saya akhir pekan kemarin saya melakukan beberapa hal kecil yang ternyata bikin punya arah baru! Ada dua hal sebenarnya. Pertama, mulai mengirim kode kepada dosen saya di kampus lama untuk bisa diajak mengajar. hehe. 

Sebenarnya ini benar-benar tidak direncanakan sih. Jadi Jumat kemarin dosen di salah satu mata kuliah saya mengingatkan tentang pentingnya online presence bukan hanya di linkedin, tapi juga di sosial media lainnya. Beliau bilang soal biarkan orang tahu tentang dirimu sebatas yang kamu rasa nyaman dengan itu. Misalnya kalau kamu suka kucing ya, gak masalah kamu post foto kucing dan suka bahas kucing di instagram atau twittermu. (iya, ini mungkin hal yang semua orang tahu. tapi saya beberapa waktu belakangan cukup tertutup di media sosial karena takut orang lain--yang tidak saya kenal--tahu sisi lain diri saya). Kemudian di sesi tutorial, tutornya mengemukakan kalau sebenarnya komunikasi itu lebih mudah ketika kamu mengenal dirimu sebagaimana juga orang lain mengenal kamu. Authenticity. Gak ada yang salah dengan itu, bahkan di banyak kasus malah membantu.

Kemudian malamnya, entah karena angin apa, saya mengirim pesan pada rekan kerja di tempat lama. Kami tidak terhubung di instagram, tapi saya kirim direct message lewat instagram. Dia bilang, "kamu bener di australia kan dwika?" Kalimat itu membuat saya berpikir lagi, sepertinya ada yang salah ya dengan branding saya hahaha. Saya putuskan untuk upload 1 foto di feed dengan caption seadanya dengan tujuan mau mengabarkan saja kalau saya sudah di sini. naif sekali haha.

Foto tanpa intensi lebih ini ternyata menjadi tempat bagi saya dan ibu dosen di tempat lama untuk menyapa dan berbincang. Siapa sangka setelah beberapa minggu lalu saya berucap "gimana ya caranya ngode biar diajak ngajar?" ke seorang teman dekat, tiba tiba yang beliau yang muncul duluan!! Ajaib sekali.

Saya memang berencana mengajar di kampus lama sejak beberapa minggu belakangan. Tujuan hidup seperti diacak-acak. Belakangan saya bermimpi untuk menjadi pengajar paruh waktu dan tetap bekerja sebagai mba mba pabrik untuk beberapa waktu (sekalian menghabiskan sisa kontrak).

Kedua, mengirim lamaran magang ke perusahaan event untuk musim panas nanti. Saya juga sedikit bingung kenapa doyan sekali magang. Sebelum berangkat kemarin magang di Waste4Change lah, ini sekarang liburan musim panas 2 bulan juga mau dibuat magang. Tapi bukan tanpa sebab kok! Saya memang berniat belajar soal event karena mau bikin sendiri satu hari nanti, setelah lulus kuliah, mungkin. 

Sempat terpikir juga untuk tetap tinggal di Sydney selama musim panas jadi casual worker. Lumayan untuk tambah-tambah jajan. Tapi...karena saya ternyata juga oportunis, pikirannya berubah menjadi "mumpung ada kesempatan dan safety net, kenapa tidak mengerjakan hal yang kamu suka dan memang ingin coba?"

Tapi sebenarnya sih harapannya agak tipis. Saya tidak terlalu yakin email-email itu akan dibalas. Apalagi dengan kondisi tidak punya portofolio kreatif. Tapi siapa tahu? Ya, kan? Setidaknya sudah mencoba. Mana tahu saya beruntung dan Sarah Deshita mau berbaik hati membolehkan saya magang di Ismaya Live. Amin!

Ceritanya itu saja sih. Saya jadi lebih semangat buat cepat-cepat menyelesaikan kuliah sekarang. Cepat lulus, pulang dan mengejar semua hal hal menyenangkan.

Oh ya, daylight saving time sudah dimulai sejak kemarin pagi. Jam di sini jadi lebih cepat 1 jam. Beda waktu Jakarta-Sydney jadi 4 jam. Menyebalkan sekali. Waktu adalah fana teman teman!! hahaha

Selamat istirahat semua. 

