Friday, August 23, 2019

Dua Minggu di Kingsford

Ini akan menjadi tulisan yang sangat acak. Ngalor-ngidul. Kemana-mana. Saya tidak yakin apa tujuan kali ini sebenarnya. Mungkin hanya sebagai pengingat tentang perasaan yang saya alami pada dua minggu pertama di Kingsford, NSW.

Tidak banyak hal yang terjadi dua minggu ini meskipun banyak hal-hal baru yang saya lihat dan coba. Mulai dari naik bus sendirian, salah naik bus sampai nyasar di malam sedingin 12 derajat dan sepi, minum langsung dari keran, kedinginan subuh-subuh, hingga semua makanan di kampus yang porsinya adalah 2-3 kali porsi normal saya.

Di titik ini, ada banyak sekali potongan pikiran di kepala. Namun sayang, semua enggan saya elaborasi lebih lanjut. Pikiran-pikiran yang sering muncul belakangan ini:

1. Some things are better left unspoken
Hal ini berlaku untuk banyak hal. Mulai dari perasaan-perasaan mengganjal yang bikin sesak kalau dibahas, hingga curhatan-curahatan remeh yang sangat menghabiskan waktu dan tidak produktif. Pada akhirnya untuk hal seperti ini lebih baik ditinggal saja jauh jauh dalam hati, disumpal dengan lagu-lagu dari playlist pilihan spotify sambil duduk memandang keluar jendela bus. Dibicarakan atau tidak, tetap tidak ada solusinya. Meskipun saya adalah pendengar setia lagu Utarakan - Banda Neira, saya juga adalah penganut paham some things are better left unspoken sejak kuliah. hehe.


2. Saya kurang mengapresiasi musisi dan penulis novel kesukaan
Waktu-waktu di sini banyak dihabiskan sambil memutar playlist lagu-lagu yang sedari dulu saya suka maupun lagu yang baru saya dengar lagi dan kagumi belakangan. Banyak lagu yang para penciptanya buat berhasil membawa saya berpindah dari suasana hati yang kacau menjadi lebih tenang. Beberapa yang lain menemani sedih agar semakin dihayati. Ada juga menemani saya hingga tertidur atau sekadar didengarkan sembari berjalan menyusuri tangga dari ruang-ruang kelas hingga rumah. Lagu-lagu yang mereka ciptakan sangat berpengaruh dalam hari-hari saya. 

Rasanya sangat tidak adil jika saya hanya mendapat manfaat saja. Apa yang sudah saya lakukan sebagai balasan? Tidak banyak. Barang satu dua album yang dibeli dulu. Beberapa tiket konser yang bisa saya tebus. Selebihnya hanya mendengarkan rilisan digital mereka. Saya merasa bersalah. Karya mereka sangat bermakna tapi saya hanya mendengar. Saya merasa kurang menghargai proses kreatif mereka. Tahun-tahun dan hari hari yang mereka habiskan hingga berhasil keluar dengan lagu yang membuat saya memikirkan ulang berbagai hal. 

Begitu juga dengan buku buku yang mengubah pandangan hidup! Saya yakin sekali hanya orang-orang jenius yang mampu menghasilkan karya yang begitu kuat untuk pembaca/pendengarnya. Aneh sekali selama ini hanya berfokus pada karya mereka, tanpa pernah benar benar mencoba mengapresiasi mereka sebagai pembuatnya. Berapa gelas kopi yang mereka teguk untuk lembar lembar itu? Berapa juta kali mereka merasa gagal dan ingin berhenti? Seandainya mereka berhenti... untungnya tidak. 

3. 
(to be continued)

No comments:

Post a Comment