Thursday, August 15, 2019

Dua Puluh Lima

Setahun lalu menulis Dua Puluh Empat sambil setengah menangis di Duta Bumi, Bekasi. Malam ini Dua Puluh Lima ditulis dari Kingsford, NSW. Kali ini tidak menangis, walaupun tadi juga sempat terbawa suasana melankolis karena entah kenapa, bagi saya, pergantian umur menjadi titik yang cukup sedih. Pikiran-pikiran soal hal-hal yang tidak berlaku sesuai harapan selalu datang di tanggal ini. 

Mungkin sebenarnya sih sekarang mengetik tanpa menangis juga karena baru saja menyempatkan mandi air hangat. Jadi sedihnya sudah hanyut bersama air sabun dan bilasan hehe.

Sebenarnya juga tadi sempat bicara di telepon, menangis sedikit, tanpa terdengar menangis, berusaha mengalihkan pembicaraan dan dengan nada baik baik saja.

Terlihat dan terdengar baik baik saja adalah hal yang beberapa waktu terakhir menjadi pilihan saya.

Dua Puluh Empat saya memilih diam dan ujungnya meledak.

Dua Puluh Lima, saya memilih menerima keadaan dan bersikap baik baik saja. Masih menangis, tapi sudah sangat mendorong ledakan agar tidak dekat-dekat.

Jika harus diberi tag, Dua Puluh Lima adalah Pengalihan.

Mengalihkan pikiran sedih pada hal lain agar tidak berlarut. Mengalihkan pembicaraan dari topik-topik yang bikin sesak hati. Mencoba memikirkan hal mendesak seperti bagaimana agar lulus kuliah di akhir 2020 dengan nilai bagus dan pekerjaan baru (atau mungkin usaha baru?).

Walaupun sebenarnya susah juga. Seringnya lebih banyak waktu dikonsumsi untuk menganalisis kejadian yang sama berkali-kali, berharap mendapat petunjuk baru. Walaupun sebelah hati sudah merelakan sepenuhnya. 

Dua Puluh Lima. Seperempat abad.

Kalaupun hidup bisa ditebak, persiapan matang pun kadang tidak cukup untuk menghadapi apa yang akan datang. 

Semoga tahun depan saya menulis Dua Puluh Enam dengan tawa dan suka cita.

Lebih penting lagi, semoga masih ada umur dan sehat untuk menulis Dua Puluh Enam.


Kingsford, 15 Agustus 2019 23.45

No comments:

Post a Comment