Kingsford, 7 Oct 2019 02.32


Readmore → Belum Tidur

Friday, August 23, 2019

Dua Minggu di Kingsford

Ini akan menjadi tulisan yang sangat acak. Ngalor-ngidul. Kemana-mana. Saya tidak yakin apa tujuan kali ini sebenarnya. Mungkin hanya sebagai pengingat tentang perasaan yang saya alami pada dua minggu pertama di Kingsford, NSW.

Tidak banyak hal yang terjadi dua minggu ini meskipun banyak hal-hal baru yang saya lihat dan coba. Mulai dari naik bus sendirian, salah naik bus sampai nyasar di malam sedingin 12 derajat dan sepi, minum langsung dari keran, kedinginan subuh-subuh, hingga semua makanan di kampus yang porsinya adalah 2-3 kali porsi normal saya.

Di titik ini, ada banyak sekali potongan pikiran di kepala. Namun sayang, semua enggan saya elaborasi lebih lanjut. Pikiran-pikiran yang sering muncul belakangan ini:

1. Some things are better left unspoken
Hal ini berlaku untuk banyak hal. Mulai dari perasaan-perasaan mengganjal yang bikin sesak kalau dibahas, hingga curhatan-curahatan remeh yang sangat menghabiskan waktu dan tidak produktif. Pada akhirnya untuk hal seperti ini lebih baik ditinggal saja jauh jauh dalam hati, disumpal dengan lagu-lagu dari playlist pilihan spotify sambil duduk memandang keluar jendela bus. Dibicarakan atau tidak, tetap tidak ada solusinya. Meskipun saya adalah pendengar setia lagu Utarakan - Banda Neira, saya juga adalah penganut paham some things are better left unspoken sejak kuliah. hehe.


2. Saya kurang mengapresiasi musisi dan penulis novel kesukaan
Waktu-waktu di sini banyak dihabiskan sambil memutar playlist lagu-lagu yang sedari dulu saya suka maupun lagu yang baru saya dengar lagi dan kagumi belakangan. Banyak lagu yang para penciptanya buat berhasil membawa saya berpindah dari suasana hati yang kacau menjadi lebih tenang. Beberapa yang lain menemani sedih agar semakin dihayati. Ada juga menemani saya hingga tertidur atau sekadar didengarkan sembari berjalan menyusuri tangga dari ruang-ruang kelas hingga rumah. Lagu-lagu yang mereka ciptakan sangat berpengaruh dalam hari-hari saya. 

Rasanya sangat tidak adil jika saya hanya mendapat manfaat saja. Apa yang sudah saya lakukan sebagai balasan? Tidak banyak. Barang satu dua album yang dibeli dulu. Beberapa tiket konser yang bisa saya tebus. Selebihnya hanya mendengarkan rilisan digital mereka. Saya merasa bersalah. Karya mereka sangat bermakna tapi saya hanya mendengar. Saya merasa kurang menghargai proses kreatif mereka. Tahun-tahun dan hari hari yang mereka habiskan hingga berhasil keluar dengan lagu yang membuat saya memikirkan ulang berbagai hal. 

Begitu juga dengan buku buku yang mengubah pandangan hidup! Saya yakin sekali hanya orang-orang jenius yang mampu menghasilkan karya yang begitu kuat untuk pembaca/pendengarnya. Aneh sekali selama ini hanya berfokus pada karya mereka, tanpa pernah benar benar mencoba mengapresiasi mereka sebagai pembuatnya. Berapa gelas kopi yang mereka teguk untuk lembar lembar itu? Berapa juta kali mereka merasa gagal dan ingin berhenti? Seandainya mereka berhenti... untungnya tidak. 

3. 
(to be continued)
Readmore → Dua Minggu di Kingsford

Thursday, August 15, 2019

Dua Puluh Lima

Setahun lalu menulis Dua Puluh Empat sambil setengah menangis di Duta Bumi, Bekasi. Malam ini Dua Puluh Lima ditulis dari Kingsford, NSW. Kali ini tidak menangis, walaupun tadi juga sempat terbawa suasana melankolis karena entah kenapa, bagi saya, pergantian umur menjadi titik yang cukup sedih. Pikiran-pikiran soal hal-hal yang tidak berlaku sesuai harapan selalu datang di tanggal ini. 

Mungkin sebenarnya sih sekarang mengetik tanpa menangis juga karena baru saja menyempatkan mandi air hangat. Jadi sedihnya sudah hanyut bersama air sabun dan bilasan hehe.

Sebenarnya juga tadi sempat bicara di telepon, menangis sedikit, tanpa terdengar menangis, berusaha mengalihkan pembicaraan dan dengan nada baik baik saja.

Terlihat dan terdengar baik baik saja adalah hal yang beberapa waktu terakhir menjadi pilihan saya.

Dua Puluh Empat saya memilih diam dan ujungnya meledak.

Dua Puluh Lima, saya memilih menerima keadaan dan bersikap baik baik saja. Masih menangis, tapi sudah sangat mendorong ledakan agar tidak dekat-dekat.

Jika harus diberi tag, Dua Puluh Lima adalah Pengalihan.

Mengalihkan pikiran sedih pada hal lain agar tidak berlarut. Mengalihkan pembicaraan dari topik-topik yang bikin sesak hati. Mencoba memikirkan hal mendesak seperti bagaimana agar lulus kuliah di akhir 2020 dengan nilai bagus dan pekerjaan baru (atau mungkin usaha baru?).

Walaupun sebenarnya susah juga. Seringnya lebih banyak waktu dikonsumsi untuk menganalisis kejadian yang sama berkali-kali, berharap mendapat petunjuk baru. Walaupun sebelah hati sudah merelakan sepenuhnya. 

Dua Puluh Lima. Seperempat abad.

Kalaupun hidup bisa ditebak, persiapan matang pun kadang tidak cukup untuk menghadapi apa yang akan datang. 

Semoga tahun depan saya menulis Dua Puluh Enam dengan tawa dan suka cita.

Lebih penting lagi, semoga masih ada umur dan sehat untuk menulis Dua Puluh Enam.


Kingsford, 15 Agustus 2019 23.45
Readmore → Dua Puluh Lima

Monday, August 12, 2019

Tanpa Judul

Patah hati memang selalu sedih, tapi jadi lebih sedih lagi ketika waktunya tepat semalam sebelum keberangkatan ke benua seberang. Sebenarnya hari itu rasanya tidak nyata, jadi bingung juga untuk menangis kencang kencang. Cuma sedikit. Kemudian mencoba kembali kepada kenyataan untuk harus bersiap siap berangkat. Memasang muka baik baik saja biar semua tenang. Dan berhasil.

Kingsford Smith Airport cukup dingin pagi itu, tapi masih tertahankan meskipun hanya pakai hoodie biasa. Semua yang harus dilakukan hari itu juga terselesaikan. Mengurus ketibaan, pergi ke bank, dan segala hal soal perkampusan. Kemudian pulang ke kamar sewaan di seberang universitas.

Melewati satu hari dengan baik rupanya tidak semerta-merta berarti perasaan sudah baik baik saja. Kombinasi adaptasi di lingkungan asing dengan bahasa yang berbeda dan perkara patah hati, harus diakui ini menyebalkan. Malas keluar kamar, malas bertemu manusia lain. Pergi hanya seperlunya, jika harus inspeksi kamar lain. Selebihnya bersembunyi di balik dua lapis selimut untuk mengakali dinginnya Kingsford yang kadang sampai 10 derajat rasa 7 derajat di malam hari.

Kupikir aku sudah baik baik saja hari ini. Tapi rasanya tetap aneh. Argh.
---

tiga belas dua delapan.
sebenarnya hari ini lebih hangat dari beberapa hari sebelumnya. jalanan di kingsford tetap saja sepi. hanya mobil-mobil yang ramai parkir di bahu jalan. tempat ini tidak terlihat seperti kota besar, apalagi hiruk pikuk seperti Jakarta.

namun lain di kampus, ramai orang lalu lalang. rasanya sedikit aneh bahwa lebih banyak mahasiswa cina dan mereka bercakap dengan bahasa cina di sepanjang jalan dan sudut-sudut kampus. benar ini sydney?

bahkan penunggu lantai atas kamar yang saya sewa pun dua orang cina. eh, atau korea?

duduk di serambi kampus ternyata cukup menenangkan. melihat orang lalu lalang, memperhatikan mereka yang berbaring di hijau rumput quadrangle untuk menyerap panas matahari.

angin baru saja berhembus lagi, begitu juga dengan dingin yang sekarang menangkap telapak tangan saya. tapi tetap harus disyukuri bahwa angin tidak segalak kemarin. hari ini dia lebih tenang. mungkin ia paham.


Readmore → Tanpa Judul

Wednesday, August 7, 2019

Google Webmaster Conference Bali 2019

"Seberapa sering sih kalian buka Google?"


Pertanyaan ini dilontarkan oleh Aldrich saat membuka Google Webmaster Conference Bali di Hotel Grand Mega Resort, Selasa, 6 Agustus 2019 kemarin. Saya jadi berpikir kalau setiap hari begitu bergantung dengan Google sejak baru bangun hingga sebelum tidur. Dari mencari lokasi money changer terdekat hingga nomor telepon pemadam kebakaran terdekat saat gudang kayu tetangga kami hangus beberapa minggu lalu. 

Ada berapa banyak yang juga seperti saya? Dalam presentasi pagi itu disebutkan bahwa dari 143 juta pengguna internet di Indonesia, 74% menggunakan Google Search! Awalnya, saya yang awam ini berpikir bahwa angka tersebut ya hanya angka yang besar saja, titik. Namun dari #wmcbali ini saya baru sadar bahwa angka tersebut juga berarti peluang bisnis yang sangat besar sampai-sampai Google membuat acara ini.
Sesi Diskusi Panel Google Webmaster Conference Bali 2019
Sesi Diskusi Panel #wmcbali
Webmaster Conference adalah kumpulan pemilik situs web, webmaster, dan pengembang web di Indonesia. Berinteraksi dengan praktisi SEO dan mendengar update terbaru dan web optimasi praktik terbaik dari tim Google Search. - sumber
Too much information? Hold on a second.

Jadi kemarin saya ikut #wmcbali ya sesimpel karena melihat tweet Google Indonesia.


Jujur saya, saya tidak tahu apa itu webmaster apalagi SEO. Cuma ya, karena sedang senggang, jadi saya pikir tidak ada salahnya untuk mendaftar. Eh, ternyata pendaftarannya dikonfirmasi meskipun pada kolom isian saya menulis bahwa saya newbie dan hanya ingin datang untuk melihat-lihat.

Singkatnya, dalam acara ini tim Google Search memberikan informasi mengenai update terbaru Google seperti bagaimana cara kerja Google Search saat ini sehingga para pemilik/pengembang web dapat memaksimalkan eksistensi website mereka. Hal ini sangat berguna misalnya bagi para agensi online marketing atau pengelola situs web hotel/tour di Bali.

Lalu bagaimana untuk saya yang hanya menulis blog galau dan tidak tahu apa apa soal optimasi web ini?

Meskipun banyak sekali hal teknis yang tidak saya pahami, acara ini insightful sekali. Mereka menjelaskan bagaimana cara kerja mesin pencari Google yaitu dari crawling (merangkak dari satu laman/link ke laman/link lain), kemudian indexing (hal-hal yang ditemukan dan relevan dengan pencarian kita), hingga akhirnya menampilakan informasi yang berguna untuk kita. Saat melakukan pencarian, Google bot sangat bergantung pada text yang ada pada laman tersebut. Jika kita ingin berada di laman pertama hasil pencarian (yang berarti lebih besar kemungkinan di-klik oleh pengguna dan berarti pemasukan untuk adsense atau kemungkinan konversi menjadi transaksi dan sebagainya), banyak sekali hal yang harus diperhatikan!

1. Konten, Konten, dan Konten
Apa yang mau ditampilkan kalau tidak ada konten? Itu yang pertama sih. Tim Google Search juga menjelaskan bahwa sebaiknya konten dibuat se-berguna mungkin untuk pengguna. Untuk kata kunci yang digunakan juga tidak usah lebay karena sekarang google bot sudah dapat mengenali sinonim kata. Pasti pernah kan tidak sengaja masuk ke web dengan kata kata sinonimnya diulang berkali-kali? Nah, kata kunci tersebut juga tidak usah diulang sejuta kali. Sebaiknya tulisan/konten dibuat ya senatural mungkin. Selain itu, panjang/pendek artikel juga tidak berpengaruh. 

Kita juga bisa menganalisis kata kunci apa sih yang banyak digunakan sebelum masuk ke laman kita melalui Google Search Console. Jadi kita bisa mengembangkan tulisan dengan queries seperti contoh di bawah ini.

contoh tampilan queries google search console
Tampilan Queries Google Search Console
Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan yaitu deskripsi dari post kita karena itu akan mementukan apakah user akan meng-klik laman kita atau tidak dan juga memudahkan mesin pencari untuk mengetahui keberadaan laman kita. Ini yang saya belum paham, bagaimana menuliskan metadata deskripsi. Hehehehe.

2. Optimasi Gambar dan Video
Ternyata, gambar dan video bisa diberi tag/caption dan metadata deskripsi untuk memudahkan mesin pencari mengenalinya. Untuk kamu yang punya banyak gambar berguna dan ingin dimunculkan mesin pencari, ada baiknya memberikan 'penanda' pada gambar kamu mulai dari caption, metadata, hingga judul filenya dengan deskripsi yang detail namun ringkas. Misalnya kamu punya foto nasi goreng ati ampela, google search gak akan tahu itu nasi goreng ayam atau pete atau ati ampela kecuali kamu tulis. Hal yang sama juga berlaku untuk video.

3. Kecepatan Web
Berhubung ini cukup teknikal, yang saya tangkap agak terbatas. Intinya, google search akan merekomendasikan situs web dengan kecepatan yang tinggi (parameternya berapa? saya lupa angkanya). Pemilik web harus memastikan waktu yang diperlukan user untuk masuk ke laman webnya cukup singkat dengan memperhatikan berat html, javascript, css, font, gambar dan sejenisnya. Ada satu tools yang kemarin ditunjukan untuk mensimulasikan kecepatan web berdasarkan budget berat laman. Tapi lagi lagi saya lupa. Maaf yaaaa huhu

4. Keamanan Web
Keamanan web juga menjadi salah satu faktor rekomendasi google untuk laman web. Jadi diharapkan pemilik web mulai migrasi ke https untuk keamanan. Selain itu, untuk situs statis seperti company profil juga ada baiknya pindah ke https untuk meningkatkan citra. Jujur, saya juga belum paham gimana caranya migrate. Will do learn dan migrate this site soon!

Not Secure
5. Link
Sama seperti menulis essay, orang tidak akan percaya kalau kita tidak merujuk sumber dengan otoritas yang lebih tinggi. Jadi kalau kita menulis artikel ada baiknya juga menampilkan sumber yang dikutip atau dirujuk dengan menyertakan linknya. Google juga bekerja dengan menyururi satu link ke link lain. Jadi, kalau link kita tersambung ke otoritas link yang lebih tinggi makan kemungkinan untuk naik peringkat juga lebih besar.
Duh, waktu sesi ini saya sudah lumayan tidak konsentrasi jadi nangkepnya segini aja.

6. Knowledge Box
Jika namamu/bisnismu cukup sering dicari di google dan informasi yang tersedia cukup banyak, kamu akan punya knowledge panel seperti ini di laman pencarian google. Jika sudah punya, kita bisa claim dan mulai posting/edit isi dalam post. Ini akan berguna sekali terutama untuk bisnis karena bisa meningkatkan citra brand dan juga bisa lebih mengoptimalkan pencarian di google.
Knowledge Panel Baskara Putra
Kurang lebih sekian yang saya pelajari dari #wmcbali kemarin. Tapi di luar itu, karena melihat Ci Rika dan Aldrich (dan juga Pak Alex pada masa magang saya di W4C) yang merupakan penutur aktif bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, saya jadi berpikir kalau sebenarnya besar sekali potensi kita sebagai orang Indonesia. Indonesia adalah pasar yang sangat besar, kita sebagai orang Indonesia tahu persis pasar kita seperti apa. Akan menguntungkan sekali kalau kita bisa memanfaatkan ini dengan baik, dengan apa yang kita tahu dari dunia luar juga, seperti Google misalnya. Tiba tiba saya mengurungkan mimpi untuk tinggal di New York hahahah.

Oh ya, untuk yang ingin juga datang ke Webmaster Conference Google di Jakarta bulan November nanti, bisa daftar di sini: https://events.withgoogle.com/wmcjakarta/

Semoga tulisan ini bermanfaat! :)

topi goodiebag google webmaster conference bali
Topi dari #wmcbali

Readmore → Google Webmaster Conference Bali 2019

Wednesday, July 24, 2019

Ular Tangga

Belakangan gue jadi mikir, hubungan sama seseorang itu mirip main ular tangga. Kita lempar dadu, maju, kadang nemu tangga yang ngebawa kita jadi jauhhhh lebih deket karena satu kesempatan. Kadang juga ketemu ularnya yang bikin hubungan merosot lagi padahal tadinya udah jauh banget.

Jadi gak bisa dilihat dari udah berapa lama pacarannya. Toh kita ngga pernah tahu, tahunan yang mereka lewati ternyata berkali kali juga ketemu ular yang bawa mereka ke awal terus. Sampai mungkin mereka cape, dan akhirnya berhenti main ular tangga.
Readmore → Ular Tangga

Tuesday, July 2, 2019

Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan

Beberapa waktu lalu, 14 Juni 2019, Gubernur Bali mengeluarkan Instruksi Gubernur No 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali. Isinya adalah sebagai berikut:

Namun sayang sekali, file aslinya tidak tersedia di laman resmi pemerintah provinsi Bali (http://jdih.baliprov.go.id/produk-hukum/peraturan?cat=45). Mungkin adminnya sangat sibuk.

Gubernur Bali menginstruksikan pelaksanaan program KB Krama Bali yaitu keluarga dengan 4 anak atas dasar "untuk melestarikan warisan leluhur kita". Kata-kata dalam tanda petik tersebut dikutip langsung dari pernyataan Gubernur Bali yang dapat dibaca lebih lanjut pada laman berita ini. Saya membaca beberapa artikel di media berbeda tentang instruksi gubernur (ingub) ini namun tidak mendapatkan alasan kuat kenapa label nama 'Komang' dan 'Ketut' ini menjadi begitu penting bagi Pemda Bali sehingga ibu ibu dari keluarga bali sebaiknya melahirkan 4 orang anak dan bukannya 2 orang saja sesuai dengan program KB Nasional. Dalam artikel tersebut, hal yang diutarakan para pejabat pemda ini adalah sebagai berikut:
  1. Label nama 'Komang' dan 'Ketut' hampir punah.
  2. Jumlah krama Bali mengalami stagnasi --> mengkhawatirkan untuk pariwisata karena wisata Bali bergantung pada budaya krama Bali (Kepala Disdukcapil Bali)
  3. Akan ada bantuan modal untuk peserta program KB Krama Bali (Kabid Fasilitasi KB Dukcapil Bali)
Saya benar-benar tidak mengerti apa relevansi kepunahan label nama tersebut. Apakah Bali akan kehilangan esensi budayanya ketika dua label nama tersebut berkurang? Apakah urgensi pelestarian dua label nama tersebut?

Jika kita kembali pada penjelasan-penjelasan pejabat di atas, sama sekali tidak ada alasan yang mendasar. Alasan mengenai kebergantungan pariwisata Bali terhadap pelaku budanyanya memang betul bisa diterima akal, akan tetapi, apakah dengan melipatgandakan jumlah anak akan serta-merta melestarikan budaya tersebut? Terlebih lagi, apakah kepentingan program ini sebatas untuk mempertahankan agar Bali bisa tetap hidup dari jualan tiket untuk menonton upacara adat? 

Jikapun ini adalah lagi lagi produk kebijakan populis untuk mencuri perhatian rakyat, saya rasa ini menyebalkan sekali. Pemda akan mengalokasikan sejumlah anggaran biaya untuk pelaksanaan program yang tidak jelas arah manfaatnya untuk Bali. Ingub ini bisa jadi hanya digunakan sebagai pendongkrak popularitas awal masa jabatan saja. Sebagai pembayar pajak, saya sangat keberatan.

Di sisi lain, Bali sesungguhnya tidak dalam kondisi darurat tingkat kelahiran. Menurut data BPS dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, Angka Kelahiran Total (TFR) pada tahun 2010 yaitu 2.1 yang berarti ada sejumlah 2-3 anak lahir dari seorang perempuan usia 15-49 tahun selama masa suburnya. Angka ini diprakirakan akan menurun hingga 1.73 pada tahun 2035 atau kelahiran 1-2 orang anak. Dalam artikel tersebut, entah kenapa pejabat pemda itu malah menargetkan untuk menaikkan TFR ke angka 3 di tahun 2020. padahal panduan intepretasi BPS di laman Sirusa adalah sebagai berikut.
TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah, tingkat pendidikan rendah terutama wanitanya dan tingkat sosial ekonomi rendah (tingkat kemiskinan tinggi). - intepretasi dalam sirusa BPS 
Betul, saya memang bukan pakar ilmu statistik kependudukan, tapi melihat angka angka dan penjelasan tersebut, saya jadi bingung sendiri soal arah kebijakan ini.

Selanjutnya, apa yang sedang diusahakan negara negara berkembang seperti Indonesia di seluruh dunia adalah menekan laju pertumbuhan penduduk untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. Salah satu pejabat tersebut mengemukakan bahwa hanya dengan berjualan canang (sesajen), sebuah keluarga dengan 4-6 anak dapat bertahan hidup. Namun, bagaimanakah kualitas hidup mereka saat itu? Dengan menekan laju pertumbuhan penduduk, keluarga dapat lebih fokus dalam membesarkan anak anak mereka. Kita tidak bisa tutup mata dengan kenyataan bahwa perubahan iklim dan ketahanan pangan menjadi isu besar dunia saat ini. Kenapa di pulau kecil ini kita begitu egois ingin menggandakan jumlah anak ketika seluruh dunia berusaha menekan lajunya?

Belum lagi kalau kita bicara soal penduduk Bali yang kini sudah sangat beragam suku pendatangnya. Ingub ini hanya menunjukan betapa inginnya kita menunjukan superioritas atas suku sendiri saja.

Sebagai penutup, paparan dalam video ini rasanya akan sangat membuka pikiran kita kenapa ingub ini tidak seharusnya diterbitkan.


Readmore → Instruksi Gubernur Bali No 1545 Tidak Seharusnya Diterbitkan

Saturday, June 29, 2019

Internship in Waste4Change: A Whole New Working (and Learning) Experience

I didn't have a proper short-term plan after I received my scholarship, I know. I will talk about this later in a separate post. Now, let's talk about my internship in a startup company which I did simply because I didn't know what to do after AAS Pre-Departure Training. It's my last 2 weeks now. Surprisingly, this internship has given me a lot, beyond my expectation. 

Waste4Change is a startup company focusing in waste management. They provide a range of services from company/office waste collection, event waste management, waste-related-CSR execution, to waste related studies. Some of their clients are The Body Shop (Bring Back Our Bottle program), Gojek, DBS, Bank Mandiri, BLP Beauty, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, and so many more.

I've known this company for quite long time but it was only some time ago that I followed their instagram from my online shop account. Yes! It is now related. My concern in plastic thingy was triggered by Natgeo magazine "Planet or Plastic?" edition which made me open my stainless straw online shop in instagram where I follow some eco-conscious accounts including Waste4Change. One day when I was looking for an internship, they posted the opening for some internship positions. I directly sent my application for Strategic Service Intern and here I am now.

My first day was a little bit confusing. I used to work in a manufacturing company which working time is very rigid. My previous plant, like most factories, has siren to indicate work time, break and off time while in Waste4Change my working time is literally flexible. I only need to meet my bosses couple times a week only if they need to see me. 

Back to the first day, they took us (me and Dhani, the other intern) to Waste4Change facilities. Those are the Material Recovery Facility and Composting Facility. Adin and Adhit (my bosses) explained more detail about what the company do and how they do it. In that facility, Waste4Change re-sorted the materials from their clients' offices. I noticed that the sorting was very detail, not only they sort it based on type of the materials but they also group it based on its colour! I saw the cups of coffee for Nescafe Dolce Gusto were stacked based on their colour. Some workers also sorted plastic waste from buckets of still-mixed-waste. Adin explained that sorting is crucial to ensure that only the residue goes to the landfill while other recoverable materials can go through further cycle such as recycling or composting so they can achieve circular economy.
Waste Sorting in W4C's Facility
After the tour, we started to work in a coffee shop. I didn't know that I can really work in a coffee shop because when I was in uni I always failed in doing my assignments in a coffee shop. Too many distraction. But now I CAN! Wow. At the end of the day, we met the almost full Strategic Service team. Here, once again I was very surprised that the team members can be so open in talking about the obstacles they faced on their projects and how each member responses in helping the other. Really. This team is so fluid and dynamic. I am amazed. Maybe this is because most of the members are so young that they can be so open while in my previous team it was only me and Mba Nidya. So, ya, different culture due to age difference. Hehe.

At the end of my first day, I questioned if the remote working could really work. Well, after two and half months experience, I think this method is a very convenient working method! Thanks to all those online editable documents in onedrive and google drive, whatsapp and skype. Currently I even working from my village in Bali because I no longer stayed in Jakarta. Yes! They allow me to do a fully remote job. Awesome!!
Andhani, Adin, Dwika, Adhit
During my internship, I have a full access to their project reports because my job includes making summary of the reports hehe. The good thing is that I gain a lot of new knowledge and information about waste management all around the country. From the report I just knew that a FMCG company has a real concern about their packaging waste so they conducted a values chain analysis. I also read the reports about efforts in building 3R Disposal Site all around Indonesia. I also ar noticed that some companies did the waste-management thingy just for ceremonial purposes. 

This insights have shifted my perspective about waste. Waste is not always bad, waste is not always the one to blame. Let me tell you a story..

I was so lucky that Adin let me join her project about a feasibility study for a Pyrolysis plant development in one of the provinces in Indonesia. The owner of the project is an international packaging company, they hire a consultant which choose us as their local partner. My job in this short phase of the project was to arrange meetings with the local government. I have to contacted several agencies and even the staff of the vice governor. At the beginning, based on the limited explanation and ppt of that consultant, I thought that this Pyrolisis technology is the key solution for all plastic waste thingy. But later, i read and read again while carefully listening to their presentation to the government agencies and the vice governor. I changed my mind. Yes, pyrolysis might seem promising in tackling the multilayer plastic issue (such as sachet which is usually leaked to the environment while plastic bottle and cup are already have their own recycling market), but based on what I read, it is not economically feasible now. However, the project owner seems to be very ambitious in putting this project into reality. I suddenly think that this might be just the strategy and ego of the project owner because they are the company that produce those packaging. If they can successfully deliver this project as a CSR, they will be able to sell the story to convince the market that actually their plastic is not a problem. That the plastic can be turned back into oil. However, in general, this is not economically feasible. The technology can be very expensive and the dream of solving plastic problem will be just a dream. Do you see what I mean? The project in that province MIGHT be successful because it is fully funded, but in the larger scale, will the other government able to afford that? At the end, the company will be benefited because they can put the image that the problem caused by their product can be tackled while actually the waste problem never really solved.

From the business perspective, I do aware that the company need to do efforts in order to sustain their products. Today, people are more concern about what they consume, therefore this company need to reshape their value that align with customers concern. They innovate using this CSR strategy which in one side is brilliant. They can show their concern of nature while maintaining production and profit. However, is this sustainable? This is the big question that WE must find the solutions.

This project made me really think. What is the ideal solution to this mess that can be beneficial for all parties? What do you think?
Readmore → Internship in Waste4Change: A Whole New Working (and Learning) Experience